Barokah Cium Tangan Pak Haji (Bagian 1)

Kiai Nuril Huda tidak pernah terpikir untuk bisa melakukan Ibadah Haji. Perekonomian keluarganya yang pas-pasan membuat laki-laki kelahiran 76 tahun lalu ini membuatnya pesimistis untuk melakukan ibadah haji.

“Dulu saya tidak memiliki mimpi untuk melakukan haji. Karena (biayanya) sangat mahal,” ujar salah seorang Tokoh NU ini kepada Republika saat ditemui di kantor PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia mata dia, ibadah haji membutuhkan biaya yang jauh dari jangkauannya.

Namun di sisi lain, orang tuanya selalu menanamkan harapan di dalam hatinya, agar dia berangkat ke tanah suci. Dorongan semangat itu terus ditanamkan kepadanya. Sehingga tanpa dia sadari, keinginannya beribadah di rumah Allah SWT tertanam kuat di dalam hatinya.

Dia bercerita, saat dia kecil, ayahnya berpesan, agar dia mendatangi orang yang baru datang dari tanah suci untuk meminta doa.

“Nak, kalau kamu ingin berangkat haji, minta doakan sama orang yang baru datang haji,” ujar dia menirukan kalimat ayahnya waktu itu.

Nuril menyatakan, ayahnya begitu yakin bahwa doa orang yang baru datang dari Tanah Suci  dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab saat seseorang berangkat berhaji, dosanya dihapus oleh Allah SWT.

Sejak saat itu, Nuril mengaku, aktif mendatang rumah orang yang baru datang dari Makkah, untuk sekedar meminta doa agar bisa berhaji.

“Sejak saat itu, saya sering datang ke rumah orang yang datang haji untuk minta doa,” kata dia.

Pada tahun 1947, saat dia masih sembilan tahun dan nyantri di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, dia mendengar ada orang yang baru datang dari Makkah usai beribadah haji.

Rumah haji yang baru datang itu berlokasi di Desa Tanggungan, Sukodadi, Lamongan. Sementara Langitan dan Sukodadi terpisah oleh jarak sepanjang 13 kilometer.

Mendengar hal itu, dia mengajak satu temannya untuk mendatangi rumah haji tersebut. “Saya jalan kaki 13 kilometer bolak-balik,” kata dia.

Sesampainya di rumah haji tersebut, ratusan orang telah datang dan membuat antrian untuk bersalaman dengannya. Tanpa berpikir panjang, dia sendiri mengaku masuk kedalam antrean untuk salaman dan minta didoakan.

Sementara itu, sang haji yang mengenakan jubah dan surban putih, telah duduk di atas kursi menyediakan tangannya untuk dicium ratusan orang orang secara bergantian. Semua orang yang datang tanpa memandang usia mencium tangannya dan meminta didoakan.

Pada tahun itu, kata Nuril, jumlah orang yang melakukan ibadah haji se-Kabupaten Lamongan hanya tujuh orang.

Setibanya giliran dia di hadapan sang haji, dia langsung meraih tangannya dan menciumnya berkali kali, lalu meminta didoakan agar bisa berangkat haji. Haji yang gagah di atas kursinya tersenyum melihat anak barusia sembilan tahun datang dari jauh dan meminta doa kepadanya.

“Iya saya doakan,” kata Nuril menirukan sang haji.

 

sumber: Republika Online