kurban untuk mayit

Berkurban untuk Mayit Bisakah?

Pertanyaan:

Maaf apa bisa kita berqurban untuk yg sudah meninggal ustadz. Selama ini salah saya satu kambing buat seorang…yg sudah meninggal..terima kasih pencerahannya ustadz.

Dari: Ibu Imas di Bogor

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Jika kita memperhatikan praktek kurban yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka berkurban untuk mereka sendiri dan keluarga mereka, terutama yang masih hidup. Adapun anggapan sebagian masyarakat bahwa kurban dapat diniatkan secara khusus atau mandiri kepada mayit, ini -mohon maaf- tidak ada dalilnya.

Kemudian bagaimanakah cara yang tepat berkurban untuk keluarga yang sudah meninggal?

Ada tiga macam berkurban untuk mayit:

Pertama, meniatkan mereka dalam kurban kita bersama niat kurban kita untuk keluarga yang masih hidup.

Misalnya, kurban kambing diniatkan untuk kakek yang sudah meninggal, dibarengkan dengan niat kurban untuk ortu, anak-anak, dan kerabat yang masih hidup lainnya. Ini boleh dan pahalanya insyaAllah sampai kepada mayit.

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau menyembelih hewan kurban,

باسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد

“Bismillah, Ya Allah, terimalah pahala kurban ini sebagai kurban dariku dan keluargaku.” (HR. Muslim)

Kedua, berkurban untuk mayit dalam rangka menjalankan wasiatnya.

Maka ini hukumnya wajib ditunaikan dan pahalanya sampai kepada mayit. Karena wasiat adalah amanah. 

Dasarnya adalah firman Allah ta’ala, 

فَمَنۢ بَدَّلَهُۥ بَعۡدَ مَا سَمِعَهُۥ فَإِنَّمَآ إِثۡمُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

“Siapa mengubahnya (wasiat itu), setelah mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya hanya bagi orang yang mengubahnya. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 181)

Ketiga, meniatkan kurban untuk mayit secara mandiri. 

Misal seorang meniatkan kurbannya untuk ortunya yang sudah meninggal. Tanpa mengikutsertakan kerabat yang masih hidup dalam niat kurbannya atau bukan pula karena wasiat.

Tentang sampai tidaknya pahala kepada mayit untuk kurban jenis ini, ada perbedaan pendapat ulama:

[1] Menurut ulama mazhab Hambali dan jumhur ulama (mayoritas), pahalanya bisa sampai. Dasar mereka adalah qiyas (analogi) dengan sampainya pahala sedekah atas nama mayit.

[2] Mazhab Syafi’i berpendapat, pahala tidak sampai.

[3] Mazhab Maliki mengatakan, makruh.

(https://www.islamweb.net/ar/fatwa/93307/)

Pendapat yang kuat adalah, -wallahu a’lam- pendapat Mazhab Syafi’i, yang menyatakan bahwa jika tidak digabungkan dengan niat kurban untuk orang yang masih hidup, atau mayit tidak mewasiatkan, maka pahala tidak sampai.

Dasarnya adalah, Nabi ﷺ ketika beliau kurban, juga memiliki kerabat yang sudah meninggal. Seperti istri beliau pertama, Ibunda Khadijah, dan anak-anak beliau. Namun tak ada riwayat yang menjelaskan bahwa beliau tidak berkurban secara mandiri untuk kerabat beliau yang sudah meninggal tersebut. 

Pendapat ini dikuatkan oleh Syekh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah,

أما أن يضحي عن الميت خاصة فهذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه ضح عن أحد من أمواته بخصوصه، فلم يضح عن أولاده الذين ماتوا في حياته، وهن ثلاث بنات متزوجات، وثلاثة أبناء صغار ، ولا عن زوجته خديجة وهي من أحب نسائه إليه -رضي الله عنها-, ولا عن عمه حمزة رضي الله عنه وهو من أعز أقاربه عنده، ولوكان هذا من الأمور المشروعة لكان الرسول صلى الله عليه وسلم يشرعه لأمته إما بقوله وإما بفعله وإما بإقراره

“Berkurban khusus hanya untuk orang yang sudah meninggal, ini tidak ada riwayat dari Nabi ﷺ yang menerangkan bahwa beliau ﷺ berkurban untuk salah satu kerabat beliau yang sudah meninggal secara khusus. Beliau tidak pernah berkurban untuk anak-anak beliau yang meninggal di masa beliau hidup. Beliau juga memiliki tiga putri yang sudah berkeluarga, dan tiga cucu. Beliau juga tidak berkurban untuk istri beliau Khadijah. Padahal Khadijah -radhiyallahu ‘anha- adalah istri yang paling beliau cintai. Tidak pula untuk Hamzah -radhiyallahu ‘anhu- paman beliau. Padahal Hamzah adalah keluarga beliau yang paling mulia di mata beliau. Andai saja hal ini disyariatkan, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyariatkan kepada umatnya, bisa melalui sabda, perbuatan atau persetujuan beliau.” (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 25/112)

Demikian.

Wallahu a’lam bis showab.

***

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc.

KONSULTASI SYARIAH