Jaga Lisan Jangan Disalahgunakan

APA yang membuat Allah murka kepada Fir’aun, di antaranya adalah karena lisannya yang sengaja dibiarkan bablas dalam kesesatan.

فَقَالَأَنَارَبُّكُمُالْأَعْلَى

“Berkata (Fir’aun), ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at [79]: 24).

Ucapan Fir’aun itu mengemuka setelah beragam tipu daya dan kejahatan ia lakukan dengan penuh kepongahan demi mempertahankan kuasanya karena ilusi dari mimpi yang dialaminya bahwa kelak akan ada orang yang menghancurkan kekuasaannya.

Namun, kebenaran tak pernah memihak kekuasaan dan sebaliknya, siapapun yang memilih jalan kebathilan, kebinasaan pasti akan menemui dan menyeretnya. Dan, siapapun yang memilih kebathilan akan hidup dengan khayalan, dan siapa yang teguh dalam kebenaran, akan tegar dalam terjaganya nalar (akal sehat).

Menjaga Lisan, Selamat

Al-Qur’an merinci bagaimana kemudian Fir’aun terperangkap dalam ketakutan sehingga kehilangan rasionalitasnya, sehingga jadilah ia sosok pemimpin yang otoriter dan anti dengan masukan atau saran dari pihak lain.

قَالَفِرْعَوْنُمَاأُرِيكُمْإِلَّامَاأَرَى

“Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” (QS. Al-Mu’min [40]: 29).

Bahkan, kala kebenaran masuk ke dalam dada para tukang sihir, yang membuat mereka beriman kepada Allah Ta’ala, Fir’aun semakin pongah dan mengatakan hal-hal yang sama sekali sulit dicerna akal sehat.

قَالَآمَنتُمْلَهُقَبْلَأَنْآذَنَلَكُمْإِنَّهُلَكَبِيرُكُمُالَّذِيعَلَّمَكُمُالسِّحْرَفَلَسَوْفَتَعْلَمُونَلَأُقَطِّعَنَّأَيْدِيَكُمْوَأَرْجُلَكُممِّنْخِلَافٍوَلَأُصَلِّبَنَّكُمْأَجْمَعِينَ

“Fir’aun berkata: “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya.” (QS. Asy-Syuara [26]: 49).

Sungguh, ucapan-ucapan Fir’aun ini karena merasa diri selalu benar, paling berkuasa, sehingga rasionalitasnya beku dan hatinya sulit menerima cahaya kebenaran. Akibatnya, semakin berkata, ia semakin mengundang murka Allah Ta’ala. Dan, seperti jamak diketahui, akhirnya Fir’aun tenggelam di tengah lautan bersama kesombongan dan bala tentaranya yang angkuh dan tidak pernah mau berpikir.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memfungsikan lisan, jangan pernah bersandar pada jabatan, kekuasaan atau pun pengaruh. Sebab, kebenaran tak bersahabat dengan siapapun, kecuali manusia yang komitmen terhadapnya (kebenaran).

Pepatah Arab mengatakan, “Jagalah lisanmu dan berhati-hatilah dengan perkataannya karena seseorang itu dapat selamat dengan lisan dan dapat celaka dengan lisan.”

Maka, jangan sampai kebenaran ditinggalkan sementara sangkaan manusia yang dangkal berpikirnya justru dijadikan acuan, seperti Fir’aun mempercayai Haman yang licik lagi pemarah, sehingga diri terperosok kedalam kehinaan gara-gara lisan.

Ibn Athaillah berkata, “Sebodoh-bodoh manusia adalah yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan manusia lainnya.”

Dan, meninggalkan keyakinan terhadap kebenaran atas alasan apapun disebut oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai kebathilan. “Kebatilan itu melawan kebenaran.”

Orang yang telah masuk dalam kebatilan tidak akan bisa berpikir benar dan berkata benar. Di sinilah lisan menjadi sebab datangnya kehinaan demi kehinaan. Sebab tidak ada perkataan dari pelaku kebatilan, melainkan melawan akal sehat, menista kebenaran, dan memendam prinsip keadilan, sehingga apa yang diucapkannya selalu menjerumuskan manusia pada kesesatan demi kesesatan.

Tiga Orang yang Tak Diajak Allah Bicara

Oleh karena itu Rasulullah berpesan, “Tahanlah lisanmu, hendaklah rumahmu memberi kelapangan bagimu, dan menangislah atas kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, mari jaga lisan. Sebab dari lisan itulah tampak apakah diri dalam kebenaran, masih berimah atau telah jauh menyimpang dari jalan Tuhan. Hasan Al-Bashri berkata, ‘Tidak memahami agamanya orang yang tidak menjaga lisannya.”

Atas dasar itu, gunakanlah lisan untuk meluruskan kesalahan, menegakkan keadilan, dan menebar kemaslahatan, apalagi jika diri diamanahi Allah kuasa dan jabatan, dimana setiap ucapan sangat diperhatikan dan bisa merubah keadaan. Jangan malah disalahgunakan, seperti Fir’aun yang akhirnya tenggelam dalam kebinasaan dan kehinaan demi kehinaan. Wallahu a’lam.*