Kalimat Pertama Nabi Muhammad Sesampainya di Kota Madinah

Inti dari pesan Nabi Muhammad adalah kesejahteraan masyarakat.

bdullah bin Salam rahimahullah meriwayatkan ketika Nabi Muhammad tiba untuk pertama kalinya di Madinah. Abdullah bin Salam tidak melihat Nabi SAW seperti seorang pembohong, seperti yang dikabarkan orang-orang kafir.

Abdullah bin Salam merupakan seorang kepala Pendeta Yahudi di Madinah yang kemudian masuk Islam. Ia bersama orang-orang di Madinah datang untuk melihat kedatangan Nabi Muhammad.

Dengan seksama, Abdullah bin Salam terus memperhatikan Nabi Muhammad. Ia bahkan menyimak kalimat pertama yang disampaikan Nabi setibanya di Madinah.

“Wahai manusia: Beri makan orang yang lapar, tebarkan salam, jagalah hubungan dengan saudaramu, dan sholatlah di malam ketika orang- orang sedang tidur. Niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR Al-Bukhari).

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang tulus, memiliki keyakinan yang teguh dan jelas dalam menyampaikan pesan. Nabi Muhammad selalu menerapkan dan mengamalkan kepada dirinya sendiri sebelum menyampaikan kepada orang lain.

Dilansir dari About Islam, Senin (1/11), Hazem Said dan Maha Ezzeddina mengatakan, inti dari pesan Nabi Muhammad adalah kesejahteraan masyarakat. Kata-kata pertamanya saat ia hijrah ke Madinah menekankan hal itu. Berikut penjelasannya.

Memberi makan yang lapar

Makanan adalah kebutuhan bertahan hidup dan prasyarat perdamaian. Kita tidak bisa mengharapkan komunitas dan negara bisa mengatasi masalah lain sebelum membantu mereka mengurangi rasa lapar tersebut. Dengan memastikan setiap orang dapat menemukan makanan mereka untuk hari itu merupakan langkah penting menuju perdamaian dunia.

Kita dapat mulai memberi makan mereka yang lapar dengan menciptakan kesempatan bagi orang-orang untuk menikmati makanan sehat melalui acara-acara sosial, outlet khusus atau perhatian pribadi pada tingkat individu.

Memberi salam

Saat kita bertemu satu sama lain di jalan, saat menunggu dalam antrean, di ruang kelas, di tempat kerja atau dalam pertemuan sosial, saling menyapa dengan hangat sangat membantu menciptakan kasih sayang dan kesadaran di antara satu sama lain. Karena ketidaktahuan justru sering mengarah pada kebencian.

Saling menyapa membuka pintu untuk belajar tentang satu sama lain. Ini meredakan ketegangan dan mendorong dialog.

Menjaga hubungan dengan kerabat

Keluarga dan kerabat adalah unit penting bagi perdamaian di dunia. Ketika keluarga tumbuh dan berkembang, koneksi dan ikatan lainnya tidaklah terlalu penting. Memperbaharui dan memelihara ikatan keluarga secara teratur, bahkan dengan kerabat jauh, menciptakan peluang untuk saling menghargai satu sama lain.

“Di dunia sekarang ini, kita beruntung teknologi telah menyediakan sarana komunikasi. Kita dapat dengan mudah tetap berhubungan dengan anggota keluarga lainnya,” kata dia.

Sholat saat orang lain tertidur

Nabi Muhammad mengatakan sholat di malam hari sama halnya dengan memberi makan orang yang lapar, saling menyapa, dan menjaga ikatan keluarga. Begitu juga hubungan antara spiritual dan fisik manusia dihidupkan dengan mendirikan sholat malam.

“Ketika kita sendirian di saat-saat tenang di malam hari, itu adalah waktu yang kuat untuk membangun hubungan kita dengan Allah,” kata dia.

Hubungan spiritual dengan Allah adalah reaktor yang memberi kita energi untuk mempertahankan hubungan kita dengan orang lain dan pelayanan kita kepada mereka. Dengan menyeimbangkan kekuatan batin kita dan menerapkan peran kita terhadap orang lain, kita tidak hanya memetakan jalan menuju kedamaian di dunia kita, tetapi juga jalan damai menuju surga.

KHAZANAH REPUBLIKA