Masjid Taj Mahal Ada di Malang

Suasana damai menyelimuti Jalan Raya Karangampel RT 08/02 Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang pada Kamis sore (24/5). Di tengah-tengah hijaunya ladang nampak berdiri tegak sebuah masjid yang belakangan disebut sebagai “Taj Mahalnya Malang”.

Pengunjung Faridah mengungkapkan sebenarnya telah lama mengetahui keberadaan masjid yang bernama Salman Alfarisi tersebut. “Saya kalau ke Batu suka lewat sini karena tidak macet, dan saya lihat pembangunan masjid ini setidaknya dua bulan sekali lewat,” kata perempuan yang menetap di Sawojajar, Kota Malang, Kamis (24/5).

Bersama sang suami, Faridah sengaja berkeliling Malang sambil menunggu waktu buka puasa dengan menggunakan motor. Di tengah-tengah rencananya, dia pun mengunjungi Masjid Salman Alfarisi untuk shalat ashar dan berfoto-foto. Dari pengamatannya, dia tak menampik Masjid Salman Alfarisi sekilas mirip dengan Taj Mahal.

“Bagus tapi kalau mirip sekali atau tidak, ya enggak tahu karena belum pernah ke Taj Mahal yang asli. Saya baru lihat Taj Mahal di foto saja,” tambah perempuan yang berusia 47 tahun tersebut.

Meski sudah tahu keberadaan masjid, penyebutan “Taj Mahal” baru diketahui beberapa hari lalu. Faridah mulai penasaran untuk memasuki Masjid Salman Alfarisi setelah bangunan tersebut dibahas pada komunitas peduli Malang di Facebook. Di komunitas tersebut dibahas adanya bangunan serupa Taj Mahal di Malang.

Meski sangat mengapresiasi masjid ini, Faridah menyarankan pengelola untuk mengembangkannya lebih baik lagi. Dalam hal ini dapat dilakukan apabila pengelola benar-benar bertujuan untuk menjadikan masjid sebagai tempat wisata. Pemandangan di sekitar masjid harus diperbaiki lagi ke depannya hingga dapat menambah kesan keindahan.

Di kesempatan lain, Pengurus Takmir Masjid Salman Alfarisi, Deden Ferry menerangkan, bangunan sudah mulai dibangun sejak 2012 lalu selesai sekitar pertengahan 2017. Bangunan didirikan di lahan kosong dengan ukuran sekitar 1,8 hektare. Sementara luas masjid, dia melanjutkan, sebesar 1.600 meter per segi.

Menurut Deden, tak ada rencana khusus dari pengelola untuk membangun masjid serupa dengan Taj Mahal ini. Desain benar-benar diserahkan pada tim pembangunan masjid. Oleh karena itu, dia tidak mengetahui secara pasti alasan mengapa tim pembangunan memilih desain Taj Mahal.

Deden telah mendengar masjid yang berada di bawah naungan Yayasan Assunah Husnul Khatimah Malang ini disebut-sebut mirip dengan Taj Mahal sekitar 2016 lalu. Tak ada penolakan atau keberatan dari yayasan maupun pengurus masjid. Kondisi ini justru memberikan harapan agar masyarakat sekitar semakin tertarik untuk memakmurkan masjid.

Lokasi masjid memang tak terlalu dekat dengan keramaian atau pemukiman sekitar.Menurut Deden, perkampungan masyarakat berada sekitar 100 sampai 200 meter dari masjid.

Konsep jauh dari keramaian memang sengaja dipilih oleh pengelola. Yayasan pada hakikatnya berencana untuk membangun pondok pesantren bernama Darrussunah untuk lulusan SMA/sederajat di sekitar masjid. Dengan konsep ini, para santri diharapkan dapat semakin konsentrasi dalam mengemban pendidikan Alquran dan bahasa Arab.

“Dan saat ini pembangunannya masih berlangsung,” ujar pria yang kini berusia 34 tahun ini.

Hingga saat ini, dia menambahkan, masjid baru diperuntukkan shalat jamaah untuk lima waktu. Kemudian shalat tarawih dan kajian-kajian, baik selama Ramadhan maupun hari biasa. “Kita belum adakan shalat Jumat di sini,” jelasnya.

Melihat ketertarikan pengunjung pada masjid ini, Deden tak menampik, pengelola memiliki rencana mengembangkan tempat tersebut. Pihaknya ingin masjid tersebut masuk ke dalam wisata religi Malang. Kemudian nantinya dapat dibangun tempat penginapan dan membuat edukasi kegamaan bagi pengunjung.

“Sudah ada rencana ke sana tapi belum dipikirkan format pastinya,” jelasnya.

 

REPUBLIKA