Mengenal Jawami’ al-Kalim – Keistimewaan Nabi ﷺ

Mengenal Jawami’ al-Kalim – Keistimewaan Nabi ﷺ

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagian dari keistemewaan Nabi ﷺ adalah Jawami’ al-Kalim. Disebut sebagai keistemewaan Nabi Muhammad ﷺ, karena Jawami’ al-Kalim tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum beliau.

Terdapat beberapa hadis shahih yang menegaskan keistimewaan berupa Jawami’ al-Kalim. Diantaranya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ..

“Aku diberi kelebihan dibandingkan nabi-nabi sebelumku dengan 6 hal: aku diberi Jawami’ al-Kalim, aku ditolong dengan rasa takut yang disematkan di hati para musuh…” (HR. Muslim 1195 & Turmudzi 1640).

Dalam riwayat lain, juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ…

Aku diutus dengan membawa Jawami’ al-Kalim… (HR. Bukhari 2977).

Makna “Jawami’ al-Kalim”

Ulama berbeda pendapat mengenai makna Jawami’ al-Kalim. Disebutkan secara ringkas oleh al-Hafidz Ibnu Hajar (Fathul Bari, 13/247) sebagai berikut,

[1] Jawami’ al-Kalim adalah al-Quran.

Karena al-Quran adalah kitab berisi penjelasan, yang kalimatnya ringkas namun padat makna.

Makna ini didukung beberapa hadis, seperti Sabda beliau,

بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ…

Aku diutus dengan membawa Jawami’ al-Kalim… (HR. Bukhari 2977).

Dan makna yang paling dekat untuk hadis ini adalah al-Quran.

[2] Jawami’ al-Kalim adalah kalimat ringkas yang padat makna.

قال الزهري: معناه: أنه كان صلى الله عليه وسلم يتكلم بالقول الموجز، القليل اللفظ، الكثير المعاني

Az-Zuhri mengatakan, ‘Makna Jawami’ al-Kalim adalah bahwa Nabi ﷺ berbicara dengan kalimat yang ringkas, lafadznya pendek, namun banyak makna.’

Pendapat kedua didukung oleh hadis dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,

Rasulullah ﷺ pernah mengutusku ke Yaman bersama Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Beliau berpesan,

ادْعُوَا النَّاسَ وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا وَيَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا

Dakwahi masyarakat, berikan gabar gembira dan jangan buat mereka lari. Mudahkan dan jangan dipersulit.

Kemudian Abu Musa bertanya kepada beliau mengenai beberapa jenis minuman hasil fermentasi madu yang disebut al-Bita’ dan hasil fermentasi gandum yang disebut al-Mizru.

Kemudian Nabi ﷺ memberikan jawaban,

أَنْهَى عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ

“Aku larang semua yang memabukkan..”

Kata Abu Musa,

قَدْ أُعْطِىَ جَوَامِعَ الْكَلِمِ

“Sungguh beliau diberi Jawami’ al-Kalim..” (HR. Muslim 5334)

Dari keterangan Abu Musa menunjukkan bahwa makna Jawami’ al-Kalim adalah sabda beliau yang ringkas namun padat makna.

Dan pendapat ini juga yang disampaikan al-Munawi dalam Faidhul Qadir,

جوامع الكلم أي ملكة أقتدر بها على إيجاز اللفظ مع سعة المعنى بنظم لطيف لا تعقيد فيه يعثر الفكر في طلبه

Jawami’ al-Kalim maksudnya adalah kemampuan dimana dengan itu beliau mampu menyampaikan kalimat ringkas namun maknanya luas, dengan susunan yang bagus, tidak menyulitkan yang membuat pikiran bisa meleset dalam memahaminya dan tidak pula… (Faidhul Qadir, 1/719)

Demikian, Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/35463-mengenal-jawami-al-kalim-keistimewaan-nabi-%ef%b7%ba.html