Mukmin adalah Cermin bagi Saudaranya

Mukmin adalah Cermin bagi Saudaranya (Bag. 4)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Mukmin adalah Cermin bagi Saudaranya (Bag. 3).

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Pada artikel sebelumnya telah kami bahas sikap seorang mukmin terhadap saudaranya yang seiman: (1) memantulkan rupa dengan tampilan yang halus; (2) menampakkan rupa hanya saat kamu berada di depannya; (3) jernih sehingga menampakkan aibmu dengan jelas, lalu “diam”.

Pada artikel ini akan kami lanjutkan penjelasan sikap seorang mukmin terhadap saudaranya yang seiman: (4) menampakkan aibmu yang sulit kamu ketahui; (5) menampakkan rupamu sendiri. Simak penjelasan berikut ini.

(Lanjutan) sikap seorang mukmin terhadap saudaranya yang seiman

Keempat, menampakkan aibmu yang sulit kamu ketahui

Anda bercermin saat anda ingin tahu apakah ada sesuatu yang tidak beres pada penampilan anda atau anda ingin memeriksa apakah penampilan anda sebaik yang anda harapkan.

Demikianlah manfaat cermin fisik, menampakkan sesuatu yang sulit atau anda sendiri tidak bisa mengetahuinya.

Maka demikian pula -dengan taufik Allah- status seorang mukmin sebagai cermin maknawi. Dia bisa melihat aib anda yang anda tidak merasanya dan tidak mengetahuinya [1]. Anda pun bisa melihat aibnya yang dia tidak mengetahuinya.

Tidak ada satupun diantara kita yang statusnya hanya menjadi orang penerima nasihat selamanya. Setiap kita tertuntut menasihati dan  perlu dinasihati.

Oleh karena itu, dalam sebuah hadis yang agung terdapat isyarat bahwa perlunya seorang mukmin meminta nasihat kepada saudaranya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim Rahimahullah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ

“… dan jika ia meminta dinasihati, maka nasihatilah ….”

Kelima, menampakkan rupamu sendiri

Diantara sifat cermin adalah menampakkan gambarmu sendiri, dan bukan gambar orang lain, demikian pula seorang mukmin terhadap saudaranya. Kaum mukminin seperti satu tubuh, begitu sayangnya seorang mukmin kepada saudaranya.

Seorang mukmin dengan niat yang ikhlas menginginkan kebaikan untuk saudaranya, menyayanginya, menasihatinya dengan cara yang ia juga suka diperlakukan seperti itu, karena ia memperlakukan saudaranya seperti ia memperlakukan dirinya. Layaknya sebuah cermin menampakkan gambar diri anda, dan bukan gambar orang lain.

Banyak dalil yang menunjukkan bahwa kaum mukminin itu seperti satu tubuh dan satu jiwa.

Allah Ta’ala berfirman,

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا

“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri?” (QS. An-Nur: 12).

Dalam Tafsir Al-Baghawi Rahimahullah, maksud “ … tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri?” Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menafsirkan,

“(Tidak berprasangka baik) terhadap orang yang beragama dengan agama mereka (kaum mukminin yang lainnya), karena kaum mukminin itu seperti satu jiwa.”

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian” (QS. An-Nisa: 29).

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah dalam Tafsir Al-Baghawi Rahimahullah menafsirkan,

“(Janganlah kalian membunuh) saudara-saudara kalian” maksudnya, “Wahai kaum mukminin, janganlah sebagian kalian membunuh sebagian kaum mukminin lainnya.”

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ

“Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kalian memberi salam kepada ‘diri kalian sendiri’” (QS. An-Nur: 61).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir Rahimahullah, Said Bin Jubair, Al-Hasan Al-Bashri, Qotadah, dan Az-Zuhri Rahimahumullah menafsirkanhendaklah kalian memberi salam kepada ‘diri kalian sendiri’” sebagai,

“Hendaklah sebagian kalian memberi salam kepada sebagian (kaum mukminin) yang lain.” Maksudnya hendaklah sebagian kaum mukminin memberi salam kepada saudaranya yang seiman.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ

“Dan janganlah kalian suka mencela diri kalian sendiri” (QS. Al-Hujurat: 11).

Imam Mufassirin Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini sebagai berikut,

“Allah menjadikan orang yang mencela saudaranya seperti orang yang mencela dirinya sendiri, karena kaum mukminin itu seperti satu orang dalam perkara yang harus dilakukan oleh sebagian mereka terhadap sebagian yang lainnya, berupa memperbaiki urusan saudaranya, mencari sesuatu untuk kebaikan saudaranya dan mencintai kebaikan  untuk saudaranya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih sayang, dan belas kasih mereka bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggota tubuh yang terasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasa tidak bisa tidur dan merasa demam (sakit juga)” (HR. Muslim Rahimahullah).

Wahai kaum mukminin, semangatlah anda menjadi cermin bagi saudara seiman anda, seolah-olah anda melihat dan memperlakukan diri anda sendiri.

Anda perbaiki kesalahannya dan anda ingatkan ketika ia lupa dengan kalimat terbaik, waktu yang paling tepat, serta metode menasihati yang termudah diterima olehnya, tanpa melanggar syariat Islam yang agung ini. Sebagaimana selayaknya anda suka diperlakukan seperti itu juga.

[Bersambung, insyaallah]

***

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah

Artikel: Muslim.or.id