Muslim Indonesia Dinilai Telah Jadikan Sedekah Sebagai Gaya Hidup

CEO Rumah Zakat, Nur Effendi menilai, sedekah sudah mulai menjadi gaya hidup sebagian umat Islam yang ada di Indonesia. Hal itu terlihat dari respons positif yang ditunjukan masyarakat ketika menanggapi sedekah.

“Era sekarang, terutama middle class Muslim, pandangan sedekah sudah sangat direspon baik,” kata Nur kepada Republika.co.id, Selasa (25/4).

Ia memberi contoh, dulu orang banyak menitipkan resiko kepada asuransi, dengan membayar premi demi bisa dicover reskio jiwanya. Tapi, belakangan, Nur merasa pola pikir itu berubah dan orang menitipkan resiko langsung ke Allah SWT.

Hal itu dilakukan dengan cara sedekah, dan kerap dikaitkan dengan keseharian masyarakat seperti sebelum bepergian. Banyak orang bersedekah demi menghindarkan dirinya dari marabahaya dan berharap dilindungi Allah SWT.

Nur melihat, respons positif seperti itu sangat baik dan secara tidak langsung menjadikan sedekah sebagai bagian dari gaya hidup. Karenanya, ia turut menyambut Hari Sedekah Nasonal yang digulirkan sebagai momentum kebangkitan.

“Hari Sedekah Nasonal menjadi hari yang sangat baik, momentum dan menjadikannya simbol menggerakan sedekah sebagai gaya hidup seorang Muslim,” ujar Nur.

Jika melihat ke belakang, ia menuturkan, para sahabat saat ada perintah untuk menyisihkan hartanya mereka langsung berlomba. Sahabat, kata Nur, menyambut dengan sangat antusias walau kebanyakan masa itu merupakan sedekah mal.

Bahkan, ada cerita sahabat yang telah lalai karena tidak melaksanakan shalat Ashar, lalu menyedekahkan kebunnya ke baitul mal yang ada. Tentu, ini bisa dijadikan panutan bagaimana pentingnya sedekah bagi umat Islam di kala itu.

“Walau kebanyakan untuk jihad fisabilillah, biayai perang, sahabat senantiasa menyambut perintah sedekah dengan sangat antusias,” kata Nur.

Terkait itu, ia mengingatkan kalau alasan Rasulullah SAW sangat menganjurkan sedekah selain kewajiban zakat, karena zakat sebanarnya batas minimal orang bersedekah. Sedekah, dirasa lebih luas dan tidak terpaku di 2,5 persen kewajiban.

Itu berarti, Rasulullah SAW ingin memotivasi umat supaya lebih besar lagi dalam membagi hartanya, sehingga dapat menerima lebih banyak lagi. Selain itu, Nur berpendapat, sedekah miliki banyak implikasi di bidang lain, terutama menghilangkan ketimpangan sosial.

“Rasul ingin memotiviasi untuk berlomba berbuat baik, dan dampaknya meminimalisir ketimpangan yang ada, yang kaya peduli dengan yang miskin, yang miskin tidak cemburu dengan yang kaya,” ujar Nur.

 

REPUBLIKA ONLINE