Pesona Fisik dan Akhlak Rasulullah di Mata Para Sahabat [1]

Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassallam merupakan manusia spesial yang diutus Allah Subhanahu Wata’ala bagi semesta alam.  Allah Subhanahu Wata’ala memberikan banyak kelebihan kepada Nabi baik fisik maupun akhlaknya.

Jabir bin samurah meriwayatkan dalam Shahih Muslim, wajah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bagaikan Matahari dan Bulan.  Sementara Sayyidina Ali mengatakan,  Matahari dan Bulan seaakan beredar di wajah beliau. (Syamail Imam Tirmidzi).   Umar bin Khattab menyebutkan,  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam adalah manusia yang bibirnya paling indah. Di bawah ini adalah pengakuan istri dan para Sahabat-Sahabat Rasulullah tentang fisik, pribadi dan penampilan beliau.

Aisyah Radhiallâhu ‘anha pernah berkata:

“Beliau (Rasulullah) adalah orang yang paling mulia akhlaknya, tidak pernah berlaku keji, tidak pula mengucapkan kata-kata kotor, tidak berbuat gaduh di pasar, dan tidak pernah membalas dengan kejelekan serupa, akan tetapi beliau pemaaf dan pengampun.” (HR Ahmad)

Anas bin Malik Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang sedang berbisik dengan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kemudian beliau menjauhkan kepalanya, sehingga orang tersebut-lah yang menjauhkan sendiri kepalanya. Dan aku juga tidak pernah melihat seorang pun yang menjabat tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melepas tangannya, sehingga orang tersebut-lah yang melepaskan tangannya sendiri.” (HR Abu Daud)

”Aku belum pernah menyentuh sutra yang lebih lembut dibandingkan telapak tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.  Dan aku juga belum  pernah mencium minyak wangi (misk) atau parfume apapun yang lebih harum dibandingkan aroma  Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.” (HR Bukhari)

“Kedua telapak tangannya lebar, kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat; tetapi putih kemerah-merahan. Ketika beliau meninggal dunia, di kepalanya hanya ada dua puluh lembar uban.” (HR Bukhari)

Abu Hurairah Radhiallâhu ‘anhu Berkata:

“Beliau adalah seorang yang panjang kedua lengannya, lentik alisnya, kedua matanya lebar, dan antara kedua pundaknya kekar dari depan dan belakang. Demi bapak dan ibuku, sungguh beliau tidak pernah berbuat keji dan tidak pula berkata keji, dan beliau juga tidak pernah mengeraskan suaranya di tempat tempat umum.” (HR Ahmad)

“Belum pernah aku menyaksikan orang yang lebih baik dari Rasulullah; seakan-akan mentari berjalan di wajah beliau. Dan belum pernah aku melihat orang yang jalannya lebih cepat dari Rasulullah; seakan-akan bumi dilipat untuk beliau.” (HR Tirmidzi)

Abu Bakar Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“Orang yang terpercaya dan pilihan, mengajakan kebaikan, dan seperti cahaya bulan purnama yang mengusir kegelapan.”

Ali Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“….Beliau adalah pamungkas para nabi, orang yang paling dermawan, paling lapang dada, paling benar tutur katanya, paling komitmen dengan janjinya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, siapapun yang memandangnya dengan tiba-tiba pasti akan segan kepadanya, siapapun yang bergaul dengannya secara dekat pastilah mencintainya. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya.” (HR Tirmidzi)

Ibnu ‘Abbas Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“Diantara gigi-gigi serinya ada celah, dan apabila berbicara terlihat seperti ada cahaya yang keluar dari celah-celah gigi serinya itu.” (HR Darimi)

Ka’b bin Malik Radhiallâhu anhu berkata:

“Apabila bergembira, wajahnya bercahaya, seakan-akan wajah beliau itu sepotong rembulan.” (HR Bukhari)

Jabir bin Samurah Radhiallâhu ‘anhu berkata,

“Kedua betisnya sangat ideal, tertawa beliau sebatas tersenyum. Apabila aku melihatnya, aku selalu berkata, ‘Pelupuk matanya hitam seakan akan memakai celak, padahal tidak.’” (HR Tirmidzi)

“Beliau pernah mengusap pipiku, kudapati tangannya terasa dingin dan aromanya sangat harum seakan-akan beliau baru mengeluarkannya dari keranjang tempat minyak wangi.” (HR Bukhari)

Abdullah bin Salam Radhiallâhu ‘anhu berkata:

“Ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, orang-orang bergegas menyambut beliau sambil mengucapkan, ‘Rasulullah telah datang…. Rasulullah telah datang…. Rasulullah telah datang…’  aku berusaha menembus kerumunan orang untuk menyaksikan wajah beliau secara langsung. Setelah kuperhatikan wajahnya, aku langsung menyimpulkan  bahwa wajah beliau bukanlah tampang seorang  pendusta. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, “Hai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan laksanakan shalat ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian masuk Syurga dengan selamat.” (HR Tirmidzi).*/Mabni Darsi, penulis buku “Pesona Cinta Muhammad saw:Kunci Sukses Rasulullah  Merebut Hati Menuai Simpati

 

HIDAYATULLAH