Petuah Jawa yang Mulai Dilupa

HIKMAH itu bisa berasal dari berbagai sumber seperti kitab suci, sabda para rasul Allah, para cerdik cendikia dan bahkan dari orang biasa. Hikmah itu bisa terucap oleh orang tua, anak remaja, dan bahkan oleh anak kecil.

Hikmah itu bisa saja muncul dari negara Arab, negara Eropa, negara Amerika, Indonesia dan juga negara lainnya. Hikmah itu bisa saja berasal dari bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Indonesia, bahasa Jawa, Madura dan bahasa lainnya. Sering kita dengar petuah: “Pungutlah hikmah dari manapun ia keluar.”

Kali ini akan saya sampaikan petuah tetua Jawa dalam bahasa Jawa yang sudah jarang dingat dan diperhatikan. Bunyinya begini: “Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman” (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi). Petuah ini muncul dari kesadaran sejarah tetua Jawa bahwa hidup yang sesungguhnya itu bukanlah kini di dunia ini, melainkan nanti di akhirat kelak.

Orang yang mengikatkan dirinya pada kalungguhan (pangkat atau kedudukan) akan kesulitan berdiri dan berlari menuju surga akhirat. Dia akan sibuk mempertahankan kedudukannya mati-matian sampai mati betulan dengan melupakan bahwa hidup setelah kematian jasad itulah yang sesungguhnya kehidupan.

Orang yang mengungkung dirinya dengan kadonyan (kebendaan) akan sulit memaksImalkan potensi non-bendawi yang dimilikinya berupa kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Dia mungkin saja badannya mengunjungi banyak wilayah (daerah) namun hatinya tak akan pernah menggapai pangkat wilayah (kewalian atau kekasih Allah).

Orang yang hidupnya terbatas pada pencarian kepuasan nafsu tidak akan pernah puas diri dan selalu saja merasa kekurangan. Akibatnya adalah dia pasti merasakan derita berkepanjangan. Kepuasan puncak adalah saat kita sudah menginjakkan kaki di surga, menggapai ridla Allah SWT. Sungguh kepuasan batin adalah lebih utama dibandingkan kepuasan lahir.

Sayangnya, fakta menunjukkan pengutamaan kepuasan badan, jasad, adalah yang paling dominan. Mungkinkah manusia seperti ini menggapai kepuasan puncak? Salam, AIM. [*]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2370728/petuah-jawa-yang-mulai-dilupa#sthash.m4OCPcDx.dpuf