Salahuddin al-Ayyubi? Ini Jawabannya

Para pakar medis mencoba menelusuri penyebab kematian dengan data yang ada.

Ada saja upaya sejarah untuk kembali menguak misteri yang belum terungkap pada masa lalu. Satu dari sekian usaha itu, adalah mengungkap teka-teka penyebab kematian para tokoh-tokoh.

Sebut saja misalnya penelusuran sejumlah pakar tentang kematian Florence Nightingale, pelopor perawat modern, penulis dan ahli statistik. Tokoh yang dikenal dengan julukan Bidadari Lampu tersebut meninggal pada 1910. Ada pula upaya penelusuran sebab kematian Charles Robert Darwin, sang pencetus teori evolusi.

Nah, belakangan, upaya yang sama juga dilakukan para ahli untuk mengungkap sebab kematian pendiri Dinasti Ayyubiyah, Salahuddin al-Ayyubi yang wafat pada 1193 di usi 56 tahun.

Mengutip Arabicpost, yang dinukilkan dari The Guardian, Steven Gluckman, guru besar kedokteran di Universitas Pennsylvania, mengakui sulitnya menemukan penyebab kematian Salahudiddin.

Ini karena minimnya informasi, dan bukti fisik, sementara kesaksian-kesaksian sejarah sebagiannya diragukan. Kendati demikian yang hanya diduga secara kuat adalah waktu sakit Salahuddin sebelum meninggal, yaitu dua pekan.

Pembahasan ini pun pernah mengemuka pada Konferensi klinikopatologis Sejarah di Amerika Serikat. Beberapa kemungkinan penyebab kematian Salahuddin, dalam diskusi yang cukup panjang, adalah antara lain pusing dan demam kuning (yellow jack) yang diakibatkan serangan virus melalui gigitan nyamuk, ada pula kemungkinan meningitis.

Namun Gluckman, berdasarkan analisis bukti minim yang ada, dia memprediksi kemungkinan lain yang menjadi penyebab wafat Salahuddin yaitu akibat infeksi bakteri dan atau tipus. Hal ini berangkat dari fakta bahwa, pada masa itu, penyakit mematikan dengan masa sakit selama dua pekan biasanya adalah infeksi bakteri dan tipus.

Namun, prediksi ini dibantah sebagian pakar. Hal ini mengingat, bukti sejarah yang ada juga menyebutkan Salahuddin tidak pernah menderita sakit apapun di perutnya. Apalagi, catatan sejarah tersebut dikisahkan oleh para penulis yang tak memiliki latar belakang medis.

REPUBLIKA