Semua Hari Baik, Hiraukan Keyakinan Sial

ABU Hurairoh pernah menceritakan sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ibnu Majah, beliau mengatakan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai bersikap optimis yang baik dalam setiap keadaan.”

Termasuk ketika orang punya rencana maka dia dianjurkan untuk optimis dalam melakukan rencananya selama rencana yang dia lakukan adalah sesuatu yang halal, apalagi ini pernikahan yang itu sangat diajurkan dalam Islam.

Dan beliau membenci thiyaroh (berkeyakinan sial) karena hari tertentu atau karena bulan tertentu atau karena peristiwa tertentu dan thiyaroh dalam Islam hukumnya syirik sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Masud, Rasulullah pernah mengatakan:

“Thiyaroh itu syirik, thiyaroh itu syirik (diulangi oleh Nabi sebanyak 3 kali)”

Dan kita sebagai kaum muslimin tentu saja sangat tidak diperkenankan untuk berkeyakinan sial dengan adanya hari tertentu atau keyakinan sial karena wathon, apalagi karena kemudian pengaruh hitung-hitungan ada hari pasaran (kliwon, pahing, dst) yang itu sama sekali tidak pernah dikenal dalam Islam dan itu ketahui bahwasanya perhitungan semacam ini adalah warisan dari budaya Hindu atau budaya animisme atau agama paganisme sebelum adanya Islam di Indonesia.

Karena itu tidak selayaknya bagi kaum muslimin ikut-ikutan dengan melibatkan diri mempercayai hitung-hitungan semacam itu yang ini dinamai dalam Islam yang disebut oleh Nabi dengan thiyaroh.

Kemudian apakah harus mencari hari baik? Jawabannya semua hari baik, sebagaimana tadi katakan Beliau menyukai sikap optimis yang baik.

Jadi anggap semua hari yang ada dalam hari-hari anda untuk menikah adalah hari yang baik, namun kembali pada masalah hari apakah yang paling tepat bagi saya untuk menikah? Ini mungkin anda perlu pertimbangkan siapa yang harus akan anda undang, kemudian siapa saja yang harus dilibatkan dalam pernikahan tadi sehingga perlu memperhatikan kapan hari yang paling cocok untuk mereka bisa kumpul, semacam ini diperbolehkan kembali pada masalah tradisi dan adat manusia.

Misalnya dia memilih hari libur kalau ditempat kita hari sabtu atau ahad, kalau mungkin di negara yang lain dia mempunyai hari libur yang berbeda di persilahkan dia boleh memilih hari libur yang lainnya. Hanya saja ada bulan yang kita di anjurkan melakukan pernikahan, menurut sebagian ulama adalah bulan syawal, berdasarkan keterangan dari Aisyah sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, beliau mengatakan:

“Rasulullah menikahiku di bulan syawal dan beliau tinggal bersamaku karena setelah nabi menikah beliau tidak langsung hidup satu rumah namun berpisah.”

Dan nabi baru tinggal bersama Aisyah juga di bulan syawal di tahun berbeda artinya ada unsure kesengajaan dimana nabi, memulai kehidupan baru beliau di bulan syawal dan kata para ulama alasan nabi memilih bulan syawal untuk mengawali kehidupan berkeluarga adalah dalam membantah keyakinan orang-orang musyrikin yang mereka beranggapan bulan syawal adalah bulan sial karena bagi masyarakat arab, syawal adalah bulan pantangan untuk pernikahan.

Sehingga bagi mereka syawal dihindari untuk melakukan pernikahan membangun keluarga. Termaksud mengawali kehidupan rumah tangga dan nabi melakukan ini dalam rangka membantah mereka. Kaena itu bisa kita qiyaskan dalam konteks sekarang misalnya ada di antara kita yang tinggal di sebuah daerah.

Daerah itu ada bulan tertentu yang ia anggap sebagai bulan pantangan untuk menikah, kalau mungkin di yogja ada bulan syura, Kemudian di jawa timur ada bulan dzulqodah yang mereka sebut bulan selo itu singkatan dari selai olow. Kemudian mereka meyakini ini bulan pantangan untuk nikah.

Maka salah satu di antara yang dianjurkan kaum muslimin adalah mereka menikah di bulan-bulan semacam ini dalam rangka melawan akidah yang menyimpang yang di miliki oleh masyarakatnya untuk membuktikan.

Tunjukkan bahwasanya saya menikah dan bahagia, tidak terjadi apa-apa tidak terpengaruh dengan bulan ini dianggap sial oleh masyarakat. Wallahu alam.

 

[Ustaz Ammi Nur Baits]