Alasan Mengapa Kita Perlu Abaikan Perkara tak Penting?

Mengabaikan perkara tak penting bentuk dari cara berislam yang baik

Dalam sebuah dialog film yang dibintangi Adil Imam, aktor terkemuka Mesir, ia berkata pada seorang hakim, “Anda tahu terowongan di daerah Abbasiyah?” Hakim menjawab, “Ya, saya tahu.”

“Di sana ada seorang penjual ‘ashir (jus).” “Mengapa dengan orang itu?” tanya sang hakim penasaran. “’Ashirnya sangat tidak enak. Jangan engkau coba meminumnya.”   

Dialog sederhana. Tapi efeknya luar biasa. Memang ada sebuah kedai jus di akhir terowongan daerah Abbasiyyah. Jusnya memang tidak enak. 

Ketika film yang dibintangi Adil Imam itu laku keras, pemilik kedai jus berpikir untuk memperkarakan Adil Imam karena ia merasa telah dirugikan dialog dalam film itu. 

Tapi ia kaget bukan main. Sejak film itu ditonton orang banyak, toko jusnya justru kebanjiran pengunjung.  

Bukan hanya dari daerah ‘Abbasiyah, melainkan dari segenap penjuru kota Kairo. Bahkan ada yang dari provinsi lain. 

Untuk apa mereka datang? Mereka hanya ingin mencoba jus yang katanya sangat tidak enak itu. Mereka penasaran. 

Akhirnya, kedai jus yang hampir saja gulung tikar itu beroleh keuntungan yang sangat besar berkat ‘jasa’ Adil Imam yang telah mempromosikan kedai itu secara gratis dalam dialog filmnya. 

Alih-alih memperkarakan, pemilik kedai malah sangat berterimakasih kepada sang aktor.   

Berbagai komentar, konten, dan postingan yang berseliweran di media sosial sesungguhnya banyak yang tidak berharga sama sekali.  

Tapi ia mampu menarik perhatian banyak orang bahkan menyita energi positif karena kita, tanpa sadar- telah mempromosikannya secara cuma-cuma melalui like, coment, dan share. 

Kita perlu belajar untuk mengabaikan banyak hal yang tidak layak untuk diperhatikan apalagi sampai menguras energi. Ini yang disebut sebagian pakar dengan tajahul mumanhaj (التجاهل الممنهج), pengabaian sistematis.   

Bayangkan kalau sejak awal dakwah, Rasulullah ﷺ hanya sibuk mengurus pamannya Abu Lahab yang menghinanya, merendahkannya dan menghalangi dakwahnya. Tentu dakwah akan berputar-putar di titik itu saja. Tidak akan meluas. 

Tapi Nabi ﷺtidak menjadikan ‘kasus’ pamannya sebagai perhatian utama yang akan menguras tenaga dan pikiran. Dengan begitu, energi luar biasa yang beliau miliki bisa dioptimalkan pada hal-hal besar yang menjadi target dan tujuan utama dakwah. Syekh Muhammad Al Ghazali, rahimahullah, pernah mengatakan : 

الغباء نقص والتغابي كمال ، والغفلة ضياع والتغافل حكمة 

“Bodoh itu kekurangan, tapi ‘bersikap’ bodoh (mengabaikan) adalah kesempurnaan. Lengah itu kehilangan, tapi ‘bersikap’ lengah (mengabaikan) adalah kebijaksanaan.”    

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

KHAZANAH REPUBLIKA