Gamzatova, Muslimah Penantang Putin di Pilpres

Aina Gamzatova, istri mufti di Dagestan akan menantang Presiden Vladimir Putin dalam pemilihan presiden Rusia bulan Maret mendatang, walaupun dipastikan dia tak akan menang.

“Pencalonan Gamzatova — wartawan, penasehat mufti pemerintahan Dagestan — akan diajukan pada Jumat (05/01/2018),” tulis Islam.ru, dalam akun Facebooknya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (02/01/2018).

Gamzatova merupakan pemimpin redaksi Islam.ru, media Islam terbesar di Rusia yang terdiri dari televisi, radio dan media cetak.

Putin telah memastikan akan mencalonkan diri lagi pada pemilihan presiden dan jajak pendapat menunjukkan ia akan menang dengan mudah.

Putin telah berkuasa sejak tahun 2000, sebagai presiden dan juga perdana menteri. Bila terpilih lagi, ia akan menjabat sampai tahun 2024.

Majunya Gamzatova sendiri menjadi perdebatan hangat di kalangan komunitas Muslim Rusia.

Seorang bloger terkenal Dagestan, Zakir Magomedov menulis, Gamzatova pasti tidak akan menang walaupun seluruh populasi Muslim yang berjumlah 20 juta memilihnya dalam pemilihan presiden di negara dengan 140 juta jiwa itu.

“Tentu saja dia tak akan jadi presiden. Untuk membicarakannya saja merupakan hal yang bodoh,” tulis Magomedov.

Gamzatova kemungkinan mendapatkan banyak suara di Dagestan dan Kaukasus utara.

“Dia jelas akan mendapatkan suara mayoritas dan Putin tak akan mendapatkan suara sebesar 146% seperti biasa dari republik itu,” sindir Magomedov mengacu pada guyonan di kalangan pengkritik Putin terkait suara yang biasa didapat dari pendukung setia presiden Rusia itu.

Mahasiswa Indonesia di Moskow yang tengah mengambil doktoral bidang politik, Eduardus Lemanto mengatakan jajak pendapat yang menempatkan Putin di posisi teratas karena dua barometer penting, keamanan dalam negeri serta ekonomi.

“Tentu ok-ok saja mereka masuk ke bursa pencalonan….tapi kira-kira mampu tidak menduduki posisi yang tuan Putin miliki,” kata Eduardus kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

“Jajak pendapat yang menempatkan Putin belakangan ini di posisi paling tinggi, saya rasa penilaian cukup fair. Ada dua barometer…barometer pertama soal keamanan dalam negeri Rusia, bangsa ini cukup tertib, di mana dunia tengah mencari ketertiban… yang kedua soal ekonomi, di bawah pemerintah Putin berjalan baik, ini jadi indikasi pemerintahan dia ini, berjalan secara efektif dan efisien,” tambahnya.

Sementara itu Gaydarbek Gaidarbekov, mantan juara tinju Olimpiade Dagestan melalui akun Instagramnya menulis pencalonan Gamzatova akan meningkatkan citra perempuan Muslim Rusia.

“Bahkan bilapun kalah, orang akan tahu bahwa perempuan berjilbab ini tidak hanya seorang ibu atau seorang wanita, namun juga orang berpendidikan, yang bijak dan terhormat,” tulis Gaidarbekov.

Melalui akun media sosialnya, Gamzatova menulis, “Negara kita, Rusia adalah rumah kita, dan bila kita memecahkan diri menjadi Muslim, Kristen, warga asli Kaukasus dan Rusia, pemerintah kita tak akan ada.”

Sementara dalam artikel yang diterbitkan Islam.ru, Gamzatova menulis pencalonannya bukan merupakan “upaya Muslim menciptakan persaingan bagi Vladimir Putin.”

“Pencalonan ini merupakan keinginan untuk mengumumkan dan mendukung pada tingkat federal posisi anti-Wahabi yang bersama-sama dilakukan oleh para pejabat lokal dan federal untuk diredam dalam tahun-tahun belakangan ini,” tulisnya. [bbc/lat]

 

INILAH MOZAIK

Ikut Pilpres, Muslimah Ini Jadi Penantang Putin

Presiden Vladimir Putin memiliki penantang baru untuk Pemilihan Presiden Rusia 2018. Ia adalah seorang perempuan Muslim asal Dagestan.

Aina Gamzatova, pertama kali mengumumkan pencalonan lewat Facebook pada Kamis. Hari Sabtu (30/12), ia membuatnya resmi. Ratusan pendukungnya berkumpul merayakan di Makhachkala, ibukota Dagestan.

Gamzatova ingin melihat polarisasi suara ketika ia maju untuk Maret nanti. Perempuan 46 tahun ini merupakan salah satu tokoh Muslim penting di Rusia.

Ia mengepalai perusahaan media terbesar di Rusia, Islam.ru yang terdiri dari televisi, radio, cetak, juga tulisan buku Islam. Gamzatova juga menjalankan sebuah lembaga amal.

Suaminya saat ini, Akhmad Abdulaev adalah seorang imam besar di Dagestan. Gamzatova sendiri dekat dengan aliran Sufi yang punya ratusan ribu pengikut. Pemimpinnya, Said-Afandi Chirkavi tewas dalam serangan bom bunuh diri di Kaukasus pada 2012.

Suami pertama Gamzatova adalah seorang pemimpin Muslim bernama Said Muhammad Abubakarov. Ia tewas di dalam mobilnya yang meledak pada 1998. Tidak pernah diketahui siapa yang membunuhnya.

Gamzatova sering menyebut musuhnya sebagai Wahabbi. Dalam buku-buku dan pidato-pidatonya, ia menyebut mereka haus darah. Ancaman pembunuhan dan kematian sering ia juga tokoh-tokoh Sufi dapatkan.

Pencalonan Gamzatova menjadi buah bibir di antara komunitas Muslim Rusia. Banyak yang menyesalkan, banyak juga yang memuji. Pihak kontra mengatakan seharusnya ia tidak keluar dari jangkauan suaminya.

Sementara pihak pro menyebutnya pemberani. Banyak pihak juga menilai bahwa keputusannya ini ingin meningkatkan citra perempuan Muslim Rusia. Juga ingin orang melihat wilayah Dagestan yang sangat butuh perhatian.

Wilayah ini terkenal kumuh, terlalu padat populasi, multi-etnis, dan sering terjadi konflik. “Meskipun dia kalah, orang-orang akan tahu perempuan berkerudung itu tidak hanya ibu, perempuan tapi juga terpelajar, bijak dan terhormat,” kata seorang mantan juara tinju Olympic yang juga wakil menteri olah raga Dagestan, Gaidarbek Gaidarbekov.

 

REPUBLIKA