Hikmah Halimah Al-Sa’diyah Menyusui Nabi Muhammad Kecil

Nabi Muhammad Saw lahir di kota Mekkah, Jazirah Arab 14 abad silam dengan menjadi bagian dari bangsa Arab, bangsa yang kental akan tradisi di dalamnya. Salah satu tradisi yang berlaku di kalangan masyarakat Arab saat itu ialah mencarikan ibu susuan untuk anaknya. Dengan harapan agar anak tersebut dikuatkan fisiknya, dijauhkan dari penyakit dan juga ada anggapan anak yang disusui oleh perempuan lain sebagai ibu susuannya dapat “mutqin”, fasih lisan dalam berbahasa Arab.  (lihat Rahiq al-Makhtum, hlm 57 cet Muntada al-Tsaqafa, Riyadh 2013) (Baca: Tiga Ibu yang Menyusui Nabi Muhammad)

Hal tersebut juga dilakukan oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Saw. Di mana ia, kemudian menyerahkan penyusuan Nabi Muhammad kecil pada Halimah binti Abi Dzuaib, dari bani Sa’ad bin Bakr atau yang lebih dikenal dengan Halimah Al-Sa’diyah. Nabi Muhammad kecil disusui oleh tiga perempuan, ia adalah ibunya; Aminah, hamba sahaya Abu Lahab; Tsuaibah al-Aslamiyah dan Halimah Al-Sa’diyah. Apa Hikmah Halimah menyusui Nabi?

Kisah Halimah Al-Sa’diyah Mencari Anak Susuan

Terdapat kisah yang menarik ketika Halimah Al-Sa’diyah mencari anak susuan sampai ia kemudian tiba di kota Mekkah, dan kemudian memilih Nabi Muhammad kecil sebagai anak susuannya.

Halimah yang berasal dari Bani Sa’ad bin Bakr keluar dari desanya dengan suaminya, Harits bin Abdil Uzza dan anaknya yang kemudian ia titip asuhkan untuk disusui pada salah satu perempuan dari kabilahnya, Bani Sa’ad bin Bakr yang sedang mencari anak susuan.

Kejadian tersebut terjadi pada tahun paceklik. Di mana Unta yang ia miliki  tidak meneteskan susu sedikitpun, malamnya dihabiskan dengan begadang karena tangis anaknya yang kelaparan. Air susunya tidak mencukupi anaknya, begitupun air susu untanya. Dalam keadaan terdesak oleh kebutuhan, Halimah keluar mencari peruntungan dengan menyusui anak orang lain dengan harapan mendapatkan imbalan dari keluarganya.

Halimah beserta rombongannya melakukan perjalanan jauh, hingga kemudian ia sampai ke kota Mekkah. Setiap perempuan dari kabilahnya kemudian mencari bayi susuan masing-masing. Namun, dari banyaknya perempuan rombongannya tersebut, tidak ada yang mau menerima Nabi Muhammad kecil sebagai anak susuan. Mereka tidak menerimanya dengan alasan Nabi Muhammad kecil ialah anak yatim yang kemungkinan memiliki sedikit bayaran jika menyusuinya, termasuk Halimah.

Tibalah semua perempuan rombongannya mendapatkan bayi susuan masing-masing. Halimah yang belum mendapatkan bayi susuan kemudian memutuskan membawa Nabi Muhammad kecil sebagai bayi susuannya. Dengan keterpaksaan, ia membawa Nabi Muhammad kecil sebagai bayi susuannya. Namun, ketika ia menerima Nabi Muhammad kecil sebagai bayi susuannya, ia mendapatkan keajaiban.

Sekembalinya ia dari Mekkah dengan membawa Nabi Muhammad kecil, air susu yang semula sulit keluar darinya dan untanya menjadi keluar dengan deras. Desanya yang semula tandus menjadi subur dengan datangnya Nabi Muhammad Saw. Sampai berlalu dua tahun, saatnya Nabi Muhammad kecil dikembalikan ke orang tuanya, Halimahpun ingin tetap Nabi Muhammad bersama keluarganya.

Hikmah Keputusan Halimah Al-Sa’diyah Memilih Nabi Muhammad Sebagai Anak Susuan

Keajaiban yang terjadi pada Halimah Al-Sa’diyah dengan keputusannya membawa Nabi Saw kecil sebagai anak susuan saat itu mulai dari tanah daerahnya yang menjadi subur, gembalaannya yang kemudian menjadi gemuk dan deras air susunya dari semula tidak meneteskan sedikitpun air susu menunjukan keluhuran dan tingginya derajat Nabi Muhammad Saw, bahkan sejak ia kecil.

Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam kitabnya “Fikih Sirah” (cet Daar Al-Fikr 2019, hlm 61) menjelaskan demikian:

يدل ما اتفق رواة السيرة النبوية من أن منازل حليمة السعدية عادت ممرعة مخضرة بعد أن كانت مجدبة قاحلة, وعاد الدر حافلا في ضرع ناقتها الكبيرة المسنة بعد أن كان يابسا لا يتندى بقطرة لبن يدل ذلك على علو شأن رسول الله صلى الله عليه وسلم ورفعة مرتبته عند ربه حتى منذ كان طفلا صغيرا كغيىره من الاطفال. فقد كان من أبرز مظاهر إكرام الله له أن أكرم بسببه بيت حليمة السعدية التي تشرفت بإرضاعه.

Apa yang disepakati para periwayat sirah nabawi yang menyatakan; bahwa tempat Halimah Al-Sa’diyah menjadi subur setelah sebelumnya kering dan tandus, air susu yang kembali mengalir pada unta-untanya setelah sebelumnya kering kerontang tidak meneteskan air sedikitpun, menunjukkan keluhuran Nabi Muhammad Saw dan ketinggian derajatnya di sisi Tuhan, sehingga dari mulai ia kecil seperti anak kecil lainnya. Dan sungguh diantara penamkan kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya ialah dengan sebab keberadaannya Allah memuliakan rumah Halimah Al-Sa’diyah yang menyusuinya.

Wallahu a’lam

BINCANG SYARIAH