Bagaimana Mengukur Keberkahan Hidup?

JANGAN sampai segala usahamu tidak bermakna apa-apa atau bahkan menjalani hidup tanpa keberkahan. Engkau berjuang untuk kebahagiaan hidupmu, tetapi yang kau jumpai hanya keletihan. Ada orang yang bekerja tak kenal waktu untuk mengejar materi yang banyak, dia mengira kebahagiaan diukur oleh kuantitas sesuatu yang ia kejar. Tetapi seiring perjalanan waktu dia menyadari bahwa apa yang menjadi pandangannya itu keliru. Nyatanya kebahagiaan tidak berhubung-kait dengan sebanyak apa dia memperoleh sesuatu.

Kebahagiaan adalah masalah nilai, yaitu bagaimana seseorang menikmati apa yang telah ia peroleh dan bagaimana ia mengolahnya. Dengan bahasa yang sederhana, sesungguhnya kualitas lah yang menentukan kebahagiaan, bukan kuantitas. Inilah rahasianya kita bisa menjumpai seseorang yang selalu berbahagia dengan kehidupannya. Tak peduli ketika ia disapa hari-hari yang sulit, atau bahkan kegagalan.

Kebahagiaan seperti ini adalah keberkahan. Bukan cuma saya yang mengatakan demikian. Ternyata Al-Farra dan Abu Mansur juga mengatakannya. Menurut keduanya, yang dimaksud dengan keberkahan dalam kalimat tasyahud yang berbunyi, “Assalamu’alaika ayyuha nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh”, adalah kebahagiaan.

Ini luar biasa, sebab kita jadi sadar bahwa semua doa yang berisikan keberkahan adalah doa untuk kebahagiaan. Dan betapa banyaknya doa yang kita panjatkan untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup. Ketika seorang dianugerahkan seorang anak, mendapatkan keuntungan materi, menempati rumah baru, atau menikah, doa yang kita lantunkan adalah agar orang itu memperoleh keberkahan.

Hal terpenting dari semua hal di atas adalah keberkahan, yaitu nilai atau kualitas dalam mendayagunakan kenikmatan tersebut. Anak yang membawa keberkahan bagi orangtuanya adalah anak yang saleh, dia tumbuh berkembang di dalam keluarga yang religius, taat kepada Allah, dan berbakti kepada orang tua. Begitu pula harta yang berkah, yaitu harta yang digunakan untuk kebaikan dan menolong orang lain.

Rumah yang dipenuhi keberkahan adalah yang berisi kedamaian, ketenangan, dan hubungan antar-penghuni rumah yang harmonis. Pernikahan yang diberkahi adalah pernikahan yang bertolak dari keinginan untuk menyempurnakan agama, saling membantu ketaatan, dan membentuk keluarga yang sakinah.

Doa yang dianjurkan untuk diucapkan buat pengantin baru adalah “Barakallahu laka Baraka ‘alaika…”. Sepenggal doa yang pendek namun sangat padat makna. Barakallahu laka adalah doa agar Allah selalu memberi berkah-Nya pada saat keluarga dalam keadaan baik dan penuh kemudahan. Adapun barakallahu ‘alaika berarti keberkahan-Nya juga akan diperoleh pada saat keluarga ditimpa ujian, sedang dalam kesulitan dan konflik, dan sebagainya.

Di dalam kehidupan, secara manusiawi seseorang berambisi untuk memperoleh hasil yang terbaik dan menorehkan prestasi demi prestasi. Tidak ada yang salah dari hal itu, namun belum cukup. Sebab hal yang lebih penting untuk dimiliki adalah bagaimana prestasi itu menjadi berkah bagi pemiliknya. Tidak semua prestasi dapat menjelma menjadi keberkahan. Banyak nikmat dan anugerah dari Allah SWT yang alih-alih membawa keberkahan, malah menjadi fitnah dan musibah bagi seseorang.

Misalnya seorang mahasiswa menorehkan prestasi akademik yang gemilang, tetapi prestasinya justru membuatnya sombong dan meremehkan teman-teman yang lain, tentu saja keberkahan ilmu yang ia dapatkan akan menguap begitu saja, atau bahkan menjadi bencana dan mencelakakan dirinya. Atau seorang karyawan sebuah perusahaan yang baru dipromosikan jabatan yang lebih tinggi dan gajinya pun naik, ketika sampai di rumah dan ia bercerita keada istrinya, langsung saja istrinya membuat daftar belanja baru yang lebih besar. Alih-alih kenaikan gajinya menjadi berkah, justru membuat keluarganya semakin konsumtif dan bergaya hidup hedonis. Kalau seperti ini, dimana keberkahan dari prestasi yang telah diraih?

Hidup yang tidak berkah membuat apa yang telah susah payah diraih menjadi sia-sia, dan itu adalah musibah yang besar. Celakanya kita tidak cepat menyadari, bahkan sampai persoalan-persoalan besar mengepung dimana-mana. Sementara kita tidak mengetahui bahwa muara semua problematika hidup kita hanya satu; hilangnya keberkahan. Inilah mengapa kita penting berbicara tentang keberkahan hidup.

Ada orang yang berbangga dengan hartanya yang melimpah, kekuasaan, dan penghormatan manusia kepadanya, berbangga dengan kepintaran dan sekolah yang tinggi, atau anak-anak yang lucu dan pintar. Benar, bahwa itu semua adalah kenikmatan dari Allah SWT yang Mahabaik. Akan tetapi apakah semua itu telah membawa keberkahan bagi hidupnya? Mari sama-sama kita renungi perkara-perkara yang biasanya menjadi ukuran kesuksesan manusia itu, apakah ia membawa keberkahan atau sebaliknya?

Maka orientasi kita bukan lagi prestasi yang diukur oleh faktor-faktor kebendaan semata. Lebih dari itu, hidup adalah perjuangan akan sebuah nilai keimanan serta menjaga konsistensinya dengan ketakwaan.

Bagi saya, beginilah memahami keberkahan dengan sederhana, begini pula memahami firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-Araf: 96).
Semoga diberkahilah kehidupanmu, sahabat. Barakallahu fiikum.*/Faris BQ, lc, MA

HIDAYATULLAH