Loyalitas yang Prioritas

Loyalitas kita, untuk siapa?

Pernahkah kita melihat bagaimana loyalitas (ketaatan/kesetiaan) seorang pembantu kepada majikannya? Atau seorang staf kepada bosnya? Atau seorang pegawai istana kepada sultannya?

Loyalitas yang begitu tinggi dipersembahkan untuk sang petinggi. Apapun suruhan sang majikan, dilaksanakan dengan sepenuh jiwa dan raga demi sesuap nasi dan sedikit gaji meskipun tenaga telah terkuras. Apapun perintah si bos, dikerjakan meski harus lembur hingga dini hari demi mengejar gaji yang tinggi. Seperti apapun titah sang sultan, akan dipenuhi demi sebuah kebanggaan sebagai seorang abdi kerajaan.

Coba pula kita memperhatikan diri sendiri. Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang lain? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ibunda yang telah melahirkan dan membesarkan kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ayahanda yang telah menafkahi dan mendidik kita hingga dewasa? Pernahkah kita berhutang jasa kepada seseorang yang pernah menyelamatkan nyawa kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah menarik tangan kita saat diri ini berada dalam kubangan dosa dan maksiat? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah memberikan bantuan materi saat diri kita berada dalam keterpurukan ekonomi?

Bukankah mereka berhak mendapatkan cinta, kasih sayang, loyalitas, penghargaan, dan segala kebaikan dari kita yang memang layak bagi mereka sebagai bentuk balas budi atas jasa yang luar biasa ? Tentu saja, ya.

Lalu, bagaimana dengan Zat Pencipta yang telah menciptakan kita, memberi kita nyawa, menyempurnakan bentuk tubuh kita, menganugerahkan akal, kecerdasan, dan pengetahuan kepada kita sehingga dengannya kita mendapatkan ilmu, harta dan segala pernik dunia?

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. Al-Tīn: 4).

Allah  Ta’ala juga berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya (Allah). Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-A’rāf: 54).

Begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang kebesaran Allah Ta’ala yang menentukan segala hal yang terjadi maupun tidak terjadi di jagat raya ini. Begitu pula seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah tempat meminta segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlās: 2).

Maka, adakah yang lebih layak untuk ditunaikan haknya daripada Allah Ta’ala? Tentu jawabannya adalah tidak ada. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang setiap saat bergantung kepada-Nya di segala lini kehidupan, wajib bagi kita untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala atas diri kita.

Dua hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا

“Hak Allah atas para hamba adalah para hamba beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pertama, at-tauhid

Berdasarkan hadis di atas diterangkan bahwa hak Allah yang paling utama pada diri seorang hamba adalah at-tauhid, yaitu mengesakan Allah. Syekh Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullāh menjelaskan dalam kitabnya al-Qaulul Mufīd menjelaskan makna tauhid,

إفراد الله- تعالى- بما يختص به من الربوبية والألوهية والأسماء والصفات.

“Mengesakan Allah Ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu dalam perkara al-rububiyyahal-ulūhiyyah, dan al-asmā’ wa al-shifāt” (Al-Qaulul Mufīd, 1: 8).

Para ulama telah banyak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana memenuhi hak Allah dengan mentauhidkan-Nya. Karena telah terang bagi kita tujuan penciptaan jin dan manusia adalah hanya untuk menyembah Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Al-Zariyat: 56).

Syekh Shalih al-Fauzān Hafizhahullāh menjelaskan makna ibadah yang dimaksudkan dalam ayat di atas,

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال  الباطنة والظاهرة

“Ibadah adalah satu kata yang mencakup segala hal yang Allah cintai dan ridai, berupa perkataan, perbuatan, perkara batin, dan perkara zahir” (al-Mulakhkhas fi Syarhi Kitāb al-Tauhid, 9: 428).

Kedua, tidak dipersekutukan

Sedangkan hak selanjutnya bagi Allah Ta’ala adalah tidak dipersekutukan dengan sesuatu pun. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS. An-Nisā’: 36).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’” (QS. Al-An’ām: 162).

Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa kesyirikan termasuk di antara tujuh dosa yang membinasakan (al-mūbiqāt). Hal ini sebagaimana hadisnya,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ

Rasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh al-mūbiqāt (dosa yang membinasakan).” Mereka (sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “(1) Syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali dengan jalan yang benar, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) lari dari medan perang, (7) qazaf (menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89 dari hadis Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu).

Hakikat memenuhi hak Allah Ta’ala

Banyak ayat dan hadis yang menjelaskan tentang bahaya menyekutukan Allah karena memang ini adalah hak Allah yang mesti dipenuhi oleh seorang hamba. Apabila kita kaji, pada hakikatnya memenuhi hak-hak Allah yang ada pada diri kita jauh lebih mudah daripada memenuhi hak makhluk-Nya.

Bagaimana tidak, apa sulitnya untuk memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Ta’ala yang berupa doa, salat, istigātsah, puasa, zakat, haji, dan berbagai macam ibadah lainnya? Sedangkan untuk memenuhi hak majikan seorang pembantu harus bekerja keras, seorang staf harus bersusah payah lembur demi tuntutan bosnya, serta seorang pegawai istana mesti berkeringat basah untuk mendapatkan pengakuan kesetiaannya.

Persoalan yang kemudian menjadi tantangan bagi seorang hamba dalam menunaikan hak Tuhannya adalah kemauan dan tekad kuat untuk mempelajari ilmu agamanya.

Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa dia telah mengesakan Allah Ta’ala dengan benar dan yakin bahwa di setiap ibadahnya tidak ada unsur menyekutukan Allah (kesyirikan) apabila dia tidak belajar tentang ilmu tauhid dan tidak mengerti apa itu kesyirikan?

Bagaimana pula dia dapat menunaikan hak Tuhannya apabila dia tidak mengerjakan ibadah dengan benar sesuai petunjuk nabi-Nya apabila dia tidak belajar tentang fikih ibadah dan manhaj nabi-Nya?

Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengetahui skala prioritas dalam menentukan loyalitas kita yang sesungguhnya. Orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan dari kita. Namun jangan pula kita lupakan bahwa Allah Ta’ala juga memiliki hak yang menjadi super prioritas untuk kita tunaikan sebagai bentuk penghambaan dan loyalitas tertinggi yang kita persembahkan hanya untuk-Nya.

Wallāhu a’lamu bi al-shawāb.

***

Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPA

Artikel: Muslim.or.id