Mati Tenggelam Dihukumi Syahid Akhirat, Begini Penjelasannya!

Setelah hampir sepekan Emmeril Khan Mumtadz yang tenggelam di Sungai Aare, Swiss tidak kunjung ditemukan, keluarga akhirnya merelakan. Ridwan Kamil mengikhlaskan kepergian putranya setelah dilakukan pencarian dengan segala cara menemui jalan buntu. Demikian juga keluarga yang lain ikhlas berpisah selamanya dengan Eril, takdir telah menentukan mereka harus berpisah dengannya, selamanya.

Turut berduka cita yang mendalam, semoga segala amal kebaikannya diterima oleh Tuhan.

Dalam agama Islam, meninggal karena tenggelam dihukumi syahid akhirat. Tentu saja bukan mati tenggelam karena ada unsur kesengajaan, seperti naik perahu saat mengetahui badai akan berkecamuk.

Tentang mati syahid, para ulama membedakannya ke dalam tiga kategori. Pertama, syahid dunia dan akhirat. Kedua, syahid di dunia saja. Dan, ketiga syahid akhirat.

Syaikh Nawawi al Bantani dalam kitabnya Nihayatuz Zain menulis, adakalanya syahid akhirat saja, maka ia seperti orang yang tidak syahid (dalam hal tajhizul mayit). Kategori syahid akhirat seperti meninggal karena sakit perut, orang yang mati sebab tenggelam sekalipun karena sebab melakukan kemaksiatan, seperti habis menenggak minuman keras. Tapi, kalau ada unsur kesengajaan tidak dihukumi syahid, seperti naik perahu saat badai mengamuk.

Penjelasan yang sama ditulis oleh Abu Bakr Syatha al Dimyati dalam kitabnya I’anatut Thalibin. Termasuk kategori mati syahid akhirat adalah mati tenggelam meskipun dalam keadaan bermaksiat, dan orang yang meninggal karena tertimpa sesuatu.

Penjelasan ini berdasarkan hadits Nabi. Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Apa yang dimaksud orang yang mati syahid diantara kalian”?

Para sahabat menjawab: “Wahai Rasulullah, orang yang meninggal di jalan Allah, mereka itulah orang yang mati syahid”.

Nabi bersabda: “Kalau begitu, sedikit sekali jumlah umatku yang mati syahid”?

Para sahabat bertanya lagi: “Lalu, siapa saja yang tergolong mati syahid selain berperang di jalan Allah “?

Nabi menjawab: “Mereka yang terbunuh di jalan Allah, dialah orang yang mati syahid, mereka yang mati karena penyakit kolera, dan mati karena sebab sakit perut “. Ibnu Miqdam berkata: “Aku bersaksi atas ayahmu tentang hadits ini, bahwa Nabi juga berkata: “Orang yang meninggal karena tenggelam juga syahid”. (HR. Muslim)

Adapun yang dimaksud mati syahid akhirat adalah memperoleh pahala seperti pahala syuhada yang gugur di medan perang. Perbedaannya hanya pada tajhiz mayit atau merawat mayit. Orang yang syahid dunia dan akhirat dikafani dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya, tidak dimandikan dan tidak dishalatkan, langsung dikuburkan.

Sedangkan orang yang syahid akhirat saja penanganan atau tajhizul janaiz sama dengan muslim yang meninggal pada umumnya. Ia hanya mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid dunia dan akhirat.

Keistimewaan Mati Syahid

Keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka yang mati syahid disebutkan dalam hadits Nabi riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad yang bersumber dari sahabat Miqdam bin Ma’di.

Rasulullah bersabda: “Orang yang mati syahid memperoleh tujuh keistimewaan dari Allah; diampuni sejak awal kematiannya, melihat tempatnya di surga, dijauhkan dari siksa kubur, aman dari huru-hara akbar, di kepalanya dipakaikan mahkota mewah yang terbuat dari batu Yakut terbaik di dunia, dikawinkan dengan 72 bidadari, dan diberi syafaat sebanyak 70 dari kerabatnya”.

Dari penjelasan di atas, Eril masuk kategori mati syahid akhirat. Ia mendapat pahala seperti pahala syuhada di medan perang. Namun, apabila ia nanti diketemukan perawatan janazahnya sama dengan muslim pada umumnya.

Mati syahid, sekalipun hanya syahid akhirat tentu diharapkan karena besarnya pahala mati syahid. Akan tetapi, kematian adalah takdir Allah yang dirahasiakan, termasuk sebab kematian tersebut juga dirahasiakan. Tidak semua orang muslim akan mati syahid sekalipun hanya syahid akhirat. Sebab itu, andaipun kita tidak bisa meraih mati syahid, doa terbaik kita adalah berharap semoga dimatikan dalam keadaan “Husnul khatimah”.

ISLAM KAFFAH