Sebab-Sebab Lapangnya Hati

Dalam tulisan kami sebelumnya berjudul, “Nikmat Lapangnya Hati”, kami membahas salah satu nikmat yang besar, yaitu nikmat kelapangan hati. Hati yang lapang merupakan nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi kehidupan seorang hamba. Dalam tulisan kali ini, kami sebutkan sejumlah sebab dan sarana yang bisa mendatangkan kelapangan hati tersebut.

Sebab pertama, tauhid dan ikhlas dalam menjalankan agama.

Tauhid dan ikhlas merupakan sebab yang paling penting dalam memperoleh kelapangan hati dan sebagai sebuah tujuan ketika Allah menciptakan makhluk. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Semakin besar nilai tauhid yang diwujudkan oleh seorang hamba dalam hidupnya, maka akan semakin sempurna pula kelapangan dan ketenangan hati yang akan dia dapatkan. Selain itu, dia pun semakin berbahagia di dunia dan akhirat.

Sebab kedua, cahaya iman yang Allah tanamkan dalam hati seorang hamba.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya?)” (QS. Az-Zumar: 22)

Makna ayat ini adalah bahwa dia berada di dalam cahaya (iman) sebagai kepanjangan dari Allah dan karunia dari-Nya. Hal ini karena cahaya iman tersebut akan menyebabkan kelapangan hati dan juga akan menghadirkan kebahagiaan di dalam hati. Jika cahaya iman itu hilang, maka hati akan sempit, sesak, sedih, dan gelisah. Kadar kelapangan hati yang didapat oleh seorang hamba itu sesuai dengan seberapa terang cahaya iman itu bersinar di dalam hatinya. (Lihat Zaadul Ma’ad, 2: 28)

Sebab ketiga, ilmu agama yang bermanfaat.

Setiap kali ilmu agama seseorang bertambah, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan sunah Nabi shalllallahu ’alaihi wasallam, maka akan semakin bertambah pula kelapangan hatinya. Kehidupannya pun akan semakin baik.

Ilmu agama tersebut akan memuliakan dan meninggikan derajat seseorang. Ilmu juga akan membahagiakan pemiliknya. Kesuksesan yang diimpikan seorang hamba di dunia dan akhirat itu didapat melalui ilmu agama. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Sebab keempat, kembali kepada Allah, menerima dan tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya, serta senang (bahagia) ketika melakukan ibadah.

Karena taat kepada Allah dan ibadah kepada-Nya, adalah istirahatnya hati dan dan kebahagiaan di dalam dada.  Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tidak ada sesuatu apapun yang dapat melapangkan hati melebihi kesadaran untuk selalu taat kepada Allah, menerima perintah dan larangan Allah, dan bernikmat-nikmat dengan ibadah. Hingga ada yang sampai mengatakan, “Jika aku di surga merasakan keadaan seperti itu, itu artinya aku berada dalam hidup yang baik.” (Zaadul Ma’ad, 2: 29)

Salat misalnya, betapa hati dibuat menjadi sejuk karena mendirikan salat, betapa pikiran menjadi tenang karenanya. Dan betapa hening hati orang beriman karenanya. Sampai-sampai Nabi shallallahu’ alaihi wasallam bersabda,

قم يا بلال أقم فأرحنا بالصلاة

“Berdirilah, wahai Bilal. Lantunkanlah ikamah, istirahatkanlah kami dengan (mendirikan) salat.” (HR. Abu Dawud no. 4986. Dinilai sahih oleh Al-Albani)

Sebab kelima, merutinkan zikir.

Karena rutin berzikir mengingat Allah Ta’ala adalah sebab yang paling besar untuk meraih ketenteraman hati, kelapangan jiwa, dan hilangnya kesedihan dan kegelisahan. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Sebab keenam, berbuat baik (ihsan) kepada sesama.

Allah Ta’ala memerintahkan,

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Berbuat ihsan kepada sesama makhluk dapat dilakukan dengan berbagai bentuk tindakan konkrit maupun abstrak. Bisa dengan kedudukan, harta, musyawarah, atau dengan empati kepada sesama. Seseorang yang berbuat ihsan kepada sesama, maka akan Allah Ta’ala balas dengan kelapangan hati, dimudahkan urusan hidupnya, serta akan mendapatkan kesuksesan saat ini maupun di masa yang akan datang.

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

من نفَّسَ عن مسلمٍ كُربةً مِن كُربِ الدُّنيا نفَّسَ اللَّهُ عنهُ كربةً مِن كُرَبِ يومِ القيامةِ ، ومن يسَّرَ على مُعسرٍ في الدُّنيا يسَّرَ اللَّهُ عليهِ في الدُّنيا والآخرةِ ، ومن سَترَ على مُسلمٍ في الدُّنيا سترَ اللَّهُ علَيهِ في الدُّنيا والآخرةِ ، واللَّهُ في عونِ العَبدِ ، ما كانَ العَبدُ في عونِ أخيهِ

“Siapa saja yang membantu suatu kesulitan dunia yang dialami oleh seorang mukmin, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam hutangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Sebab ketujuh, menjauh dari penyakit-penyakit hati.

Hati, sebagaimana badan, berpotensi mengidap banyak penyakit. Bahkan penyakit hati tersebut dapat berdampak besar terhadap diri seseorang. Penyakit hati itu seperti hasad, dendam, benci, dan yang lainnya. Penyakit ini akan menyebabkan sesak dan sempitnya hati seseorang, serta dapat mengakibatkan hari-harinya buruk dan gelap. Sehingga sebaliknya, orang yang selamat dari penyakit hati, maka dia akan merasakan kelapangan, ketentraman, dan ketenangan hati.

Sebab kedelapan, meninggalkan aktivitas-aktivitas yang tidak bermanfaat.

Salah satu sebab kelapangan hati adalah menjaga lisan, telinga, dan mata dari berbicara, mendengar, dan melihat hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat. Jika seseorang menyibukkan diri dengan aktivitas yang tidak bermanfaat, maka hal itu akan membuatnya abai terhadap aktivitas yang penting dan bermanfaat, baik di kehidupan dunia ataupun akhiratnya. Menyibukkan diri dalam hal yang tidak bermanfaat akan membuat hidup terasa sempit, selalu mengeluh, dan susah.

Oleh karena itu, seorang mukmin harus berjuang membersihkan hati dan menghiasnya dengan akhlak-akhlak yang baik, memberikan perhatian terhadap etika, selalu waspada menjaga hati dari penyakit-penyakitnya dan menjauh dari apa saja yang dapat membahayakan hati.

Sebab kesembilan, mengikuti sunah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan baik.

Mengikuti sunah dan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wasallam adalah sebab yang paling potensial untuk memperoleh kelapangan hati, bahkan merupakan kunci pembuka seluruh sebab kelapangan hati lainnya. Hal ini karena dengan mengikuti sunah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, seseorang telah mengikuti manusia yang paling lapang hatinya dan paling baik akhlaknya.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. As-Syarh: 1)

Kelapangan dada yang Allah Ta’ala berikan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam berupa terkumpulnya seluruh sifat yang baik dan etika-etika (akhlak) yang luhur. Oleh karena itu, semakin banyak upaya seseorang mengikuti sunah-sunah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, maka akan semakin lapang hatinya, semakin tenang pikirannya, dan semakin tentram jiwanya.

Ya Allah, lapangkanlah hati kami, mudahkan seluruh urusan hidup kami, dan tolonglah kami dalam meniti jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

***

@Kantor Pogung, 15 Ramadan 1445/ 26 Maret 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 61; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Sumber: https://muslim.or.id/92850-sebab-sebab-lapangnya-hati.html
Copyright © 2024 muslim.or.id