Taliban Akui Salah Pimpin Afghanistan

Taliban mengakui telah melakukan kesalahan selama bulan-bulan pertama memimpin Afganistan. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi.

“Kami akan bekerja untuk lebih banyak reformasi yang dapat menguntungkan bangsa,” ujarnya tanpa merinci kesalahan atau kemungkinan reformasi.

Ia mengatakan para penguasa baru Taliban Afghanistan pada prinsipnya berkomitmen pada pendidikan dan pekerjaan untuk anak perempuan dan perempuan. Ia juga menyebut Taliban menyadari kemarahan dunia atas pembatasan yang diberlakukan Taliban pada pendidikan anak perempuan dan perempuan dalam dunia kerja.

Di banyak bagian Afghanistan, siswa perempuan antara kelas 7 dan 12 tidak diizinkan pergi ke sekolah sejak Taliban mengambil alih. Banyak pegawai negeri perempuan diperintahkan untuk tinggal di rumah.

Para pejabat Taliban mengatakan mereka membutuhkan waktu untuk membuat pengaturan pemisahan gender di sekolah dan tempat kerja. Muttaqi mengatakan Taliban telah berubah sejak terakhir memerintah.

“Kami telah membuat kemajuan dalam administrasi dan politik … dalam interaksi dengan bangsa dan dunia. Dengan berlalunya hari, kami akan mendapatkan lebih banyak pengalaman dan membuat lebih banyak kemajuan,” kata Muttaqi berbicara dalam bahasa Pashto selama wawancara di gedung Kementerian Luar Negeri di jantung ibu kota Kabul pada akhir pekan.

Muttaqi mengatakan bahwa di bawah pemerintahan baru Taliban, anak perempuan akan bersekolah hingga kelas 12 di 10 dari 34 provinsi di negara itu. Sedangkan sekolah swasta dan universitas beroperasi tanpa hambatan, dan 100 persen perempuan yang sebelumnya bekerja di sektor kesehatan kembali bekerjaan.

“Ini menunjukkan bahwa kami pada prinsipnya berkomitmen untuk partisipasi perempuan,” katanya.

Muttaqi menyatakan pemerintah Taliban menginginkan hubungan baik dengan semua negara dan tidak memiliki masalah dengan Amerika Serikat (AS). Dia mendesak Washington dan negara-negara lain untuk melepaskan lebih dari 10 miliar dolar AS dana yang dibekukan.

“Sanksi terhadap Afghanistan tidak akan … tidak ada manfaatnya. Membuat Afghanistan tidak stabil atau memiliki pemerintah Afghanistan yang lemah bukanlah kepentingan siapa pun,” kata Muttaqi.

IHRAM