Tata Cara Wudhu Nabi Shallallahu “Alaihi Wa Sallam

Pengertian Wudhu

Secara bahasa wudhu berasal dari kata : wadha’ah, yang artinya indah, bagus, dan bersih. [al-Munawi, at-Tauqif `ala Muhimmaati at-Ta`arif, Dar al-Fikr, Beirut, 1410 H, fashl: Dhad]. Jika huruf wawu-nya di-fathah, sehingga dibaca wadhu, artinya air yang digunakan untuk berwudhu. Sedangkan, jika huruf wawu-nya di-dhammah, sehingga dibaca: wudhu maka artinya kegiatan berwudhu.

Secara istilah, wudhu dalam pengertian syariat adalah bersuci dengan menggunakan air pada anggota badan tertentu, dengan tata cara tertentu. (Mausu`ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 43:315)

Shalat Tidak Sah Tanpa Berwudhu

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Shalat tidak diterima tanpa bersuci dan tidak ada sedekah dari hasil korupsi”

(HR. Muslim 557)

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “Hadits ini adalah dalil tegas mengenai wajibnya thoharoh untuk shalat. Kaum muslimin telah bersepakat bahwa thoharoh merupakan syarat sah shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 3:102)

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima -ketika masih

Berhadats- sampai dia berwudhu.” (HR. Muslim 225)

Tata Cara Wudhu

Mengenai tata cara berwudhu diterangkan dalam hadits berikut:

حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ – رضى الله عنه – دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلاَةِ

Humran mantan budak Utsman menceritakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pernah meminta air kemudian beliau berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian berkumur-kumur sambil memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh mukanya 3 kali, kemudian membasuh tangan kanan sampai ke siku 3 kali, kemudian mencuci tangan yang kiri seperti itu juga, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kaki kanan sampai mata kaki 3 kali, kemudian kaki yang kiri seperti itu juga. Kemudian Utsman berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian dia shalat dua rakaat dengan khusyuk (tidak memikirkan urusan dunia dan yang tidak berkaitan dengan shalat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Ibnu Syihab berkata, “Ulama kita mengatakan bahwa wudhu seperti ini adalah contoh wudhu yang paling sempurna yang dilakukan seorang hamba untuk shalat”. (HR. Muslim 226)

Dalam hadis yang lain disebutkan,

عمرو بن أبي الحسن سأل عبد الله بن زيد عن وضوء رسول الله صلى الله عليه وسلم فدعا بتور من ماء فتوضأ لهم وضوء رسول الله صلى الله عليه وسلم فأكفأ على يديه من التور فغسل يديه ثلاثاً ثم أدخل يديه في التور فمضمض واستنشق واستنثر ثلاثاً بثلاث غرفات ثم أدخل يده في التور فغسل وجهه ثلاثاً ثم أدخل يده فغسلهما مرتين إلي المرفقين ثم أدخل يديه فمسح بهما رأسه فأقبل بهما وأدبر مرة واحدة ثم غسل رجليه.

وفي رواية (( بدأ بمقدم رأسه حتى ذهب بهما إلي قفاه ثم ردهما حتى رجع إلي المكان الذي بدأ منه ))

Dari Amr bin Abil Hasan, bahwa beliau bertanya kepada Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, tentang wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau meminta air satu bejana, dan berwudhu di hadapan mereka sebagaimana wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menuangkan air di bejana ke kedua tangannya, dan mencuci tangannya tiga kali. Lalu beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam bejana, dan berkumur sambil menghirup air ke dalam hidung dan disemprotkan, dilakukan sebanyak tiga kali dengan tiga telapak tangan. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke bejana dan mengusap wajahnya tiga kali. Kemudian memasukkan lagi tangan beliau, dan mencuci kedua tangan sampai ke siku dua kali. Kemudian beliau memasukkan lagi kedua tangan, dan digunakan mengusap kepalanya. Belilau mulai dari awal lalu ke belakang sekali. Kemudian beliau mencuci kedua kakinya.

Dalam riwayat yang lain: Beliau mulai dari depan kepalanya, kemudian ditarik sampai ke tengkuknya, lalu kembali lagi sampai depan. (Muttafaq ‘alaihi)

Dari hadits di atas dan hadits lainnya, dapat disimpulkan tahapan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

  1. Berniat – dalam hati – untuk menghilangkan hadats.
  2. Membaca basmalah : “bismillah...” dan bacaan basmalah ketika wudhu hukumnya wajib. Berdasarkan hadis:
  3. Menuangkan air ke telapak tangan dan mencuci tangan sampai pergelangan tiga kali.
  4. Mengambil air dengan tangan kanan, lalu digunakan untuk berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung ) sekaligus dengan satu cidukan. Ini berdasarkan hadis dari Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan satu telapak tangan, dan beliau lakukan sebanyak tiga kali. (HR. Muslim 235)
  5. Mengeluarkan air dari hidung dan mulut dengan menggunakan tangan kiri.
  6. Mencuci wajah sebanyak tiga kali.
  7. Menyela-nyelai jenggot, sekali. Berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu, beliau mengambil secakup air kemudian memasukkannya ke bawah dagunya lalu digunakan menyela-nyelai jenggot beliau. (HR. Abu Daud 145 dan dinilai sahih oleh al-Albani)
  8. Mencuci tangan kanan terlebih dahulu 3 kali, kemudian kiri 3 kali. Sambil menyela-nyelai jari. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sempurnakanlah wudhu dan sela-selai jari-jari”. (HR. Abu Daud 142 dan dinilai sahih oleh al-Albani)
  9. Mengusap kepala, di mulai dari depan, tempat tumbuhnya rambut paling awal, kemudian ditarik ke belakang, lalu kembali lagi ke depan.
  10. Mengusap telinga, tanpa mengambil air lagi, namun cukup menggunakan air bekas mengusap telinga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telinga bagian dari kepala”. (HR. Abu Daud 134, Turmudzi 37 dan dinilai sahih oleh al-Albani)
  11. Mencuci kaki tiga kali, dengan menyela-nyelai jari dengan menggunakan kelingking. Berdasarkan riwayat, dari Mustaurid bin Syaddad, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu, beliau menyela-nyelai jari kakinya dengan kelingkingnya. (HR. Abu Daud 148 dan dinilai sahih oleh al-Albani)

Beberapa catatan hal penting terkait wudhu

Ada beberapa catatan penting terkait wudhu yang tidak disebutkan dalam tata cara wudhu di atas. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah bilangan gerakan wudhu:
  2. Bagian siku wajib basah ketika mencuci tangan
  3. Dibolehkan mengusap kepala dengan menggunakan air sisa mencuci tangan
  4. Tiga cara dalam mengusap kepala
  5. Mengusap kepala boleh tiga kali
  6. Tertib (berurutan) dalam berwudhu
  7. Muwalah (berkelanjutan dan tidak putus) dalam wudhu

Referensi:

  • Al-Munawi, At-Tauqif `ala Muhimmaati At-Ta`arif, Dar al-Fikr, Beirut, 1410 H, fashlDhad.
  • Mausu`ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 1427 H., 43/315.

Syarh Shahih MuslimAn-Nawawi, Dar Ihya` at-Turats, Beirut, 1392 H, 3:102.

Artikel www.Yufidia.com