Alasan di Balik Keramahan Para Tetangga Kakbah

REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH — Rumah permanen pertama yang dibangun di sekitar Kakbah, Makkah berciri khas tidak memiliki pintu. Ada sebuah makna di balik kekhasan tersebut.

Onislam.net melansir, rumah-rumah itu mengindikasikan tamu disambut baik di Makkah. Bahkan mereka dianggap  seperti berada di rumahnya sendiri. Warga Mekkah menginstimewakan para tamu. Hal itu sesuai dengan prinsip sambutan Arab atas tamu, yaitu ahlan wa sahlan yang berarti selamat datang.

Keramahtamahan warga Mekkah sudah berlangsung sebelum masuknya agama Islam. Warga Makkah amat peduli dengan tugas menjaga dan merawat Kakbah. Suku Quraisy yang mendiami Makkah saling berbagi tugas terhadap wilayah Kakbah.

Ada yang bertugas menyediakan perlindungan, makanan dan minuman kepada para tamu Makkah. Pembagian tugas dilakukan juga untuk mencegah perpecahan pada setiap klan. Lewat kerja keras suku Quraisy itulah, para tamu Allah datang setiap tahunnya ke Makkah.

Bani Shayba’ bertugas memegang kunci bangunan Kakbah. Sedangkan hak menyuplai minuman kepada para jamaah diberikan kepada bani Hashim bin Abdul Manaf.

Tentunya menjaga suplai minuman di Makkah bukanlah tugas mudah. Proses pengambilan air harus dilakukan di sumur-sumur di seluruh Makkah.

Setelah itu, air diangkut oleh unta  untuk mengisi tangki penyimpanan di Masjidil Haram. Sementara itu, Qusayy bin Kilab berperan dalam penyediaan makanan bagi tamu Mekkah. Makanan-makanan itu berasal dari dermawan suku Quraish.

Orang-orang Quraisy percaya tugas mereka amatlah besar sebagai tetangga dari rumah Allah. Mereka meyakini adalah tugasnya untuk menjamu tamu Allah.

“Pada musim ini (musim haji), datang para tamu Allah. Mereka tamu dari Sang Maha Pemberi Rahmat. Jadi, sugguhkanlah mereka dengan makanan dan minuman agar mereka mengetahui kebaikan kalian.”

Sebenarnya, orang-orang suku Quraisy dari masa sebelum Islam memang sudah murah hati dan terkenal atas keramahtamahannya bagi setiap tamu yang datang ke Makkah.

Alasannya sederhana, yaitu meningkatkan perdagangan dan reputasi kebaikan mereka. Sehingga ketika Islam masuk dan Kakbah digunakan untuk pelaksanaan haji maka kebaikan warga Mekkah tidak diragukan lagi.

Redaktur : Indah Wulandari
Reporter : c 33