Allah yang Suci

Imam Zainuddin Mar’i bin Yusuf al-Karami yang juga merupakan penulis kitab Badi’ Al Insya’ menjelaskan pula tentang salah satu ayat sifat yang menjadi objek polemik. Yaitu, ayat yang menyebutkan tentang “wajah” ( wajh) Allah.  Ada beberapa ayat yang menyebutkan hal itu, antara lain, “Dan, tetap kekal zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS ar-Rahman [55]:27). Ayat ke-115 dari surah al-Baqarah juga menyebutkan soal yang sama, yaitu kata wajah yang dinisbahkan pada Allah.

Beberapa teks hadis juga menyatakan hal yang sama. Di antaranya ialah hadis riwayat Bukhari Muslim. Riyawat itu menjelaskan bahwa barang siapa yang membangun sebuah masjid maka ia akan memperoleh “wajah” Allah. Menafikan dan mengingkari teks itu jelas bukan perbuatan bijak. Bahkan, bisa dianggap sebagai bentuk kekufuran.

Pasalnya, ayat ataupun hadis di atas memiliki kekuatan legalitas yang kuat. Sebagian kalangan berupaya me nak wilkannya. Sebut saja Sek te Mu’tazilah. Menurut sekte yang didirikan oleh Washil bin ‘Atha’ tersebut, arti kata dari ‘ wajh’ yang dimaksud bukan berarti tekstual bahwa Allah juga mempunyai wajah sebagaimana manusia. Tetapi, mak sudnya tak lain ialah Zat Allah yang disucikan. Dan, kata tesebut, menurut mereka, bukan termasuk kategori sifat tambahan.

Dalam pandangan Ibnu Abbas, maksud wajh ialah Allah. Seperti “Dan, tetap kekal zat Tuhanmu”. Ibnu Faurak mengatakan, dalam penggunaan bahasa sering dipakai satu kata untuk menggambarkan keseluruhan. Maka, maksud kata tersebut tak lain ialah Allah.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Al-Hudzaq, seperti yang dinukil oleh Al-Qurtubhi. Menurut Al-Hudzaq, kata ‘ wajh’ kembali ke eksistensi Allah. Kata itu digunakan karena wajh adalah bagian yang pa ling tampak dan terlihat sejauh dan selintas mata memandang. Jadi, wajh sesuai dengan Mazhab Salaf, bukan sifat di luar zat seperti anggota tubuh yang berlaku bagi makhluk, melainkan wajh di sini hakikatnya ialah zat itu sendiri.

 

REPUBLIKA