Istidraj

Berhati-hatilah, Pemberian dari Allah Bisa Jadi Istidraj

Orang yang melakukan maksiat harus hati-hati.

Di dunia ini mungkin sering dijumpai orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan perbuatan dosa, tapi mereka selalu hidup dalam kesenangan. Orang-orang semacam itu harus hati-hati karena bisa jadi kesenangannya itu membuat mereka semakin melupakan Allah SWT.

Syekh Ibnu Atha’illah dalam Kitab Al-Hikam mengingatkan orang-orang yang selalu mendapat karunia atau pemberian dari Allah SWT, sementara mereka selalu berbuat maksiat. Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, orang-orang itu harus hati-hati terhadap istidraj.

“Seharusnya kamu merasa takut jika kamu selalu mendapat karunia dari Allah, tapi kamu tetap melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya. Sebab bisa jadi karunia itu istidraj bagi kamu (yang lambat laun akan menghancurkan kamu).” (Syekh Ibnu Atha’illah, Al-Hikam)

Terjemah Al-Hikam karya Ustadz Bahreisy menjelaskan arti istidraj. Istidraj, yaitu mengulur waktu dan memberi terus-menerus agar bertambah lupa, kemudian dibinasakan. Istidraj juga dapat berarti memperdaya.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS Al-An’am: 44)

Ayat tersebut mencontohkan istidraj. Setiap berbuat dosa, ditambah dengan pemberian kesenangan, supaya mereka lupa untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

KHAZANAH REPUBLIKA