Cara Beristighfar Agar Diterima Menurut Ibnu Qayyim

Cara Beristighfar Agar Diterima Menurut Ibnu Qayyim

Istighfar akan memberikan manfaat yang nyata bagi pelakunya

Memohon ampun kepada Allah SWT dengan mengucapkan istighfar memiliki banyak keutamaan dan mendatangkan keberkahan yang berlimpah dari Allah SWT.

 وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Mahapengampun, Mahapenyayang. (QS Al-Baqarah: 199)

Dalam surat lain, Allah SWT memuji orang-orang yang beristighfar pada-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran 135: 

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?”  

Rasulullah SAW pun bersabda dengan mengutip firman Allah SWT bahwa Allah SWT tidak akan menyiksa orang-orang yang melakukan perbuatan dosa saat mereka beristighfar. Karena itu pula, Abu Musa berkata, “Kami mendapat dua keselamatan, satu pergi dan yang lainnya tetap.” (HR Ahmad) 

Imam Ibnu Qayyim menjelaskan, cara beristighfar kepada Allah SWT untuk mencegah datangnya siksaan adalah dengan mengucapkan istighfar sambil melepaskan setiap dosa secara sungguh-sungguh.  

Karena, pengampunan adalah penghapusan dosa dan menghilangkan jejak dosa itu. Dan bukan seperti anggapan kebanyakan orang, yaitu sebagai bentuk penyembunyian dosa. Karena Allah SWT yang Mahatinggi dalam menghapus mereka yang meminta ampunan dan yang tidak meminta.  Hadits dari jalur Ibnu Abbas juga menyebutkan: 

من لزم الاستغفار جعل الله له من كل ضيق مخرجا ، ومن كل هم فرجا ، ورزقه من حيث لا يحتسب “Siapa yang beristighfar, maka Allah SWT telah memberi jalan keluar untuknya dari semua kesulitan dan dari semua kegalauan mereka, serta memberi rezeki-Nya dari tempat yang tidak diduga-duga.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)

Sumber: islamweb

KHAZANAH REPUBLIKA