Kapan Waktu Tidur yang Bermanfaat?

Tidur jadi aktivitas yang biasa kita lakukan. Saking biasanya, tidur jadi rutinitas yang nggak perlu dipikirin. Bahkan muncul istilah pelor alias nempel molor. Orang yang dimana pun nemplok, bisa langsung tidur. Dalam Islam, aktivitas tidur menandakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang begitu agung. Allah menciptakan malam untuk istirahat, dan siang untuk beraktivitas (‘jihad’). Nah, kapan sih waktu tidur paling bermanfaat dan sesuai dengan yang diajarkan Rasul?

1.Tidur ketika sangat butuh

Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu tidur adalah teladan terbaik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur melampaui batas yang dibutuhkan tubuh, tidak juga menahan diri untuk beristirahat sesuai kebutuhan. Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk memperhatikan hak hak yang harus dia penuhi, termasuk hak bagi tubuhnya untuk tidur. Dan selayaknya dia berusaha untuk memberikannya dengan porsi yang pertengahan (tidak berlebihan dan tidak kekurangan).

2.Tidur di awal malam

Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu berkata “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235)). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada pertengahan malam. Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah).

3.Tidur di pertengahan siang

Ini lebih bermanfaat daripada tidur di waktu pagi dan sore. Apalagi di waktu pagi dan sore sangat sedikit sekali manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan, lebih-lebih lagi tidur di waktu ‘Ashar dan awal pagi kecuali jika memang tidak tidur semalaman. Tidur di pertengahan siang sesuai dengan anjuran Rasulullah dan bisa mengurangi resiko terkena penyakit mematikan seperti penyakit jantung.

Bagi seorang muslim, tidur nggak cuma perkara memejamkan mata dan lelap dalam kelelahan tanpa nilai tambah atau keunggulan. Tidur dalam Islam merupakan fase yang harusnya bisa memberikan spirit baru untuk lebih produktif dalam berkarya dan beramal. Tidur seperti Nabi adalah tidur yang sehat dan berpahala. Yuk, teladani sama-sama, sehingga tidur bisa membawa berkah dalam kehidupan sehari-hari.

Allahu a’lam.

 

 

sumber: Annida Online