wasiat Rasulullah SAW

Makna Wasiat Rasulullah SAW untuk Ibnu Abbas Soal Takdir

Rasulullah SAW beberapa kali pernah menyampaikan wasiat kepada Ibnu Abbas RA. 

Wasiat-wasiat itu sangat beragam. Dalam hadits Ibnu Abbas riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda: 

. واعلم أن الأُمة لو اجتمعت على أَن ينفعـوك بشيء، لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء، لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف

“…Ketahuilah, kalau seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu.  

Dan kalau seandainya mereka bersatu untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, niscaya tidak akan membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Hadits tersebut menunjukkan, Allah SWT telah menetapkan takdir para hamba-Nya sebelum menciptakan mereka selama ribuan tahun. Hal ini juga sebagaimana hadits Muslim dari jalur Abdullah bin Umar:

إن الله كتب مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة “Sesungguhnya Allah SWT telah menuliskan ketetapan ciptaan-Nya 50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”

Karena itu, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini telah ditetapkan Allah SWT. Pena diperintahkan Allah SWT untuk menulis ketetapan-Nya di Lauhul Mahfudz. Inilah penciptaan dengan kekuatan dan kehendak Allah SWT yang tidak bisa ditandingi makhluk-Nya. Allah SWT berfirman: 

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS At-Takwir: 29). Allah SWT juga berfirman: 

وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَىٰ وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ “Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.” (QS Al Mudatsir: 56)

Ayat-ayat Alquran itu menandakan, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dan segala sesuatu yang memengaruhi penciptaan-Nya telah ditulis. 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS Al Hadid: 22)

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud meriwayatkan dari Ubadah bin al-Tsamit, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 

اكتُبْ مقاديرَ كلِّ شيءٍ حتى تقومَ الساعةُ “Tulislah ketetapan-ketetapan atas segala sesuatu sampai waktunya tiba.” (HR Abu Dawud dalam kitab Shahihnya). Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: 

إن لكل شيء حقيقة، وما بلغ عبد حقيقة الإيمان حتى يعلم أن ما أصابه لم يكلن ليخطئه وما أخطأه لم يكن ليصيبه

“Segala sesuatu itu ada hakikatnya. Seorang hamba tidak akan sampai kepada hakikat iman sampai ia meyakini bahwa apapun yang (ditakdirkan) menimpanya, tidak akan meleset darinya. Dan apapun yang (ditakdirkan) tidak menimpanya maka tak akan menimpanya.” (HR Muslim dari Abu Darda)

Hadits-hadits tersebut menunjukkan, seberapa kerasnya seorang hamba menghindar dari sesuatu, atau berusaha mencapai sesuatu, itu tidak akan terjadi bila Allah SWT tidak menetapkannya demikian. Jika Allah SWT menghendaki sesuatu terhadap diri seorang hamba, maka terjadilah.

Sumber: islamweb 

KHAZANAH REPUBLIKA