Menjadi Keluarga yang Sujud

Sesungguhnya, hidup itu membangun peradaban. Maka, membangun dan menghidupkan rumah tangga menjadi perkara yang amat penting. Keluarga menjadi basis utama pembangunan peradaban. Siapa abaikan keluarga, dia abaikan masyarakat. Siapa abaikan masyarakat, dia abaikan bangsa dan negara. Karena dianggap sepele, bisa jadi kita tak sungguh-sungguh memahami tujuan hakiki membangun rumah tangga.

Tujuan hidup manusia adalah sujud dan beribadah kepada Allah SWT (QS adz-Dzaariyat: 56).  Maka, visi berkeluarga adalah membangun rumah tangga yang bisa sujud secara berjamaah. Saat suami atau istri pilihan kita tak mau sujud, jangan pernah berharap ada kebahagiaan dunia akhirat. Karena sejatinya, pernikahan menjadi salah satu cara terbaik untuk mengingat kebesaran Allah SWT dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya. Firman Allah SWT, “Dan, segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS adz-Dzaariyat: 49).

Jika hendak membangun rumah tangga yang diberkahi Allah SWT maka cermatlah dalam memilih pasangan hidup. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya maka pilihlah yang beragama.” (HR Muslim dan Tirmidzi). Pilihlah suami atau istri karena agama, iman, dan akhlaknya. Menikahlah dan sayangilah pasangan karena Allah. Bangunlah keluarga karena Allah. Inilah ikhtiar terbaik agar mendapat keberkahan dan ridha Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya maka tidak akan pernah pernikahan itu diberkahi-Nya. Siapa yang menikahi wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya. Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan. Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya. Namun, siapa yang menikah karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi berkah dan menambah keberkahan itu padanya.” (HR Thabrani). Maka, menikahlah karena Allah SWT. Utamakan iman dan akhlak. Hasilnya, rumahku adalah surgaku.

Dengan menikah karena Allah, orang tua telah membina diri jadi insan beriman dan berakhlak. Begitu punya anak, mereka akan mudah meniru. Orang tua telah menjadi teladan. Akhlak orang tua terlihat dalam kehidupan keseharian. Berpadunya pasangan hidup yang beriman dan berakhlak akan memunculkan keluarga beriman dan berakhlak. Keluarga ini akan menghasilkan anak-anak yang terdidik iman dan akhlaknya pula. Selepas orang tua wafat, anak-anak telah mewarisi iman dan akhlak karimah. Anak-anak ini akan menjadi aset bagi masyarakat dan bangsa karena kekuatan iman dan akhlaknya sebagai hasil pembinaan di lingkungan keluarga.

Keluarga yang semua penghuninya bersujud kepada Allah SWT, rumah tangganya harmonis. Jika pun ada krisis, terjadi hanya sebentar saja karena iman dan akhlak yang menyelesaikan. Tampak kebesaran Allah SWT dalam keluarga yang sujud. Saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran. Saling menerima dan memaafkan kekurangan masing-masing. Keluarga yang sujud akan memberi anak-anak yang baik di masyarakat. Masyarakat yang baik dapat membangun fondasi kehidupan berbangsa yang baik pula.

Sujud merupakan salah satu bentuk kepasrahan dan penghambaan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Karena sesungguhnya, engkau tidak sujud kepada Allah dengan sekali sujud kecuali Allah akan mengangkatmu dengan sujud tersebut satu derajat dan menghapus kesalahanmu.” (HR Muslim). Kita sujud, kemuliaan Islam tak bertambah. Kita tak sujud, kemuliaan Islam juga tak berkurang. Sujud itu untuk kita, bukan untuk Islam. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Asep Sapaat

RepublikaONline