Menyantuni Anak Yatim dan Menangis Karenanya

Menyantuni Anak Yatim dan Menangis Karenanya

Kepada orang yang menjamin anak yatim, menyantuni anak yatim, akan menjadi teman Nabi ﷺ di dalam surga

AL-Quran lebih dari dua puluh kali menyebutkan kata yatim. Sedangkan dalam hadis, saking mulianya menyantuni anak yatim, Rasulullah ﷺ menjanjikan orang-orang yang menyantuni anak-anak yatim akan masuk surga bersamanya.Hal itu beliau katakan, sebagai dalam hadisnya berikut ini;

أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا . وقال بإصبعيه السبابة والوسطى

“Aku dan orang-orang yang mengasuh (menyantuni) anak yatim di surga seperti ini,” Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dau jari tengah seraya sedikit merenggangkannya.” (HR: Bukhari).

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Sukakah kamu agar hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasibilahanak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (HR: Thabrani).

Kepada orang yang menjamin anak yatim, menyantuni anak yatim, akan menjadi temannya di dalam surga. Untuk itu, beliau bertan bersabda:

أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا وأشار بالشابة والوسطى وفرج بيهم ޤަޑާ

 “Aku dan orang yang menjamin anak yatim di dalam surga seperti ini,” seraya mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya sembari membuka di antara keduanya dengan sesuatu.” (Bukhari, Kitabuth Thalaq 4892 dan Kitabul Adab 5546, Tirmidzi, Kitabul Birri wash Shilah 1841. Ahmad, lanjutan Musnadul Anshar 21754. Malik dalam Al-Muwaththa’, Kitabul Jami’, di dalamnya disebutkan: “Aku dan penjamin anak yatimnya atau anak yatim orang lain di dalam surga seperti keduanya ini jika dia bertaqwa.”)

Bahkan Nabi ﷺ mengisyaratkan melalui Hadits lainnya sebagai berikut:

خير بيت في المسلمين بيت فيه يتيم يحسن إليه وش بيت في المسلمين بيت فيه يتيم يساء إليه

“Sebaik-baik rumah di kalangan kaum muslim ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik; dan seburuk-buruk rumah di kalangan kaum muslim ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk.” (Ibnu Majah, Kitabul Adab 3669)

Termasuk santunan yang diberikan langsung oleh Nabi kepada anak-anak yatim ialah sebagaimana kisah ketika Ja’far, putra paman Nabi , dan kawan-kawannya gugur sebagai syuhada. Asma binti ‘Umais, istri Ja’far, menuturkan kisahnya sebagai berikut: “Ketika Ja’far dan kawan-kawannya gugur, saat itu aku sedang menemui Rasulullah setelah aku menyamak 40 kulit kambing, membuat dua adonan roti, memandikan anak-anakku, meminyaki, dan membersihkan mereka. Mendadak Rasulullah bersabda: “Bawalah kepadaku semua anak-anak Ja’far!”” Asma’ melanjutkan kisahnya: “Maka kubawa mereka semua kepadanya dan beliau mencium mereka semua, sedang air matanya bercucuran. Aku pun bertanya: Wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Apakah telah sampai kepadamu suatu berita tentang Ja’far dan kawan-kawannya?’ Rasulullah menjawab: ‘Benar, pada hari ini mereka telah gugur.” Asma’ melanjutkan kisahnya: “Maka aku keluar seraya menjerit histeris dan kaum wanita berkumpul menjengukku, sedang Rasulullah keluar menemui keluarganya dan bersabda:

لا تغفلوا آل جقير من أن تضعوا لهم طعاما فإنهم قد شغلوا بأمير صاحبهم

“Janganlah kalian melupakan keluarga Ja’far untuk membuatkan makanan bagi mereka, karena sesungguhnya kini mereka telah disibukkan oleh musibah yang menimpa kepala rumah tangga mereka.”” (Ahmad, lanjutan Musnadul Anshar 25839).

‘Abdullah ibnu Ja’far var nog telah berkata: “Nabi memberi tenggang waktu kepada keluarga Ja’far selama tiga hari untuk tidak menjenguk mereka. Sesudah itu beliau menjenguk mereka dan bersabda: Janganlah kalian menangisi saudaraku lagi sesudah hari ini dan seterusnya. Panggilkanlah kepadaku kedua anak saudaraku.’ Kami pun dihadapkan kepadanya. Saat itu seakan-akan kami bagaikan anak itik (karena masih terlalu kecil), lalu beliau teng bersabda: ‘Panggilkanlah untukku tukang cukur! Tukang cukur pun dipanggil, lalu mencukur kepala kami. Sesudah itu Nabi ng bersabda:

أما محمد بن جعفر فشبية عما أبي طالب وأما عند اللو فشبية خلقي ولقي

‘Adapun Muhammad bin Ja’far, maka dia mirip dengan paman kami, Abu Thalib, sedang ‘Abdullah, maka rupa dan perangainya mirip denganku.”

Selanjutnya, Nabi memegang tanganku dan mengangkatnya seraya berdo’a:

الخلف جغرا في أهله وبارك عبد الله في صفقة يمينه الله

“Ya Allah, berikanlah ganti dari Ja’far buat keluarganya dan berkatilah ‘Abdullah dalam jual beli yang dilakukannya.”

Nabi mengucapkan doʻa ini sebanyak tiga kali.” “Abdullah bin Ja’far melanjutkan: “Tidak lama kemudian, datanglah ibu kami dan diceritakanlah kepadanya bahwa kami telah menjadi anak yatim, lalu ibu kami mengadukan kepada Nabi kesulitan yang dialaminya, maka Nabi bersabda:

العيلة تخافين عليهم وأنا وهم في الدنيا والآخرة

“Apakah engkau khawatir jatuh miskin karena memelihara mereka, padahal akulah yang menjadi wali mereka di dunia dan di akhirat?’” (Ahmad, Musnadu Ahlil Bait 1695).*

HIDAYATULAH