Ramadan Bulan Melatih Kesabaran

ADALAH sebuah anugerah yang besar ketika seorang hamba menjumpai bulan Ramadan yang diberkahi ini, karena ia akan memetik sekian banyak faedah yang besar jika ia benar-benar memanfaatkan bulan yang agung ini untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.

Di antara faedah yang besar itu adalah diraihnya kesabaran, baik dalam melakukan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan maupun didalam menghadapi takdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba. Berikut penulis bawakan terjemah dari makalah yang disampaikan oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Taala, yang bersumber dari situs resmi beliau [1].

Berkata Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Taala, “Sesungguhnya kesabaran adalah asas yang terbesar bagi setiap akhlak yang indah dan bagi upaya menghindari akhlak yang hina. Dan sabar itu adalah menahan diri dari perkara yang tidak disukai oleh hawa nafsu dan menyelisihi seleranya, dalam rangka meraih rida Allah dan pahalanya.”

Termasuk cakupan kesabaran adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, dalam menghindari maksiat kepada Allah dan dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba). Ketiga hal ini -yang mengumpulkan seluruh ajaran agama Islam ini- tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran.

– Ketaatan-ketaatan -khususnya yang berat, seperti jihad di jalan Allah, ibadah yang kontinyu, seperti menuntut ilmu dan terus menerus berucap dan berperilaku yang bermanfaat- (semua itu) tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran melakukannya dan melatih diri untuk terus menerus, senantiasa melakukannya dan membiasakan diri dengannya. Jika melemah kesabaran, melemah pula amalan-amalan saleh ini, bahkan bisa jadi berhenti dilakukan.

– Dan demikian pula menahan diri dari melakukan kemaksiatan-kemaksiatan -khususnya kemaksiatan yang hawa nafsu berselera tinggi terhadapnya- tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran dan berusaha untuk sabar dalam menyelisihi hawa nafsu dan tahan merasakan beratnya hal itu.

– Demikian pula musibah-musibah, ketika menimpa seorang hamba, sedangkan ia hendak menghadapinya dengan rida, syukur dan memuji Allah atas anugerah musibah itu[2], tidaklah bisa muncul sikap-sikap tersebut kecuali dengan sabar dan mengharap pahala Allah.

Kapanpun seorang hamba melatih diri untuk sabar dan mempersiapkan diri untuk tahan di dalam merasakan berat dan sulitnya hal itu, bersungguh-sungguh dan berjuang untuk menyempurnakan sikap-sikap tersebut, maka akibatnya adalah keberuntungan dan kesuksesan.

Dan tidaklah seseorang bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu dan diiringi dengan kesabaran melainkan ia akan membawa kemenangan, namun orang yang bersungguh-sungguh seperti ini jumlahnya sedikit.

Sesungguhnya bulan Ramadan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadan ini dan di sisa umurnya.

Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu terdapat dalam beberapa hadis, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang shallallahu alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadan dengan “bulan kesabaran”.

Hadis Tentang Bulan Ramadan Adalah Bulan Kesabaran

Sesungguhnya bulan Ramadan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadan ini dan di sisa umurnya.

Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu terdapat dalam beberapa hadis, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang shallallahu alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadan dengan “bulan kesabaran”.

Diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Hadis Abu Qotadah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun”. [3]

“Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir, dari Al-Arabii berkata saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dan beliau menyebutkan hadis bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan menghilangkan wahar[4] dada”. [5]

An-Nasa`i meriwayatkan dari Al-Bahili radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan” [6]

Dalam ketiga hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mensifati bulan Ramadan sedbagai bulan kesabaran, hal itu dikarenakan terkumpul dalam bulan Ramadan seluruh jenis kesabaran; sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba)

Penjelasannya sebagai berikut:

Di dalam bulan Ramadan terdapat ibadah puasa, salat Tarawih, membaca Alquran, kebaikan, Ihsan, dermawan, memberi makan, zikir, doa, tobat, istighfar dan selainnya dari berbagai macam ketaatan-ketaatan, dan (semua) ini membutuhkan kesabaran, agar seseorang bisa melakukannya dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama.

Di dalam bulan Ramadan terdapat sikap menahan lisan dari dusta, menipu, sia-sia, mencela, mencerca, teriak, debat, menggunjing, mengadudomba, mencegah anggota tubuh lainnya dari melakukan seluruh kemaksiatan, dan (semua) ini (tertuntut) di bulan Ramadan maupun di luar bulan Ramadan. Sedangkan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan ini membutuhkan kesabaran, sehingga seorang hamba sanggup menjaga dirinya agar tidak terjatuh kedalamnya.

Di dalam bulan Ramadan terdapat sikap meninggalkan makan, minum dan semua yang terkait dengannya, sedangkan nafsunya menginginkannya.

Demikian pula menahan diri dari apa yang Allah bolehkan berupa mengikuti syahwat (yang halal) dan kelezatan (yang mubah), seperti bersetubuh dan pendahuluannya, dan (semua) ini jiwa tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran, maka (kesimpulannya) Ramadan mencakup seluruh jenis kesabaran.[Sa’id Abu Ukkasyah/muslimordi]

Catatan kaki

[1] dalam situs resmi beliau : http://al-badr.net/muqolat/2516

[2] Hakekatnya musibah yang menimpa dunia seseorang itu adalah anugerah Allah kepada hamba-Nya, karena banyak faedah yang didapatkan dari adanya musibah tersebut, bagi orang yang beriman.

[3] [Musnad Imam Ahmad (75678965) dan Imam Muslim (1162), dan ini lafadz riwayat Imam Ahmad].

[4] Wahar dada adalah benci & memusuhi serta waswas hati, ada yang berpendapat: benci & memusuhi dalam hati serta marah dan ada pula yang berpendapat selainnya. [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm]

[5] Musnad Imam Ahmad (22965). Dan Hadits dengan lafadz yang sama diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Ath-Thabarani dan Al-Baghawi terdapat dalam Shahiih Jaimiish Shaghiir 3804, [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm].

[6] HR. An-Nasa`i ( 2756) , lihat Shahiihul Jaami (3794).

 
– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2382760/ramadan-bulan-melatih-kesabaran#sthash.YAjVouOh.dpuf