Ramadhan Bulan Madrasah

Berbahagialah orang beriman yang berkesempatan kembali bertemu dengan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, setiap Muslim ditempa dan dididik untuk menjadi insan mulia. Segala puji bagi Allah SWT, kita sudah memasuki hari keenam dari sebulan lamanya jam pelajaran madrasah Ramadhan.

Mereka yang bersungguh-sungguh mengisi waktu Ramadhan dengan berbagai ibadah wajib dan sunah, disertai ilmunya, penuh ikhlas, akan terus naik kelas kemuliaan, meraih prestasi spiritual, dan menikmati lezatnya buah ketakwaan.

Jika direnungi lebih mendalam, ada banyak mata pelajaran penting da lam madrasah Ramadhan. Pertama, pelajaran keikhlasan. Hanya ikhlas yang membawa pada suasana hati riang gembira menjalankan ibadah jasmani yang melelahkan tersebut. Membuat ibadah yang terkesan memberatkan ini sangat ringan dan menyenangkan.

Adakah yang tahu apakah kita sedang beribadah shaum atau tidak? Ha nya kita dan Allah SWT yang mengetahuinya. Tetapi, hebatnya, dengan ju jur kita berusaha sekuat tenaga bertahan dari berbagai godaan untuk berbuka, membatalkan ibadah hingga waktunya tiba. Pelajaran kejujuran yang luar biasa. Ihsan yang nyata, keyakinan diri bahwa Allah SWT selalu bersama kita walau pancaindra ini tak sanggup mengetahuinya.

Mata pelajaran selanjutnya adalah menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan dan menghilangkan nilai shaum. Haus dan lapar itu jangan sam pai sia-sia. Menjadi benteng dari api neraka. “Puasa itu bagaimana benteng (yang mencegah) dari api neraka, seperti benteng (perisai) yang (mencegah kalian) dari pembunuhan.” (HR Ahmad).

Shaum merupakan ibadah yang tak ada bandingannya. Sahabat Rasulullah SAW, Abu Umamah al-Bahili RA, berkata, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, suruhlah aku mengerjakan suatu perbuatan yang semoga dengan per buatan itu Allah memberikan manfaatnya kepadaku’, Rasul lalu berkata kepadanya: Kamu mesti shaum, sesungguhnya shaum itu tiada ada yang sebanding dengannya.” (HR an-Nasa’i).

Dari shaum kita belajar tentang keadilan. Adil pada diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan Allah SWT. Adil pada diri sendiri, di kala waktunya tiba berbuka, segeralah berbuka. Di kala waktunya sahur, makan dan minumlah, agar badan ini kuat hingga waktunya berbuka.

Haus dan lapar membuat kita belajar peduli kepada sesama. Lahir kesadaran bahwa ada saudara yang untuk makan malam atau sahur saja, dibuat bingung dan bersedih hati. Hidup serbakekurangan dan menjadi ke wajiban kita untuk membantu mereka.

Sikap merasa cukup dan terdorong untuk menunaikan kewajiban mem bersihkan harta. Selesai menjalankan ibadah shaum sebulan penuh, tibalah waktunya membayar zakat fitrah, infak, dan sedekah. Sungguh Ramadhan merupakan madrasah yang penuh keutamaan di dunia dan akhirat. Hanya orang beriman yang sanggup menunaikan tugas pendidikan diri yang luar biasa tersebut. Wallaahualam.

 

OLEH: Prof Mahmud

REPUBLIKA