Inilah 5 Makanan Berbuka Puasa yang Bikin Energi Anda Kembali Pulih!

Berpuasa di bulan Ramadan adalah perintah agama. Menahan lapar dan haus merupakan sesuatu yang harus dilakukan selama satu bulan penuh. Namun, bukan berarti karena dalam keadaan lapar dan haus, kita mengisi hari-hari dengan bermalas-malasan, atau dengan tidur seharian.

Meski dalam keadan berpuasa, aktivitas sehari-hari tetap harus dikerjakan seperti hari biasanya. Wajar saja bila tubuh kita akan tampak lemah dan lemas. Untuk memulihkan kondisi tubuh agar kembali berenergi, kita perlu memilih beberapa makanan berbuka yang dipercaya dpat megembalikan energi tubuh kita.

Kurma

Kurma begitu populer di setiap bulan puasa. Bahkan, berbuka dengan kurma disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Kandungan karbohidrat di dalam kurma cukup tinggi, salah satu komponen pentingnya adalah fruktosa atau disebut sebagai jenis gula alami, nantinya fruktosa ini yang diolah oleh tubuh sebagai sumber energi

Madu

Madu inilah yang bisa dijadikan pengganti gula, misalnya untuk membuat teh manis. Bahkan, madu dipandang lebih menyehatan dibanding dengan gula atau pemanis buatan lainnya. Madu mengandung tinggi kalori karena kaya akan fruktosa, maltosa, sukrosa, dan glukosa sehingga direkomendasikan untuk dikonsumsi setelah berolahraga. Selain itu, madu juga bermanfaat untuk memulihkan energi setelah puasa.

Pisang

Pisang bisa jadi makanan paling efektif untuk berbuka. Selain mudah dimakan, kandungan pisang yang sebagian besarnya terdiri dari serat dan gula, seperti glukosa, fruktosa, sukrosa bisa jadi pendongkrak energi. Selain itu, pisang juga mampu membuat kenyang lebih lama dan menyehatkan pencernaan karena teksturnya yang lembut. Bahkan, kandungan kalium pada pisang membantu tubuh menurunkan tekanan darah.

Ubi Jalar

Selain rasanya yang manis, ubi jalar mengandung tinggi karbohidrat, vitamin A, dan vitamin C yang berpotensi memulihkan tubuh dari kelelahan.

Apel

Apel menjadi buah yang aman untuk dimakan selama diet. Walaupun rendah kalori, apel dapat menghasilkan energi bagi tubuh dengan kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi. Air, vitamin B, kalium, dan zat besi yang terkandung pada apel mempengaruhi fungsi jantung dan otot sehingga membantu memulihkan energi setelah puasa.

Sahabat UCers, jika puasa nyatanya membuat Anda merasa kelelahan karena aktivitas keseharian yang Anda lakukan, segeralah menyiapkan lima hal di atas atau memilih salah satunya untuk berbuka puasa. Jadi, tak ada alasan lagi bermalas-malasan di bulan puasa karena takut kelelahan.

 

UCNEWS

Tiga Tips Jaga Tetap Fit Saat Puasa

Ada banyak cara tetap fit selama berpuasa di bulan Ramadhan. Salah satunya dengan berolahraga.

Dikutip dari Al Arabiya, Ahad (20/5), berolahraga saat puasa namun dapat menjadi kontra-produktif. Karena bisa menyebabkan hormon stres meningkat yang mengubah suasana hati dan memperlambat metabolisme dalam jangka panjang.

Disarankan berolahraga setelah berbuka puasa sebab akan mempertahankan metabolisme yang sehat tanpa membakar otot tubuh untuk energi. Perhatikan jika ingin fit selama bulan puasa.

Durasi latihan

Kurangi waktu dan intensitas latihan rutin tidak lebih dari 45 menit. Tekankan pada pemanasan dan pendinginan. Jika melakukan latihan beban, kurangi jumlah pengulangan dan habiskan waktu istirahat lebih lama di antara set latihan

Dukung latihan dengan asupan makanan yang benar

Kebanyakan orang justru bertambah beratnya selama Ramadhan. Penyebabnya karena malam hari dihabiskan untuk memanjakan diri dengan makan.

Makan makanan besar sekaligus dapat membebani sistem perencanaan, menyebabkan Anda merasa lelah dan menstimulasi penurunan gula darah. Akibatnya metabolisme jadi lebih lambat sehinggat berat badan bertambah.

Sering makan dalam porsi kecil akan mendukung metabolisme dengan menjaga kadar gula darah tetap stabil. Makanlah makanan dengan porsi kecil setiap dua hingga tiga jam. Ini akan memungkinkan Anda mencerna makanan dengan lebih baik. Juga akan memberi Anda kesempatan untuk aktif.

Lebih aktif

Puasa bisa menjadi tantangan mental yang berat selama musim panas. Karena siang hari terasa lebih lama dan Anda memiliki lebih sedikit waktu untuk makan. Jangan biarkan puasa membuat Anda hanya terdiam di rumah lalu berujung memunculkan pikiran negatif.

Lebih baik berjalan-jalan, membuat jantung berdetak lebih cepat, sirkulasi darah berputar ke semua organ, termasuk otak.

Aktivitas yang seimbang ini dapat dilakukan saat berpuasa karena tidak perlu mencurahkan banyak usaha untuk berjalan-jalan. Perhatian kita bebas untuk fokus pada lingkungan. Kegiatan ini dapat mengalihkan perhatian dari pemikiran negatif.

 

REPUBLIKA

Mewujudkan Keluarga Harmonis melalui Bulan Ramadhan

leh. Azi Ahmad Tadjudin, M. Ag, Pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum Keluarga Islam

SEBAGAI pengasuh Rubrik Kosultasi Hukum Keluaraga Islam islampos.com, belakangan ini hampir setiap pertanyaan yang masuk melalui email pribadi penulis, banyak didominasi oleh ‘curhat’ tentang hukum mengucapkan talak dalam keadaan marah dan emosi karena pertengkaran sengit yang tak terbendung lagi.

Namun ketika mereka sudah sadar dan kedaan sudah mereda, baru mereka menyesali perbuatannya sambil dihantui rasa harap-harap cemas dan malu-malu karena sudah terucap kata talak oleh suami, kemudian mereka kembali lagi seperti sedia kala sebagai pasangan suami-istri yang hidup bersama seperti pengantin yang baru saja mengucapkan ijab-kabul. Dan beberapa kasus ini sebelumnya sudah pernah penulis jawab dalam rubrik Konsultasi Keluarga Islam, silahkan dirujuk kembali dalam arsip.

Mencermati fenomena di atas, tentu penulis prihatin dengan kondisi ini, sekaligus hal ini menggambarkan minimnya pengetahuan mereka tentang hukum kelurga dalam Islam. Seandainya saja seorang suami faham betul bahwa arasy (singgasana Allah swt) akan bergetar jika perceraian terjadi pada keluarga muslim yang sudah diikat oleh ikatan perkawinan, tentu mereka tidak akan mudah mengumbar kata-kata talak sehebat apapun masalah yang mereka hadapi, terlebih jika setiap pasangan sadar betul dengan pesan nabi yang mengatakan bahwa perbuatan halal yang paling dibenci di sisi Allah adalah talak.

Selain itu, tingkat emosi yang lahir karena konflik rumah tangga sesungguhnya dapat dikendalikan jika setiap pasangan sadar bahwa bersatunya mereka dalam ikatan pernikahan pada hakikatnya dipersatukan oleh Allah swt. yang itu merupakan bagian dari tanda-tanda kekusaan-Nya.

Konflik dalam rumah tangga merupakan bagian dari dinamika pendewasaan yang tidak dapat dihindarkan. Banyak hal yang dapat melahirkan konflik dalam rumah tangga salah satunya karena faktor perbedaan yang sudah menjadi fitrah bawaan masing-masing setiap pasangan. Namun perbedaan pada hakikatnya bukan faktor utama penyulut konflik, tapi faktor utama penyebab konflik rumah tangga yaitu terjadinya disfungsi peran dan tanggung jawab suami-istri dalam keluarga, juga faktor minimnya pengetahuan tentang parenting nabawiyah sebagai teladan dalam membangun rumah tangga berdasarkan al-Qur’an dan Hadits.

Islam  telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk konsep kehidupan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga itu hakikatnya adalah implikasi yang lahir dari akad pernikahan, maka dengan akad inilah segala tindak tanduk setiap pasangan terikat oleh aturan.

Keluarga akan senantiasa menjadikan halal dan haram sebagai tolak ukur dalam membangun rumah tangganya, bukan asas manfaat dalam menentukan standar hidupnya. Suami dijadikan sebagai imam dan teladan bagi istri dan anak-anaknya, begitupun juga seorang istri ia menjadi ibu sekaligus sebagai madrasah bagi anak-anaknya.

Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan (tarbiyyah). Banyak pesan dan makna yang dapat kita jadikan sebagai media untuk membentuk keluarga ideologis melalui bulan ramadhan diantaranya yaitu :

1. Puasa bulan ramadhan mengajarkan keluarga menumbuhkan rasa takut (al-Khasyyah) kepada Allah swt. baik dalam keadaan sepi maupun ramai. Rasa takut merupakan perwujudan dari keimanan seseorang yang akan melahirkan sifat muraqabah, yaitu sifat merasa dilihat dan diperhatikan oleh Allah swt.

2. Puasa ramadhan mengajarakan indahnya kebersamaan dan berbagi dalam keluarga. Hal ini dapat kita rasakan indahnya kebersamaan dalam Islam. Kaum muslimin berpuasa dalam waktu yang sama; begitu juga mereka berbuka dalam waktu yang sama.

Inilah sesungguhnya ikatan ukhuwwah yang terpancar dari akidah islamiyyah, mengingat bahwa kita ini memiliki Tuhan yang satu, Rasul yang satu, kiblat yang satu, al-Qur’an yang satu dan bendera yang satu yaitu laa ilaaha illa Allah.

Pada bulan inilah sesungguhnya Ramadhan mengajarkan Ukhuwwah Islamiyyah yang erat. Semoga Allah swt. berkenan melahirkan generasi dan pemimpin terbaik melalu keluarga kita. Wallahu A’lam bi Al-Shawab

 

ISLAMPOS

Ramadhan, Anugerah bagi Pencari Kesucian

SEBAGAI seorang mukmin, sudah selayaknya kita mengucap syukur kepada Allah SWT karena atas izinnya, kita dapat dipertemukan dengan bulan yang suci. Bulan yang penuh berkah, memberi kedamaian dan ketentramana hidup. Namun, kesucian bulan ini tidak akan kita peroleh jikalau kita tidak mencarinya.

Ramadhan akan menjadi anugerah bagi orang-orang yang mencari kesucian (muzakki). Di mana dalam mencarinya tidaklah semudah seperti apa yang kita bayangkan. Tantangan dan rintangan kehidupan ini tentu akan kita temui, dan mampukah kita menghadapinya?

Seperti layaknya kupu-kupu yang melakukan metamorfosis atau pertumbuhan dan perkembangan, itulah gambaran orang yang mencari kesucian. Berawal dari ulat, sebagai makhluk yang paling dibenci oleh manusia, sampai menjadi kupu-kupu yang begitu cantik dan indah.

Perubahan ulat menjadi kupu-kupu itu dilalui dengan berbagai proses. Ulat yang begitu dibenci oleh manusia, mencari jati dirinya agar bisa menjadi makhluk yang dikagumi. Hanya saja, impian ulat itu tidak akan tercapai jika proses yang ia lalui tidak berjalan dengan begitu sempurna.

Jika proses yang dilalui oleh ulat itu dengan benar dan sabar, maka akan melahirkan perubahan pribadi yang baik. Begitu pula dengan diri kita di bulan yang suci ini. Jika kita mencari kesucian tersebut dengan benar dan penuh kesabaran, insya Allah kita akan merasakan perubahan pribadi yang baik pula. Wallahu ‘alam. []

Sumber: Disarikan dari Ust. Kustono, salah seorang pendakwah dari Puwakarta Jawa Barat

ISLAMPOS

3 Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali

DALAM bahasa Arab puasa itu disebut “as-Shiyaam” atau “as-Shaum” yang berarti “menahan”. Sedangkan menurut yang dikemukakan oleh Syeikh Al-Imam Al-‘Alim Al-Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Asy-Syafi’i dalam kitabnya “Fathul Qarib” bahwa berpuasa adalah menahan dari segala hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu pada seluruh atau tiap-tiap hari yang dapat dibuat berpuasa oleh orang-orang Islam yang sehat, dan suci dari haid dan nifas.

Allah berfirman dalam QS al-Baqarah, 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa seperti juga yang telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa”. (QS al-Baqarah, 183). Ayat tersebut merupakan landasan syariah bagi puasa Ramadan. Ayat tersebut berisikan tentang seruan Allah Swt kepada orang-orang beriman untuk berpuasa.

Setelah kita mengetahui pengertian dan hukum puasa ramadhan maka kita juga harus tahu Tingkatan Orang Berpuasa, Mengutip  pesan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin Puasa memiliki tiga tingkat. Yakni puasanya orang awam, puasanya orang khusus ‎dan puasa khusus buat orang khusus.

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tingkatan dalam berpuasa. Shaumul umum, shaumul ‎khusus, dan shaumul khususil khusus. Ketiganya bagaikan tingkatan tangga yang manarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.

Pertama, Puasa orang awam (orang kebanyakan), Puasa orang awam adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.  Tingkatan puasa ini menurut Al-Ghazali adalah tingkatan puasa yang paling rendah, kenapa? Karena dalam puasa ini hanyalah menahan dari makan, minum, dan hubungan suami istri Kalau puasanya hanya karena menahan makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari, maka kata Rasulullah Saw puasa orang ini termasuk puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala melainkan sedikit. Hal ini lah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya: “banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatka pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga.”

Kedua, ‎Puasanya orang khusus adalah selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa,” tulis Imam Ghazali.

Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para Shalihin (orang-orang saleh). Menurut Al- Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tinkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan. Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri. Menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran. Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Ketiga, Puasa khususnya orang yang khusus adalah ‎puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan Muqarrabin.

 

ISLAMPOS

Salat Tarawih 11 atau 23 Rakaat?

HAMPIR semua ulama mengatakan, tidak ada batas maksimal untuk jumlah rakaat shalat tarawih. Diantara dalil yang menunjukkan tidak ada batas untuk jumlah rakaat shalat tarawih adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma,

Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai tata cara shalat lail. Kemudian beliau menjelaskan, “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu rakaat, untuk menjadi witir bagi shalat-shalat sebelumnya.” (HR. Bukhari 990 dan Muslim 749)

Hadis ini bersifat umum, mencakup shalat malam yang dikerjakan di luar ramadhan maupun ketika ramadhan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tata cara pelaksanaan shalat malam untuk dikerjakan 2 rakaat-2 rakaat. Dan beliau tidak menyebutkan batasan jumlah rakaatnya. Beliau hanya memberi batasan,

“Jika kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu rakaat, untuk menjadi witir bagi shalat-shalat sebelumnya.”

Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menjelaskannya. Ibnu Abdil Barr ulama Malikiyah mengatakan,

“Bahwa shalat malam tidak memiliki batasan jumlah rakaat tertentu. Shalat malam adalah shalat sunah, amal soleh dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan dengan jumlah rakaat sedikit, dan siapa yang mau, bisa mengerjakan dengan banyak rakaat.”(at-Tamhid Syarh al-Muwatha, 21/70)

 

INILAH MOZAIK

MUI Sumbar: Tradisi Balimau Jelang Puasa Banyak Mudaratnya

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat (Sumbar) meminta masyarakat tidak melaksanakan tradisi balimau atau tradisi mandi menjelang menunaikan ibadah puasa. Alasannya, makin ke sini tradisi ini justru cenderung lekat dengan maksiat dan jauh dari manfaat.

Sebetulnya, tradisi ini memiliki tujuan sebagai ajang bersih-bersih diri agar ibadah puasa bisa lebih optimal. Dahulu, masyarakat Minangkabau melakukan balimau bersama keluarga dengan cara mandi di tepian sungai. Mandi dilakukan dengan air yang dicampur jeruk nipis dan dilaksanakan sore hari atau selepas shalat Ashar.

Namun, makna dari tradisi ini dianggap mulai bergeser saat ini. Bila dulu kegiatan mandi di sungai dilakukan bersama keluarga mahram, saat ini tradisi balimau dilakukan muda mudi yang yang belum ada ikatan keluarga. Belum lagi, muda mudi ini mencari lokasi balimau yang jauh dari rumahnya. Misalnya, dengan pergi ke sebuah pemandian umum atau datang ke danau dan mata air.

Tradisi balimau saat ini juga dimeriahkan dengan organ tunggal dan acara lain. MUI Sumbar mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menjalankan tradisi balimau yang justru makin jauh dari nilai-nilai kearifan lokal. Apalagi sejak awal balimau selalu dikaitkan dengan Ramadhan.

Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar menjelaskan bahwa Islam tidak melarang seorang umat mandi atau bersih-bersih badan. Namun, jika tradisi balimau sudah dijadikan ritual yang membuat seseorang beranggapan bahwa puasa tak akan sempurna tanpa mengawalinya dengan balimau, hal ini yang perlu diluruskan.

“Tidak ada petunjuk syariat Islam tentang mandi balimau sebelum masuk Ramadhan. Semua orang belajar fikih. Apakah ada mandi sunat sebelum Ramadhan, tidak ada kan? Ini harus kita luruskan,” kata Gusrizal, Rabu (16/5).

Sebagian ulama, jelas Gusrizal, juga melihat bahwa balimau justru memiliki lebih banyak mudarat daripada maslahatnya. Sebab, dalam tradisi ini, laki-laki dan perempuan mandi di sungai dengan batasan aurat yang tidak jelas serta batas mahram yang tak jelas pula.

“Apakah itu yang diridhai Allah? Tidak kanBalimau juga dijadikan ajang pacaran muda mudi. Masa pergi balimau ke Puncak Lawang, mana ada air di sana. Jadi, ini jelas membuka peluang kemaksiatan. Tapi, masih dianggap hal biasa dan permisif saja,” katanya.

Bagi Gusrizal, menyambut bulan puasa lebih baik dilakukan dengan aktivitas yang jauh dari maksiat dan lebih banyak manfaat. “Makanya, MUI mengimbau untuk menghentikan kebiasaan itu. Sebab, mudaratnya lebih besar ketimbang manfaatnya,” kata Gusrizal.

 

REPUBLIKA

Ternyata ada Kemungkinan Puasa Ramadan 31 Hari

MUNGKINKAH puasa Ramadhan dilakukan 31 hari? Padahal bulan hijriyah hanya 29 atau 30 hari.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya bulan hijriyah antara 29 atau 30 hari. Janganlah berpuasa sampai melihat hilal (bulan tsabit). Juga janganlah berhari raya sampai melihat hilal pula. Jika hilal tidak terlihat, maka genapkanlah bulan Syaban menjadi 30 hari.” (HR. Muslim, no. 1080)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah -dahulu menjabat sebagai mufti Kerajaan Saudi Arabia- ditanya: Wahai Syaikh, apa hukum seseorang yang di awal bulan Ramadhan berpuasa di Saudi Arabia. Kemudian ia bersafar ke negeri lain yang telat dalam menjalankan ibadah puasa. Apakah boleh berpuasa nantinya hingga 31 hari?

Syaikh rahimahullah menjawab:

Hendaknya ia memulai berpuasa dengan Saudi Arabia dan berhari raya dengan negeri yang ia datangi walau nantinya lebih dari 30 hari. Hukum ia berhari raya adalah sesuai dengan negeri yang ia datangi karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa adalah bersama dengan mayoritas manusia di tempat kalian berpuasa (mengikuti pemerintah, pen.). Berhari raya adalah bersama mayoritas manusia di tempat kalian berhari raya (mengikuti pemerintah, pen.). Merayakan Idul Adha juga bersama dengan mayoritas manusia beridul Adha (mengikuti pemerintah, pen.).”[1] Maka bagi orang tersebut hendaklah ia berpuasa dan berhari raya dengan orang yang ada di negerinya.

Namun jika puasa yang dilakukan tidak sampai 29 hari, maka ia tetap berhari raya bersama dengan negeri yang ia datangi. Sedangkan kekurangan satu hari, nantinya ia qadha (selepas Ramadhan, pen.). Karena bulan Hijriyah tidak mungkin kurang dari 29 hari. Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik. (Majmu Fatawa Ibnu Baz, 15: 155. Dinukil dari Tsalatsuna Sualan fii Ash-Shiyam, hlm. 16)

[1] HR. Tirmidzi, no. 697; Al-Baihaqi, 4: 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. [Muhammad Abduh Tuasikal]

 

INILAH MOZAK

Hindari Makanan Ini Saat Sahur

Puasa tidak seharusnya membatasi diri untuk melakukan aktivitas selama seharian. Untuk bisa menunjang puasa, dibutuhkan asupan gizi yang baik.

Saat sahur pilih menu yang bergizi seimbang agar tubuh tidak mudah lapar, lemas, dan haus. Makanan yang dianjurkan adalah kaya protein, kaya cairan, dan mengandung lemak baik.

Dikutip dari laman Healthy Muslimah, namun ada beberapa makanan yang tidak dianjurkan saat sahur. Berikut diantaranya:

Semua makanan olahan

Makanan olahan biasanya telah kehilangan nilai gizinya, dan ditambahkan banyak gula atau garam agar lebih tahan lama.

Roti putih

Makanan ini merupakan makanan karbohidrat simpel yang terlalu mudah dicerna dan diserap tubuh. Sehingga tubuh akan mudah lapar nantinya.

Wafel

Makanan yang terbuat dari tepung ini juga tidak terlalu lama menahan rasa lapar. Pastry jenis croissant dan kue kering juga tidak dianjurkan saat sahur.

Minuman berkafein

Teh dan kopi tidak dianjurkan karena berkafein. Serta bisa mengurangi hidrasi tubuh. Padahal saat puasa tubuh sangat membutuhkan cairan.

Jus buah kemasan

Jus buah kemasan keruap tidak memiliki serat yang dimiliki oleh buah utuh. Serta mengandung pemanis yang akan menyebabkan kenaikan gula darah.

Hari Pertama Ramadhan, Umat Diminta Perbanyak Ibadah

Umat Islam Indonesia akan melaksanakan ibadah puasa Bulan Ramadhan 1439 H/2018 M secara serentak pada Kamis (17/6). Di hari pertama Ramadhan ini, sejumlah tokoh ormas Islam di Indonesia mengimbau agar umat memperbanyak ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah sosial (ibadah ghairu mahdhah).

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Muhammad Sulton Fatoni mengatakan, Rasulullah SAW telah menganjurkan agar di bulan suci Ramadhan ini umat Islam memperbanyak ibadah. “Pesan di Ramadhan ini, sebagaimana anjuran Rasulullah hendaknya masyarakat memperbanyak ibadah, meningkatkan kuantitas ibadah di luar kewajiban Ramadhan (puasa),” ujar Sulton, Rabu (16/5).

Selama sebulan penuh umat Islam hendaknya melakukan tadarusan, yaitu dengan memperbanyak membaca Alquran. Selain itu, memperbanyak sedekah, memperbanyak zikir, dan melakukan shalat malam.

Di samping memperbanyak ibadah, lanjut dia, umat juga harus menjaga tutur kata, menjaga emosi, dan menahan diri dari godaan-godaan ibadah puasa lainnya. “Itu proses peningkatan kuantitas yang diharapkan bisa memberikan bekas atau output positif untuk pribadi Muslim pasca Ramadhan,” ucapnya.

Sementara, dalam konteks kebangsaan, menurut dia, umat juga harus meningkatkan ibadah sosial di bulan suci Ramadhan, serta meningkatkan rasa kepedulian dan keberpihakan terhadap rakyat kecil. “Yang paling penting di di situ, meningkatkan rasa keberpihakan dan kepedulian terhadap orang yang membutuhkan di sekeliling kita,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas. Menurut dia, Bulan Ramadhan merupakan momentum bagi umat Islam untuk melakukan ibadah dengan penuh keimanan dan ketakwaan. “Ini kan momentum ini, tidak ada bulan seperti ini. Karena hidup kita tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat,” ujar Abbas saat dihubungi lebih lanjut.

Dia menuturkan, bulan suci ini merupakan peluang besar bagi umat Islam agar sadar sebagai makhluk yang mempunyai banyak kelemahan. Namun, di bulan Ramadhan ini, Allah telah berjanji mengampuni dosa hambanya yang melakukan ibadah dengan ikhlas.

“Tuhan menjanjikan barang siapa yang berpuasa pada Bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan diampunilah dosanya yang terdahulu,” jelasnya.

Selain persoalan ibadah, Abbas juga menyoroti gaya hidup umat Islam ketika Ramadhan datang. Menurut dia, di Bulan Ramadhan biasanya tingkat konsumsi umat Islam naik, sehingga harga kebutuhan pokok juga turut naik.

Karena itu, dia mengimbau agar umat Islam tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan di bulan puasa. “Imbauannya kita ini oleh nabi dilarang berlebih-lebihan termasuk dalam makan dan minum. Kita mengimbau agar supaya prinsip makan dan minum yang sehat yang diajarkan nabi hendaknya menjadi perhatian bagi umat dalam melaksanakan ibadah puasa,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua MUI Pusat, Yunahar Ilyas mengimbau agar umat mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh, baik secara ruhiyah maupun moril. Menurut dia, Bulan Ramadhan harus selalu disambut dengan kegembiraan.

“Sambutlah bulan Ramadhan ini dengan penuh kegembiraan. Siapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa, seperti shalat malam atau shalat tarawih, membaca Alquran, zikir, doa, perbanyak sedekah,” ucapnya.

Selain itu, menurut dia, selama melaksanakan puasa di Bulan Ramadhan ini, hendaknya umat Islam juga saling menghormati. Walaupun ada perbedaan-perbedaan kecil, tidak harus dijadikan persoalan. “Dan saling menghormati. Tidak mempersoalkan perbedaan-pebedaan,” kata Yunahar.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Albertus Patty mengucapkan selamat kepada umat Islam yang akan menjalani ibadah puasa. Menurut dia, puasa hendaknya juga menjadi latihan bagi umat agama lain.

Menurut dia, satu pesan berpuasa ini adalah untuk bisa mengontrol diri dan untuk mengatakan tidak pada egoisme. “Karena itu, apa yang dilakukan teman-teman umat Islam ini merupakan sesuatu yang seharusnya bahkan dilakukan oleh umat beragama lain termasuk Kristen ya. Kemampuan untuk belajar dan menahan diri dari segala hal,” kata Albertus.

Menjelang Ramadhan tahun ini, masyarakat Indonesia sempat dikagetkan dengan adanya aksi terorisme. Karena itu, menurut Albertus, di Bulan Ramadhan ini masyarakat hendaknya mengurangi kemarahan.

“Jadi kita harus saling memaafkan dan kita juga mengutangi kemarahan dan kebencian di bumi Indonesia. Biarkanlah kita jadi saudara bersama apapun agamanya dan etnisnya,” jelasnya.

 

REPUBLIKA