Rasulullah Sangat Menganjurkan Menanam Pohon dan Menjaga Lingkungan

Rasulullah Sangat Menganjurkan Menanam Pohon dan Menjaga Lingkungan

Islam melarang hidup berlebih-lebihan. Orang yang sering berperilaku boros atau mubadzzir disebut saudara setan. Fenomena gaya hidup yang hedonis dan materialistik, yang tak mengenal rasa cukup dan puas, adalah ciri hidup berlebihan atau mubadzzir.

Pelarangan hidup secara berlebihan dilarang oleh Islam karena berdampak buruk, tidak hanya kepada orang yang bersangkutan, namun lebih jauh juga berdampak terhadap kerusakan alam atau lingkungan. Ini hanya salah satunya. Masih banyak dampak negatif dari sikap hidup hedonis dan tak pernah merasa cukup.

Akibat hidup boros dan berlebihan manusia telah menyudutkan alam sebagai objek untuk dieksploitasi. Sehingga, saat ini, tak satupun area ekosistem baik di darat, lautan dan udara yang steril dari pencemaran atau polusi. Gaya hidup hedonis membuat manusia rakus, egois dan tidak memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Akibatnya, alam rusak dan akibat kerusakan itu bencana alam terjadi.

Salah satu kerusakan alam yang paling tampak adalah penebangan hutan secara besar-besaran untuk kepentingan bisnis peningkatan ekonomi rakyat seperti perkebunan kelapa sawit. Padahal, keuntungan paling besar hanya milik investor, sementara masyarakat pekerja hanya digaji tak lebih dari standar upah minimal (UMR).

Sangat tidak masuk akal, sebab akibat yang ditimbulkan sangat luas dan menyengsarakan banyak orang. Sebagai contoh, banjir dan longsor yang sering terjadi adalah alarm peringatan dari dampak La Nina. Bencana lebih besar hanya menunggu waktu. Untuk itu, upaya restorasi sistem harus segera dimulai dengan menerapkan gaya hidup hijau, diantaranya adalah giat menanam pepohonan.

Nabi sejak semula telah mengingatkan hal itu. Suatu ketika beliau bersabda:

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah”. (HR. Bukhari dan Ahmad).

Makna hadits ini, Rasulullah sangat memperhatikan kelestarian alam. Menanam pohon merupakan amal baik yang akan dibalas dengan pahala karena mendatangkan manfaat untuk dirinya sendiri dan orang banyak. Bahkan, menanam pohon masuk kategori amal jariyah yang pahalanya mengalir terus walaupun dirinya telah meninggal dunia.

Dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Ada tujuh hal yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya; Yakni, orang yang mengajarkan ilmu, orang yang mengalirkan (memperluas atau memperlancar) sungai, orang yang menggali sumur, orang yang menanam pohon kurma, orang yang membangun masjid, orang yang mewariskan mushaf dan orang yang meninggalkan anak keturunan yang memintakan ampunan baginya setelah kematiannya”. (HR. Al Baihaqi)

Menanam kurma adalah menanam pohon untuk menjaga lingkungan tetap sehat. Suplai oksigen stabil sehingga manusia menghirup udara sehat. Kemanfaatan yang cukup luas tersebut sehingga Nabi menggolongkan reboisasi sebagai salah satu amal jariyah.

Begitulah, Islam sangat menganjurkan untuk menjaga kelestarian alam dan melarang membuat kerusakan di bumi. Secara tidak langsung, hal ini merupakan bentuk penyadaran terhadap manusia, bahwa saat ini kita sejatinya kita sedang meminjam bumi dari anak keturunan kita.

Alam ini telah di desain dengan begitu bagus dan sempurna oleh Allah. Kalau itu kita pelihara dengan baik, maka bencana alam tidak akan mudah terjadi. Karenanya, kita harus mewariskan kelestarian alam sebagai amal jariah, bukan malah berbuat dosa jariyah dengan pengrusakan alam.

ISLAM KAFFAH