Seks di Surga, Tak Ada Zina?

Assalamu’alaikum

Ustad, dalam al-Qur`an dijelaskan, para lelaki kelak di Surga bebas menikmati hubungan seks dengan bidadari yang cantik. Pertanyaannya, apakah di Surga ada hubungan seks?   Lalu, apa artinya para istri di Surga kelak berkumpul kembali dengan suaminya masing-masing, sementara suaminya bebas berhubungan seks dengan para bidadari? Apakah istri juga bebas melakukan hal yang sama?

Wassalam, Maimunah

Jawaban

Pertanyaan ini sering ditanyakan kaum hawa. Tampaknya mereka resah, bila kaum lelaki mendapat pasangan bidadari yang cantik, lalu kaum hawa pasanganya siapa?

Dalam al-Qur`an, memang tidak disebutkan secara tegas balasan yang akan diberikan Allah pada kaum hawa.  Misalnya kaum adam di Surga akan mendapatkan bidadari, apakah kaum hawa akan mendapat bidadara?

Ibu Maimunah yang saya hormati.

Istilah bidadari sendiri sebenarnya masih diperselisihkan ulama. Sebab baik al-Qur`an maupun Hadits terkadang menyebutnya dengan istilah al-hur al-‘in, yang secara bahasa berarti wanita-wanita cantik yang sangat putih.

Dalam beberapa Hadits, terkadang makhluk gaib itu disebut nisa’ ahl al-jannah, yang secara bahasa berarti wanita-wanita atau istri-istri penghuni Surga.  Ada sementara ulama yang tidak sependapat dengan istilah bidadari sebagai terjemahan dari al-hur al-‘in atau nisa’ ahl al-jannah.

Mereka menginginkan makhluk gaib itu tidak diterjemahkan sebagai bidadari, sebagaimana makhluk-mahkluk lain seperti malaikat, jin dan setan, yang tetap disebut malaikat, jin dan setan.   Maka bidadari, menurut sebagian ulama ini,  sebaiknya tetap disebut sebagai al-hur al-‘in.

Ada juga ulama yang berpendapat, kaum lelaki beriman, memang dinjanjikan  Allah akan dianugerahi al-hur al-‘in, di samping kenikmatan yang lain. Sementara kaum hawa tidak disebutkan janji-janji seperti itu.

Masalahnya, karena kaum hawa umumnya malu bila disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seksual. Berbeda dengan lelaki yang justru senang bila hal itu disebutkan.

Ada hadits yang menyatakan, al-hur al-‘in itu sebagian berasal dari istri-istri pada waktu hidup di dunia.   Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya al-Musnad meriwayatkan Hadits:

“Fasilitas terendah bagi penghuni Surga, ia memiliki tujuh tingkatan…dan ia memiliki tujuh puluh dua al-hur al-‘in sebagai istri-istrinya, selain istrinya dari dunia.” (Hr. Imam Ahmad)

Namun bagaimanapun juga, kenikmatan yang diberikan di Surga tidak sesempit yang kita bayangkan sekarang.  Quran Surat al-Zukhruf ayat 71 dan surat Fushilat ayat 31  yang intinya menyatakan, penghuni Surga akan mendapatkan semua yang diinginkan hatinya dan semua yang ia minta.

Maka segala yang diinginkan penghuni Surga, misalnya hubungan seksual dengan siapa saja, bila itu termasuk kenikmatan yang diinginkannya, maka Allah akan memberikannya.  Yang jelas, kenikmatan yang ada di Surga tidak seperti kenikmatan yang ada di dunia.

Surga itu tempat segala kenikmatan dan tidak ada rasa capek atau kelelahan bagi penghuninya.  Memakan buah-buahan misalnya, tidak dilakukan atas dasar motivasi menghilangkan lapar atau mencari kesehatan seperti yang kita lakukan di dunia, melainkan semata-mata menikmati kelezatan makanan itu.

Sekali lagi, kita yang masih hidup di dunia tidak mampu membayangkan kelezatan dan kenikmatan yang ada di Surga.  Bayangkan saja, menurut hadits riwayat Muslim, Nabi Muhammad bersabda:

فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا

“Sesungguhnya bagiMu kekuasaan seperti di dunia dan sepuluh kali lipatnya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

أَلَنْ تَرْضَى إِنْ أَعْطَيْتُكَ مِثْلَ الدُّنْيَا مُذْ يَوْمِ خَلَقْتُهَا إِلَى يَوْمِ أَفْنَيْتُهَا وَعَشَرَةَ أَضْعَافِهَا

(Allah menyatakan) : Tidakkah engkau ridha jika Aku berikan kepadamu semisal dunia sejak Aku ciptakan hingga hari aku hancurkan dan (ditambah) 10 Kali lipatnya.” (HR: Ibnu Abid Dunya, AtThobarony)

Ini artinya, punghuni Surga yang paling miskin, rumahnya di atas kavling seluas sebelas kali lipat di dunia ini.  Dapatkah dibayangkan, bagaimana seseorang memiliki rumah di atas kavling yang luasnya sebelas kali lipat dunia?

Demikianlah, mudah-mudahan Ibu dapat memahami jawaban ini. Dan Ibu tidak perlu resah untuk mempersoalkan kenikmatan di Surga. Apa yang Ibu inginkan, semuanya tersedia dan terpenuhi di Surga.* (Dikutip dari buku “Fatwa-fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal” karya Prof. KH Ali Mustofa Yaqub, MA, mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta)

HIDAYATULLAH