Seri Dua Contoh Yang Berbeda dalam Al-Qur’an (Bag 3)

Allah Swt mengabadikan kisah dua putra Adam as dalam Surat Al-Ma’idah, yaitu mulai ayat 27 sampai ayat 32. Dan dikisahkan dalam riwayat bahwa nama keduanya adalah Qobil dan Habil. Qobil adalah seorang pembunuh dan Habil adalah yang dibunuh.

Pada awalnya, Qobil dan Habil diperintahkan untuk berkurban oleh Allah Swt. Singkatnya, kurban dari Habil diterima dan kurban dari Qobil di tolak oleh Allah Swt.

Rasa cemburu, iri dan dengki mulai merasuki jiwa Qobil. Terjadi dialog antar kakak beradik itu hingga muncul sebuah perkataan dari lisan Qobil seperti yang diceritakan dalam Firman-Nya :

قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ

Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!”

Habil menjawab :

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS.Al-Ma’idah:27)

إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS.Al-Ma’idah:28)

إِنِّيٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ بِإِثۡمِي وَإِثۡمِكَ فَتَكُونَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ

”Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.” (QS.Al-Ma’idah:29)

Itulah dialog singkat yang terjadi antara Qobil dan Habil. Dan dari sini kita bisa mengambil pelajaran dari dua perbedaan karater dan sifat yang dimiliki oleh dua putra Nabi Adam as ini.

1. Sifat Qobil :

Dia memilih membunuh saudaranya karena rasa iri yang menguasai dirinya disebabkan oleh kurbannya yang tidak diterima oleh Allah Swt. Padahal Habil tidak ada sangkut pautnya dengan diterima atau tidaknya kurban Qobil. Karena tolok ukur diterimanya kurban tersebut adalah ketakwaan kepada Allah Swt.

2. Qobil hendak membunuh jiwa yang tak bersalah dan ia ingin berbuat kerusakan di bumi ini. Dendam dalam hatinya telah membutakan mata dan hatinya. Dan ia tidak akan puas sebelum menuntaskan dendamnya kepada saudaranya sendiri.

3. Qobil tidak mau mendengar sedikit pun nasihat dari saudaranya yang mengingatkan agar jangan sampai ia melakukan hal-hal keji semacam ini. Dia telah bertekad untuk membunuh saudaranya, setan telah menguasai hatinya sehingga susah sekali ia untuk kembali.

فَطَوَّعَتۡ لَهُۥ نَفۡسُهُۥ قَتۡلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُۥ فَأَصۡبَحَ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi.” (QS.Al-Ma’idah:30)

2. Sifat Habil

1. Sifat dari Habil tergambar jelas dalam keilmuan dan ketakwaannya.

Ketakwaan Habil tergambar dalam Firman-Nya :

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS.Al-Ma’idah:27)

2. Dan keilmuan Habil tergambar dalam Firman-Nya :

إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS.Al-Ma’idah:28)

Karena dalam ayat lain Allah berfirman :

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (oramg berilmu).” (QS.Fathir:28)

2. Keburukan tidak dibalas oleh keburukan.
Habil tidak membalas ancaman dari saudaranya dengan ancaman serupa. Karena ia tidak akan membunuh saudaranya sendiri, seperti apa yang akan dilakukan Qobil terhadapnya. Apalagi hanya karena masalah sepele.
Habil adalah sosok yang sangat tenang dalam menghadapi masalah. Ia tidak mudah emosi dan tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu.
Dan semua keindahan sikap ini muncul karena didasari dengan keimanannya kepada Allah Swt. Dia selalu menginginkan kedamaian ditengah umat manusia.

Dan pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah dua putra Nabi Adam as adalah :

1. Jika Qobil adalah wujud nyata dari kejamnya kedengkian dan kekafiran, maka Habil adalah gambaran nyata dari indahnya toleransi dan perdamaian. Kisah ini menggambarkan dua perseteruan yang akan terus ada hingga Hari Kiamat.

2. Qobil berani membunuh nyawa saudaranya yang tak berdosa sementara Habil melihat perbuatan itu adalah kekejian yang dahsyat sehingga ia tidak akan pernah menyentuhnya.

3. Qobil tidak memiliki alasan yang diterima atas kekejamannya, padahal Habil sealu menasehatinya dan membimbingnya untuk keluar dari pengaruh setan yang menjerumuskan.

4. Karena Al-Qur’an telah memvonis Qobil sebagai orang yang rugi dan menyesal. Maka bisa kita pastikan bahwa Habil adalah termasuk dari mereka yang selamat, sukses dan beruntung. Walaupun ia harus dikorbankan di alam dunia ini. Karena itu cerita ini di akhiri dengan firman Allah Swt bahwa membunuh satu nyawa di bumi ini sama seperti membunuh seluruh manusia.

مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا

“Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.” (QS.Al-Ma’idah:32)

Itulah pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Qobil dan Habil. Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN