Shaum dan Ukhuwah Islamiyah

Bulan Ramadhan ibarat magnet yang menarik kutub-kutub umat Islam yang berserakan. Pada umumnya, di luar bulan Ramadhan, umat Islam lebih banyak melaksanakan shalat dan ritual keagamaan masing-masing. Kini, hampir setiap waktu shalat dilaksanakan berjamaah, baik di lembaga pendidikan, kantor-kantor pelayanan, maupun pabrik-pabrik sekalipun.

Ketersediaan pahala yang berlipat pada bulan Ramadhan merupakan pemantik semangat. Diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya umatku mengetahui pahala-pahala yang ada di bulan ini (Ramadhan), niscaya mereka akan mengharap bahwa sepanjang tahun seluruhnya adalah Ramadhan.”

Umat yang sedang semangat beribadah di masjid pada bulan ini jangan diganggu dengan embusan aroma ikhtilaf peribadatan. Kita dorong masyarakat untuk semakin berkomitmen pada pembuktian ajaran agamanya. Kita dorong kesediaan umat untuk bahu-membahu dengan sesamanya dan mengupayakan solusi untuk mereka yang membutuhkan. Rajutlah dan kukuhkan ukhuwah di antara mereka.

Ramadhan merupakan momen untuk membangun semangat beramal. Pada bulan suci ini umat ingin khusyuk menambah pundi-pundi amal sehingga yang ingin didengar oleh mereka adalah ajakan-ajakan pada kebaikan, bukan pada perbedaan. Jangan mengganggu konsentrasi umat yang ingin menumpahkan kebaikan pada bulan Ramadhan.

Ramadhan harus memberi spirit kerekatan bangsa. Tidak beralasan sama sekali Ramadhan dijadikan momentum untuk menyulut kebencian antarsesama. Ramadhan jangan dijadikan momen untuk membentuk sinisme terhadap negara, tempat umat Islam hidup dan berkehidupan.

Bangsa Indonesia berkepentingan dengan tegaknya ukhuwah Islamiyah di kalangan umat Islam. Kebersatuan umat Islam, sebagai penduduk mayoritas negeri ini, memiliki pengaruh terhadap aktivitas kebangsaan. Apa jadinya apabila umat Islam di Indonesia centang-perang, gontok-gontokan, dan terpetak-petak. Energi bangsa ini akan sia-sia dan tidak akan termanfaatkan untuk membangun negaranya, tetapi akan habis hanya untuk menangani pertikaian yang tidak substansial.

Bangsa dan negara ini akan terbengkalai apabila penduduk mayoritasnya sibuk bertikai untuk hal yang kurang penting. Kita renungkan kembali ayat Alquran tentang ajaran kebersamaan. “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai…” (QS Ali Imron: 103).

Pada tingkat makro, ukhuwah Islamiyah bukan sekadar urusan keagamaan, melainkan urusan kebangsaan. Semua orang memiliki kepentingan dengan keakraban dan keharmonisan umat Islam. Ukhuwah Islamiyah memiliki hubungan psikologis dengan stabilitas kondisi ekonomi dan dimensi kehidupan yang lainnya. Oleh sebab itu, ukhuwah Islamiyah mestinya kita jadikan barikade untuk mengadang masuknya kepentingan lain ke tubuh negeri ini.

Ukhuwah Islamiyah bukan sekadar spirit keagamaan, melainkan spirit kebangsaan. Kebersamaan dan keharmonisan umat Islam bukan sekadar berurusan dengan identitas Islam, melainkan dengan urusan kepentingan keluarga besar bangsa Indonesia. Falsafah ukhuwah Islamiyah bertujuan untuk mengukuhkan semangat silih asih (saling mengasihi), silih asuh (saling memperhatikan), dan silih asah (saling mendukung).

 

Oleh: Mahmud Yunus

REPUBLIKA