Adab Al-Qur’an dalam Menghadapi Hoax yang Beredar

Gosip adalah sesuatu yang sangat berbahaya dan selalu membuat kegaduhan di tengah masyarakat. Dan urusan gosip menggosip ini bukanlah hal baru, sejak dulu hal ini telah menjadi sumber masalah apalagi setelah teknologi semakin maju yang mempermudah penyebarannya.

Bahkan Nabi Muhammad Saw telah menghadapi masalah ini dalam banyak kejadian.

Tapi tenang saja, Al-Qur’an telah memberi kita tuntunan dan cara yang jelas agar kita tidak terperangkap dalam gosip. Semua itu terangkum dalam “Adab Menghadapi Sebuah Kabar”.

1). Melakukan tabayun ketika mendengar sebuah berita.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat:6)

Rasulullah Saw bersabda :

كَفَى بِالمَرء كَذِبًا أَن يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah kebohongan seseorang dengan mengatakan semua apa yang ia dengar.”

Dan poin yang tak kalah penting adalah kita harus menyadari bahwa semua yang kita sampaikan akan dimintai pertanggung jawaban. Karenanya, berhati-hatilah dalam menyampaikan sebuah berita.

2). Tidak tergesa-gesa dalam menyebarkan berita. Konsultasikan dulu kepada orang-orang yang lebih berilmu dan lebih bijaksana.

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya.” (QS.An-Nisa’:83)

Ayat ini ingin mengajarkan agar kita jangan terburu-buru merespon sebuah kabar. Biasakan untuk konsultasi terlebih dahulu terhadap orang yang lebih mengerti, kira-kira bagaimana baiknya kita menghadapi kabar ini. Dalam ayat ini digambarkan rujukan kepada Rasul, ulil amr, ulama’ atau orang yang bijaksana.

3). Mendahulukan baik sangka (Husnudzon).

لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ

Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.” (QS.An-Nur:12)

4). Menutupi aib orang lain.

Rasulullah Saw bersabda :

“Siapa yang menutupi aib saudara muslimnya, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Dan siapa yang menyingkap aib saudara muslimnya, maka Allah akan menyingkap aibnya sampai tampak jelas di rumahnya.”

Maka jika kita simpulkan, adab dalam menghadapi sebuah kabar yang di ajarkan oleh Al-Qur’an adalah :

1. Tabayun atau cek kebenarannya.
2. Tidak keburu dan konsultasikan kepada orang yang lebih memahami.
3. Mendahulukan husnudzan.
4. Menutupi aib saudaranya.

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN