Haji Refleksi Kecintaan Kepada Rasulullah SAW

Melalui ibadah haji kaum muslimin secara sadar atau tidak sadar mengakui pentingnya petunjuk Nabi SAW serta keharusan untuk berpegang dengannya dalam segala amalan haji. Hal ini terlihat jelas dari semangat mereka menghadiri majelis-majelis ilmu untuk mempelajari sifat haji, tata caranya, rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, dan hal-hal yang membatalkannya, dengan penuh perhatian dan sikap hati-hati.

Muhammad Lathif, Lc dalam bukunya “Haji dan Cinta Rasulullah” mengatakan, apabila seorang muslim konsisten dengan sunnah Nabi SAW dalam berhaji, maka dalam syariat yang lain sudah semestinya diberlakukan hal yang sama. Karena kesemuanya datang dari satu sumber yang tidak berbeda. 

“Sebagaimana setiap orang dalam hajinya harus mengikuti manasik beliau, maka demikian pula keharusan bagi setiap orang untuk mengikuti petunjuknya dalam seluruh bentuk ketaatan,” katanya.

Kedudukan cinta Rasulullah SAW Sesungguhnya termasuk dari kebahagiaan seorang hamba adalah di saat Allah menganugerahkan padanya kecintaan terhadap kekasihNya yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana tidak, kecintaan pada beliau adalah termasuk dari syarat keimanan. 

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku ada di TanganNya, tidaklah salah seorang dari kalian beriman sampai aku lebih ia cintai melebihi [kecintaannya] kepada ayah dan anaknya.” (HR. Bukhar).

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah beriman seorang hamba sampai aku lebih dicintainya melebihi [kecintaannya] kepada keluarga, harta dan seluruh manusia.” (HR. Muslim).

Cinta pada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga termasuk faktor utama dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Selain itu kecintaan pada beliau adalah salah satu sebab untuk mendapatkan lezatnya keimanan. 

Nabi SAW bersabda: “Ada tiga perkara, barang siapa yang ketiga perkara tersebut terdapat pada dirinya, maka ia akan mendapatkan kelezatan iman; yaitu ketika Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan saat ia mencintai seseorang tidak lain kecuali karena Allah, serta dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah, sebagaimana ia enggan untuk dilemparkan ke dalam api ( HR. Bukhari dan Muslim).

Makna kelezatan iman, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, adalah “Merasakan kelezatan dalam ketaatan, tabah menanggung beban dalam menjalankan agama, dan lebih memprioritaskannya daripada kepentingan duniawi.” Kecintaan pada beliau merupakan sebab untuk dapat menemani beliau di surga yang penuh kenikmatan. 

Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan, bahwa ada seseorang datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum akan tetapi belum menjumpai mereka?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang itu [di surga] akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

IHRAM