Tempat Berdo’a Paling Mustajab di Makkah

Keistimewaan Berdoa di Makkah 
Umroh dan haji merupakan ibadah istimewa. Ketika berdoa di baitullah saat melaksanakan rangkaian ritual haji dan umroh para jamaah selalu menyempatkan berdoa di tempat berdoa paling mustajab di Makkah. Tak jarang sanak saudara dan tetangga menitipkan doa kepada mereka yang berangkat haji atau umroh dengan keyakinan doa tersebut akan segera dikabulkan.

Keistimewaan umroh dan haji ini tertera dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah yang intinya menyatakan janji Allah bahwa Ia akan mengabulkan doa, memberikan apa yang diminta jika doa tersebut dipanjatkan saat melaksanakan ibadah haji dan umroh.

Tempat Berdoa Paling Mustajab di Makkah
Di Madinah tempat berdoa paling mustajab adalah Raudhoh. Di Makkah terdapat beberapa tempat berdoa paling mustajab yaitu:

1. Multazam
Multazam adalah tempat yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Kabah. Tempat ini diyakini oleh para ulama dari berbagai mazhab sebagai tempat paling mustajab untuk berdoa. Keyakinan ini berdasar pada hadits riwayat sahabat Abdullan Bin Abbas yang diriwayatkan dalam hadits riwayat Ahmad “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan” Maka setiap kali umroh dan berhaji para jamaah berdesakan di Multazam dengan harapan akan dikabulkan.

2. Hijir Ismail
Hijir Ismail merupakan tempat favorit kedua untuk berdoa. Seringkali jamaah harus berdesakan demi mendirikan sholat sunnah dan berdoa di Hijir Ismail. Dahulu Hijir Ismail adalah bagian dari Kabah. Sholat di Hijir Ismail sama dengan sholat di dalam Kabah. Namun ada baiknya ketika menunaikan sholat di Hijir Ismail menghadapnya tetap ke arah Kabah sebab tidak semua orang paham bahwa Hijir Ismail pernah menjadi bagian dari Kabah sehingga diperbolehkan menjadi arah sholat.

3. Talang Emas (di bawah pancuran)
Di area Hijir Ismail ada sebuah tempat yang pernah digunakan sebagai tempat tinggal Hajar dan Ismail. Tempat ini kini ditandai dengan sebuah pancuran yang terbuat dari emas. Di bawah pancuran talang emas terutama ketika turun hujan para jamaah haji dan umroh berebut untuk berdoa dengan keyakinan cepat dikabulkan

4. Di belakang maqom Ibrahim
Para jamaah umroh dan haji biasa berdoa di bagian belakang maqom Ibrahim setelah melaksanakan thawaf. Maqom Ibrahim bukan makam atau kuburan namun merupakan tempat nabi Ibrahim pernah berdiam.

5. Saat mengerjakan sai
Sai merupakan rangkaian ibadah umroh dan haji. Saat mengerjakan sai diyakini doa-doa lebih mustajabah. Maka salah satu tempat berdoa paling mustajab di Makkah adalah tempat saat melakukan ibadah sai. Sai memang bukan bagian dari masjidil Haram. Sejarah Sai merupakan contoh perjuangan demi melindungi keluarga. Sai meneladani perjuangan Hajar dalam mencari air demi Ismail kecil yang menangis kehausan. Sai adalah perjuangan.

Hajar berlari-lari hingga tujuh kali bolak-balik antara bukit Shofa dan Marwah. Perjuangan Hajar tanpa berkeluh kesah dan tetap berharap ridho Allah. Maka perjuangan inilah yang menjadi tauladan bagi para jamaah umroh dan haji untuk tak mengenal lelah ketika harus beribadah. Sama seperti keyakinan Hajar para jamaah haji dan umroh juga berkeyakinan bahwa doa-doa yang dilantunkan selama berlari-lari kecil ketika sai akan dikabulkan Allah.

6. Di bukit Shafa
Bukit Shafa merupakan tempat dimulainya ibadah Sai. Sebelum ritual Sai dimulai para jamaah umroh dan haji para jamaah biasa berdoa di bukit Shafa. Jika ada tempat paling mustajab untuk berdoa yang berada di luar wilayah Masjidil Haram maka bukit Shafa lah tempatnya.

7. Di Bukit Marwah
Marwah adalah lokasi Sai berakhir. Di bukit Marwah saat putaran terakhir Sai para jamaah akan bertahallul atau memotong rambut. Seperti halnya bukit Shofa dan lokasi tempat berlari-lari kecil Sai, bukit Marwah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa.

Tempat-tempat berdoa paling mustajab di Makkah menjadi favorit para jamaah haji dan umroh untuk berdoa. Namun bukan berarti di luar lokasi tersebut doa-doa tidak dikabulkan Allah. Adalah kewajiban setiap makhlukNya sebagai orang beriman untuk senantiasa bertawakal setelah ikhtiar. Ketika berdoa di tempat-tempat tersebut pun harus disertai perasaaan harap-harap cemas doa dikabulkan. Tempat berdoa paling mustajab tersebut diyakini mempermudah doa diijabah Allah berdasarkan tauladan dari Rasulullah dan para tabiin.

Namun hendaknya ketika berdoa tidak perlu merugikan orang lain dengan berdesakan dan saling mendorong agar tidak timbul kericuhan. Terkabulnya doa merupakan hak Allah sepenuhnya. Otoritas yang tidak bisa ditawar. Jangan sampai bersuudzon, mencela Allah apabila doa yang dilantunkan di tempat-tempat mustajabah ternyata tak kunjung dikabulkan. Karena doa yang tak dikabulkan bisa saja diganti menjadi sesuatu yang lebih baik atau akan diberikan kebaikan di akherat sebagai pengganti doa di dunia.

Di Mana Doa Paling Mustajab di Hijir Ismail?

Bagi umat Muslim, nama Hijir Ismail tidak asing lagi. Hijir Ismail adalah bagian  dari kabah (kira-kira 3 meter). Oleh sebab itu tidak sah thawaf seseorang jika hanya mengelilingi Ka’bah tanpa mengelilingi Hijir Ismail.

Walau posisinya di luar Ka’bah, Hijir Ismail masih merupakan bagan dari ka’bah. Di dalam Hijir Ismail yang kecil itulah orang berebutan masuk, shalat dan berdoa meminta apa saja sesuai dengan hajat masing-masing. Konon do’a yang paling mustajab di Hijir Ismail dilakukan di bawah talang air.

Setengah lingkaran Hijir Ismail membentang sepanjang 21,57 meter. Garis tengah dari Rukun Hajar Iraqi dan Rukun Syami 11,94 meter, dan dari dinding Ka’bah ke bagian dinding dalam 8,42 meter. Lebar kedua sisi pintunya 2,29 meter, panjang dari pintu ke pintu 8,77 meter. Di dalam Hijir Ismail yang kecil itulah orang berebutan masuk, shalat dan berdoa meminta apa saja sesuai dengan hajat masing-masing. Konon do’a yang paling mustajab di Hijir Ismail dilakukan di bawah talang air.

Sejak fisik bangunannya terpisah dari Ka’bah, Hijir Ismail mengalami perbaikan. Dan orang yang pertama kali memperbaiki Hijir Ismail dengan memasang marmer pada pilar Hijir adalah Abu Ja’far Manshur, khalifah Bani Abbasiah, pada 140 Hijriyah. Demikian seterusnya Hijir Ismail mengalami pembaharuan dari tahun ke tahun sampai sekarang ini.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah membangun Ka’bah secara sempurna termasuk di dalamnya Hijir ini. Kemudian dinding Ka’bah sempat roboh akibat bekas kebakaran dan banjir yang menerjangnya. Kemudian pada tahun 606 Masehi, kaum Quraisy merobohkan sisa dinding Ka’bah lalu merenovasi kembali.

Akan tetapi, karena kekurang dana yang halal untuk menyempurnakan pembangunan sesuai pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, akhirnya mereka mengeluarkan bagian bangunan Hijir dan sebagai gantinya mereka membangun dinding pendek, sebagai tanda bahwa ia termasuk di dalam Ka’bah.

Hal ini dilakukan karena mereka telah memberikan syarat pada diri mereka sendiri untuk tidak akan menggunakan dana untuk pembangunan Ka’bah kecuali dari dana yang halal. Mereka tidak menerima biaya dari hasil pelacuran, tidak juga jual beli riba dan tidak juga dana dari menzalimi seseorang.

Hijir Ismail terletak disebelah utara Ka’bah, dilingkari oleh tembok lebar (Al-Hathimu). Hijir Ismail setiap saat dipenuhi hamba-hamba Allah, terutama ketika musim haji. Di tempat ini jamaah haji melakukan shalat, berdoa dan sebagainya.

Tempat ini sama mulianya dengan di dalam Ka’bah. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Siti Aisyah ingin sekali memasuki Ka’bah dan beribadah di dalamnya, lalu Rasulullah SAW memerintahkan masuk Hijir Ismail saja dan tidak ke dalam Ka’bah, sebab shalat atau beribadah di Hijir Ismail sama dengan di dalam Ka’bah.

 

REPUBLIKA

Muasassah Berikan Jemaah Haji Batu Kerikil Untuk Lontar Jumrah

Makkah (PHU)—Puncak prosesi ibadah haji tinggal menunggu hari, persiapan demi persiapan sudah dilakukan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terutama persiapan di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina).

Terobosan-terobosan baru demi melayani dan memudahkan jemaah terus dilakukan saat jemaah berada di Armina. Khsusunya di Arafah terobosan baru tersebut antara lain penambahan urinoir, penggunaan lampu LED saat wukuf, penyediaan sabun pencuci tangan dan penambahan toilet portable.

Untuk di Muzdalifah, ada beberapa terobosan baru yang dapat dirasakan jemaah haji antara lain, penyediaan karpet sebagai alas duduk jemaah, tahun lalu jemaah haji Indonesia hanya diberikan karpet 50%, tahun ini Muasassah akan menjanjikan seluruh jemaah akan diberikan karpet sebagai alas duduknya saat berada di Muzdalifah.

“Kalau tahun yang lalu ada alas untuk duduk jemaah yaitu karpet, tahun lalu masih 50% tahun ini muasassah menjanjikan akan seluruhnya akan diberi alas karpet,” kata Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis beberapa waktu lalu.

Terobosan selanjutnya adalah tahun ini Muasassah akan memberikan satu bungkus batu kerikil kepada jemaah untuk lontar jumrah, jadi jemaah kini tidak perlu lagi memungut, mengumpulkan lalu membawanya batu dari Muzdalifah.

“Jemaah haji akan diberikan batu kerikil untuk melaksanakan lontar jumrah, sehingga kini jemaah tidak perlu lagi memungut, mengumpulkan lalu membawa batu, kerena setiap jemaah akan diberikan satu bungkus batu saat di Muzdalifah,” kata Sri Ilham.(mch/ha)

 

KEMENAG RI

Bekal Kurma dan Air Zamzam Saat Beraktivitas

Agar kesehatan tubuh tetap terjaga selama beribadah haji, para jamaah dianjurkan untuk membawa bekal kurma saat beraktivitas. Selain itu, rajin-rajin pula meminum air zamzam, agar terhindar dari dehidrasi.

Air zamzam yang penuh berkah dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh, sedangkan kurma, memiliki manfaat yang sangat luar biasa karena dapat memenuhi kebutuhan gizi dan kalori. Kendati manis, kurma tidak membahayakan jamaah haji yang sedang menderita kencing manis.

Persiapan kurma dan air zamzam perlu diperhatikan, lantaran jamaah membutuhkan asupan untuk menghadapi situasi berbeda, sehingga mereka berpeluang mengalami kelemasan dan kelemahan. Untuk memudahkan, jamaah harus sering meminum air zamzam setiap kali beribadah ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Bila perlu, Anda juga dapat mempersiapkan botol khusus untuk menampung air zamzam, sehingga dapat dikonsumsi sewaktu-waktu. Upaya memenuhi kebutuhan cairan tubuh ini terbilang krusial, terutama saat musim haji kali ini yang diprediksi akan diterpa suhu panas yang cukup ekstrem.

 

REPUBLIKA

Maktab Siapkan Batu Lempar Jumrah untuk Jamaah Indonesia

MAKKAH — Amirul Hajj Lukman Hakim Saifuddin mengatakan batu untuk amalan melempar batu atau jamrah sudah disediakan unit pengelola fasilitas jamaah dari Arab Saudi (maktab). Jamaah haji tidak perlu mencarinya secara swadaya.

“Batu kami carikan demi keselamatan jamaah,” kata Lukman usai meninjau kawasan Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina), Kamis (16/8).

Dia mengatakan jika batu jamrah tidak disediakan maktab, maka jamaah sudah tentu mencari sendiri. Dengan begitu, saat tahapan haji memasuki fase menginap sementara (mabit) di Muzdalifah jamaah akan berkeliling mencari batu.

Pada proses pencarian itu, kata dia, jamaah kadang lupa dengan keselamatannya sendiri saat harus menyeberang jalan raya. Lalu lintas di Saudi menggunakan sistem lajur kanan yang berbeda dengan di Indonesia.

Di Indonesia, kata dia, menggunakan sistem lajur kiri karena umumnya mobil menggunakan setir kanan. “Beda kiri kanan jalan ini beda, sehingga bahaya,” kata dia.

Perbedaan lajur jalan raya membuat orang Indonesia terkadang gagap saat menyeberang jalan di Saudi. Dalam beberapa kasus, terdapat jamaah yang mengalami kecelakaan tertabrak kendaraan. Selain itu, mobil di Saudi umumnya dipacu kencang oleh pengemudinya.

“Sehingga maktab cari kerikil untuk jamaah daripada malah membahayakan keselamatan,” katanya.

Selain alasan itu, Lukman mengatakan jamaah bisa fokus untuk amalan haji lainnya jika batu untuk jamrah sudah dicarikan oleh maktab.

 

REPUBLIKA

Kenali Titik Krusial Arafah, Muzdalifah, dan Mina

Jamaah calon haji diminta agar mengenali Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) sebagai titik krusial dalam ibadah haji. Pada fase tersebut segala kemampuan fisik dan mental bisa terkuras.

“Para jamaah harus mengetahui rentetan itu semua sehingga mereka bisa mengukur diri,” kata Jaetul di Makkah, Rabu (15/8).

Dia mengatakan, JCH akan banyak berjalan kaki saat fase Armuzna berkilo-kilometer dengan tantangan cuaca panas dan paparan cahaya matahari. Maka mereka bisa sangat keletihan jika tidak dilakukan perencanaan aktivitas secara terpadu.

Saat fase Mina, dia mencontohkan jamaah setidaknya harus berjalan kaki menempuh jarak 2,5 kilometer bahkan lebih tergantung tempat tinggalnya untuk melakukan amalan melempar batu atau jumrah.

Sebelum itu, kata dia, jamaah harus mulai melakukan perjalanan pada 8 Dzulhijah atau Minggu (19/8), untuk rukun haji wukuf di Arafah. Wukuf berlangsung sehari kemudian hingga sore hari. Meski menggunakan bus tetapi akan ada proses panjang perjalanan yang melelahkan, terutama bagi calhaj yang berusia lanjut dan mereka yang mengalami gangguan kesehatan.

Selama di Arafah, kata dia, jamaah akan tinggal untuk menjalani prosesi wukuf mulai terbitnya matahari pada 9 Dzulhijah (Senin, 20/8) hingga sang surya tenggelam. Kemudian jamaah akan mulai bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit hingga pukul 01.00 WAS di hari berikutnya.

Dari Muzdalifah, lanjut dia, JCH akan bergerak menuju tenda di Mina untuk tinggal sementara. Selanjutnya, mereka akan keluar tenda berjalan kaki menuju area jamarat untuk melakukan wajib haji jumrah aqabah kemudian kembali lagi ke tenda Mina.

Menilik tahapan yang panjang dan tergolong melelahkan untuk fase Armuzna di atas, maka tidak mengherankan jika banyak JCH terkendala kebugaran saat tahapan tersebut.

Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Nirwan Satria selalu mengingatkan jamaah untuk tidak terforsir dalam kegiatan yang sifatnya tidak prioritas karena fase Armuzna sangat menguras energi.

“Haji itu wukuf, sebaiknya fokus untuk memulihkan kebugaran dalam fase Armuzna,” katanya.

REPUBLIKA

Impian Amerika di Tanah Suci

Ada yang lain dari Bahasa Inggris Aksen Amerika Serikat. Saat diucapkan, ada semacam urgensi dalam nadanya. Orang mudah menangkap kesan, yang berbicara ingin dunia bergerak semau mereka. Setidaknya, demikian yang keluar dari mulut Yusuf Ali (50 tahun) saat ditemui di Bandara King Abdulaziz, Jeddah.

Pria itu berkulit legam dengan postur yang masih gagah meski tak sedemikian jangkung. Ada sekutip rambut putih di kepalanya. Coklat warna matanya ditutupi kaca mata tebal. Pakaian ihram sudah ia kenakan itu hari.

C’mon, I need to go to Mecca right now,” kata dia pada petugas Arab Saudi yang kemudian hadir memberikan bantuan.

Paspor berwarna biru tua bersegel gambar keemasan elang yang menggenggam 13 busur panah ia kibas-kibaskan. Agaknya Yusuf Ali paham, itu lelayang adalah salah satu yang paling kuat di dunia.

Ia menunggu tak sabar angkutan menuju Makkah itu hari. Rencananya, ia hendak menggunakan taksi saja sebab tak ingin menunggu lama. Apa mau dikata tak ada layanan transportasi itu dari Bandara Jeddah ke Makkah. Di sini bukan New York atau Los Angeles, atau Minnesota tempatnya tinggal.

Istrinya, Su’ad Yusuf punya pembawaan yang lebih santai dan ceria. Senyum kerap terkembang di wajahnya yang sewarna kayu jati dengan mata berbinar-binar. Hari itu, ia mengenakan abaya hitam dengan hijab di kepala. Ia perempuan yang tinggi semampai, masih belum hilang kecantikan masa mudanya.

“Berapa lama lagi dari sini sampai Makkah?” tanya dia. Saat mengetahui jawabannya hanya sekitar sejam berkendara dari Jeddah, ia menunjukkan keterkejutan yang tulus dengan rahang terjatuh dan mulut terbuka seperti aktris-aktris di film-film Hollywood. “Wow,sudah sebegitu dekatkah!?” kata dia penuh semangat.

Ia kemudian berkisah panjang soal jalan panjang memutarnya menuju Tanah Suci. Dari tempat Su’ad lahir di Mogadishu, Somalia, ke Arab Saudi sedianya hanya perlu menempuh perjalanan melalui darat ke utara kemudian menyeberangi Laut Merah ke timur.

Meski begitu, perang sipil meletus di Somalia sejak akhir 1980-an dan memuncak pada awal 1990-an. Sedikitnya 300 ribu orang tewas dari perang yang sampai sekarang belum benar-benar selesai itu. Su’ad menuturkan, beberapa keluarga jauhnya ikut jadi korban. Mata Su’ad tiba-tiba sendu saat mengenang perang tersebut.

Bersama ratusan ribu warga Somalia saat itu, Su’ad dan Yusuf Ali terpaksa melarikan diri dari gelombang kekerasan pada 1992. Mengarungi Afrika menuju ujung barat benua itu kemudian terbang melintasi Samudera Atlantik sebagai pengungsi ke Amerika Serikat.

Di Negeri Paman Sam, seperti banyak pengungsi dari Somalia lainnya, Yusuf Ali dan Su’ad memilih Minnesota di bagian Midwestern yang lebih dekat ke wilayah utara Amerika Serikat untuk memulai hidup baru. Minnesota saat ini adalah wilayah dengan komunitas keturunan Somalia terbanyak di Amerika Serikat. Sekitar 80 ribu keturunan Somalia tercatat tinggal di wilayah itu pada 2016.

Su’ad kembali tercengang saat tahu bahwa panas di Padang Arafah nanti bisa mencapai 53 derajat celcius alias 127 fahrenheit merujuk hitungan suhu standar AS. “Berbeda sekali dengan Minnesota yang dinginnya minta ampun,” kata dia.

Di Minnesota, mereka perlahan mencari modal bekerja serabutan untuk memulai usaha dan akhirnya punya cukup biaya untuk hidup nyaman. Empat putra-putri mereka lahir di tanah asing tersebut.

Yang paling tua, kata Su’ad, seorang putra berusia 23 tahun dan yang paling muda 15 tahun. Biaya sekitar 8.000 dolar AS atau setara Rp 115 juta untuk bepergian ke Tanah Suci untuk masing-masing orang dari Minnesota tak lagi memberatkan buat pasangan suami istri tersebut.

Seperti saat meninggalkan Somalia lebih dua dekade lalu, Yusuf Ali dan Su’ad kembali menempuh perjalanan berdua saja. Mereka mulanya berangkat dengan rombongan yang difasilitasi agensi perjalanan, namun memilih memisahkan diri di Dubai untuk menemui saudara jauh sejenak.

Su’ad mengatakan, sangat senang bisa bertemu banyak Muslim lainnya di Tanah Suci. Ini lain dengan keadaan di Tanah Air barunya yang tak begitu menenangkan buat umat Islam dengan kebangkitan sentimen tempatan belakangan beserta sorotan negatif terhadap imigran.

Yusuf Ali mengiyakan, kondisi di sebagian wilayah Amerika Serikat saat ini bukan yang paling ideal untuk umat Islam dan para imigran. Kendati demikian, ia tak bisa memungkiri, terbukanya kesempatan menggapai “American Dream” di negara itu adalah juga yang mengantarkannya ke Tanah Suci tahun ini.

“Ini memang sudah lama jadi impian terbesar saya. Kalau tak untuk berhaji, saya tak akan susah payah ke sini,” kata dia. “Saya ingin ke sini lima kali lagi,” kata Su’ad menimpali setengah berkelakar. Bus mereka menuju Makkah akhirnya tiba. Petugas dari Saudi melambaikan tangan memanggil mereka berdua. Sembari tersenyum lebar, Su’ad menemani Yusuf Ali berjalan menuju impian mereka.

Oleh: Fitriyan Zamzami dari Jeddah, Arab Saudi

 

REPUBLIKA

Rahasia di Balik Multazam

ADA apa di balik multazam? Pertanyaan ini banyak ditanyakan para jemaah haji dan umrah. Multazam berasal dari bahasa Arab dan dari kata lazima-yalzamu yang berarti tetap, pasti, dan wajib. Kemudian membentuk kata multazam berarti sesuatu yang dimintai pertanggungjawaban.

Multazam sebagai nama sebuah tempat yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah dihubungkan dengan hadis Nabi yang mengatakan, “Multazam adalah tempat berdoa yang dikabulkan (mustajabah), tak seorang pun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa terkabulkan doanya”.

Disebut multazam karena seolah ada kepastian dan ketetapan, siapa pun yang bermohon di tempat itu, maka Allah akan mengijabah doa-doanya. Ada sejumlah hadis Nabi menjelaskan tentang hal ini.

Tidak heran jika para sahabat Nabi menjadikan tempat ini sebagai salah satu tepat khusus untuk berdoa.

Dalam suatu riwayat sebagaimana diungkapkan di dalam Sunan Abu Dawud, dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya berkata, “Saya (menunaikan) tawaf bersama Abdullah, ketika sampai di belakang Kakbah, saya berkata: “Apakah kita tidak berlindung?” (Beliau) berkata: “Kita berlindung dengan (nama) Allah dari neraka.” Ketika telah lewat, saya menyentuh Hajar (Aswad), dan berdiri di antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu (Kakbah). Maka (beliau) menaruh dada, wajah, lengan, dan kedua tangannya begini dan membentangkan lebar keduanya. Kemudian berkata: “Beginilah saya melihat Rasulullah SAW melakukannya.”

Keutamaan multazam dijelaskan dalam beberapa hadis, di antara keutamaannya ialah menunaikan salat sunah dan berdoa. Di dalam multazam inilah juga kita dianjurkan untuk salat dua rakaat setelah melakukan tawaf tujuh kali putaran.

Dalam buku-buku manasik haji disuguhkan redaksi doa yang sebaiknya dibaca saat kita berdoa di tempat ini setelah melaksanakan salat dua rakaat. Hanya, perlu hati-hati karena tempat ini sangat terbatas dan di musim haji hampir sulit salat di pelataran Kakbah di arah multazam.

Salat dan doa juga dapat dilakukan dalam garis lurus ke belakang, tempat lebih memungkinkan kita salat lebih aman dan tenang sambal berdoa secara khusyuk. Di sebelah kanan multazam di situ ada tempat air minum zamzam yang dianjurkan untuk diminum seusai melakukan tawaf.

Doa yang banyak dipanjatkan di tempat ini secara turun temurun semenjak dari masa sahabat hingga sekarang ialah sebagai berikut.

“Ya Allah, Tuhan kami, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu dan anak dari hamba-Mu, anak budak-Mu. Engkau bawa kami dengan apa yang telah Engkau jalankan kepadaku dari makhluk-Mu. Dan Engkau jalankan diriku dari negeri-Mu sehingga Engkau sampaikan dengan nikmat-Mu ke rumah-Mu. Dan Engkau bantu kami agar dapat menunaikan manasikku.

Kalau sekiranya Engkau rida kepada diriku, maka tambahkanlah kepadaku keridaan-Mu. Kalau sekiranya (belum), maka dari sekarang (berikanlah) keridaan kepadaku sebelum meninggalkan rumah-Mu (menuju) rumahku. Ini adalah waktu kepergianku, jikalau Engkau mengizinkan kepadaku tanpa (ada rasa) menggantikan dari diri-Mu, juga rumah-Mu, dan (tidak ada perasaan) benci kepada-Mu dan pada rumah-Mu.

Ya Allah, Tuhanku. Sertakanlah kepada diriku kesehatan pada badanku, dan kesehatan di tubuhku serta jagalah agamaku, dan perbaikilah tempat kembaliku, berikanlah rezeki (dengan) ketaatan kepada-Mu selagi saya (masih) hidup. Dan gabungkanlah untuk diriku kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau terhadap sesuatu Mahamampu”.

Bukan hanya doa ini, melainkan doa apa pun yang dianggap sangat prioritas dapat dipanjatkan di tempat mustajabah ini. Allahu a’lam.

Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mediaindonesia/suaraislam)

Haji dan Umrah Hilangkan Kefakiran dan Hapus Dosa

KITA dengar juga cerita ada sebagian wanita Indonesia yang tatkala sampai di Saudi mereka langsung sujud syukur, begitu luar biasa bahkan banyak yang bercita-cita ingin meninggal tatkala haji, ingin meninggal di tanah suci dan terlalu banyak cerita yang menjelaskan tentang bagaimana luar biasanya kerinduan kaum Muslimin terhadap ibadah haji.

Dan pantas bagi mereka untuk merindukan ibadah yang satu ini (ibadah yang sangat luar biasa) terlalu banyak keutamaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Allah janjikan bagi orang-orang yang berhaji dengan haji yang mabrur.

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan menyebutkan sebagian hadis (dalil-dalil) yang menyebutkan akan keutamaan berhaji diantaranya Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya umrah yang satu hingga umrah yang berikutnya merupakan penebus dosa-dosa yang ada di antara kedua umrah tersebut, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya yang setimpal kecuali surga.” (HR Imam Al Bukhari nomor 1773 dan Imam Muslim nomor 1349 dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

Ini dalil bahwasanya haji yang mabrur (orang yang melakukan haji mabrur) maka dia tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga. Tidak ada balasan yang pas bagi dia yang setimpal kecuali surga.

Berbeda dengan umrah, di sini Rasulullah membedakan antara umrah dengan haji, kalau umrah yang satu dengan umrah yang lainnya maka menghapuskan dosa-dosa di antara kedua umrah tersebut. Rasul menyebutkan adapun haji yang mabrur (ini berarti beda antara pahala haji dengan pahala umrah) karena haji yang mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga.

Rasulullah bersabda, “Ikutilah kembali haji dan umrah” yaitu hajilah engkau, umrahlah lagi, hajilah lagi dalam hadis ini jelas Rasulullah menyuruh kita untuk mengulang-ulang haji dan umrah bagi orang yang mampu tentunya. Kenapa?

“Karena haji dan umrah itu bisa menghilangkan kefakiran dan juga bisa menghilangkan dosa-dosa” ucap Rasul.

Di sini beliau menyebutkan keutamaan haji dan umrah bukan cuma berkaitan dengan masalah akhirat, bukan cuma menghilangkan dosa-dosa bahkan juga menghilangkan kefakiran. Jadi kalau orang ingin agar kesejahteraan ekonominya bertahan maka hendaknya dia berhaji dan umrah, karena itu akan menghilangkan (menafikan) menghilangkan kefakiran dari dirinya.

“Sebagaimana alat yang digunakan oleh pandai besi untuk meniup (bisa digunakan untuk menghilangkan kotoran besi/karat besi demikian juga untuk menghilangkan kotoran emas dan perak).”

Kemudian Rasulullah bersabda, “Dan tidak ada balasan yang setimpal bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

Ini dalil bahwasanya anjuran Nabi untuk mengulang-ulang haji dan umrah dan ini ada faedahnya diantaranya menghilangkan dosa-dosa dan untuk menghilangkan kefakiran. Dan ini membantah pendapat sebagian orang yang memberi kesan seakan-akan kalau orang mengulang-ulangi haji atau umrah disebut dengan haji setan, umrah setan, dan ini tidak benar.

Kita amati bagaimana para salaf dari dahulu sehingga para ulama zaman sekarang mereka senantiasa semangat untuk mengulang-ulangi umrah dan haji. Kalau seseorang mampu, memiliki kelebihan harta, dia sudah bersedekah, dia sudah berinfak, dia sudah bayar zakat, dia juga memberikan bantuan kepada fakir miskin, memberi bantuan kepada anak yatim, kepada masjid, kemudian dia berhaji dan umrah kenapa kita larang?

Justru dia dengan berhaji dan berumrah tersebut Allah akan memberikan rejeki kepada dia, dan masalah rejeki adalah masalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita dapati banyak orang seperti itu, saya memiliki banyak teman yang Alhamdulillah bersedekah lancar, membayar zakat juga lancar, umrah dan haji juga lancar.

Maka jangan kita menuduh mereka-mereka ini seakan-akan melakukan kesalahan, setiap orang rindu ingin haji, rindu ingin melihat ka’bah, rindu ingin berdoa di padang Arafah, rindu ingin dosa-dosanya dihapuskan, maka masa kita larang orang seperti ini, ingin datang ke tanah suci kecuali kalau orang tersebut dia haji, dia umrah tapi pelit sama tetangga, zakat tidak bayar, tidak sedekah, tidak memperhatikan fakir miskin, mungkin ini lain ceritanya.

Tapi kita berbicara tentang orang yang menunaikan kewajibannya dan dia masih memiliki kelebihan harta maka kenapa kita larang dia untuk berhaji dan berumrah sementara banyak orang mereka yang tatkala banyak kelebihan harta mereka berfoya-foya kemudian mereka berlibur ke luar negeri, bersenang-senang.

Alhamdulillah bila ada orang yang meluangkan hartanya untuk haji lagi, umrah lagi maka silahkan saja dan ini sabda Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menganjurkan untuk mengulang-ulang haji dan umrah. Oleh karenanya merupakan sunah seseorang mengulang-ulang haji dan mengulang-ulang umrah jika tentunya dia telah menjalankan kewajibannya.

[Ustaz Firanda Andirja, MA]

 

INILAH MOZAIK

Armina Jadi Titik Kritis

MAKKAH — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mulai memfokuskan perhatiannya kepada puncak haji yang diperkirakan jatuh pada pekan depan. Pada saat itu seluruh jamaah haji dimobilisasi ke Arafah untuk malaksanakan wukuf.

“Puncak haji adalah Arafah. Setelah itu Muzdalifah, dan Mina. Itulah titik kritis kita,” kata Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin di Masjid al-Haram setelah melaksanakan umrah wajib pada Ahad (12/8).

Seluruh perhatian dan tenaga jamaah beserta PPIH akan terkonsentrasi di sana. Pada 8 Dzulhijjah, jamaah digerakkan ke Arafah secara terus-menerus. Mereka menginap di area pertemuan Adam dan Hawa itu setelah terpisah ratusan tahun.

Di sana jamaah berzikir, beribadah, menjaga perilaku dan tutur kata. Hal sama juga mereka lakukan ketika mabit di Muzdalifah pada tanggal itu setelah mentari terbenam. Di sana mereka menetap hingga hari berganti. Pada pukul 01.00 dini hari tanggal 10 Dzulhijjah jamaah digerakkan ke Mina untuk melempar jumrah aqabah.

Di sini jamaah harus berjalan jauh untuk sampai ke area jamarat. Dari tenda ke jamarat mereka harus berjalan minimal dua kilometer. Kemudian kembali lagi ke tenda melalui jalan yang lebih jauh sekitar tiga kilometer. Setelah itu mereka masih diarahkan untuk tawaf ifadah di al-Haram. Praktis mereka akan sangat kelelahan di sini. “Sebagian besar stamina jamaah tersita di sana, konsentrasi seluruh jamaah harus dipusatkan di Arafah dan Mina,” kata Lukman.

Kepala Satuan Operasi Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) Jaetul Muchlis mengatakan, tenda di masing-masing titik tadi terbatas. Namun, Muassasah dan Maktab mengupayakan untuk mengurangi tenda petugas. Fasilitas yang ada akan diprioritaskan untuk jamaah.

Fasilitas tenda di Arafah sudah permanen. Di sana lokasi tenda jamaah sudah dibagi per maktab sesuai arahan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Namun, pihaknya menekankan, tenda Indonesia harus dikhususkan untuk jamaah kuota. Sedangkan tenda jamaah non-kuota atau furoda harus disendirikan. “Jadi ini harus sesuai kontrak. Jangan sampai ada jamaah furoda masuk ke penginapan kita. Itu kita minta betul ke muassasah. Karena tempatnya terbatas,” katanya.

Sedangkan di Mina, tenda yang ada akan dimaksimalkan untuk kenyamanan jamaah. “Kita buat home base di tenda-tenda Mina terutama yang ditinggalkan jamaah yang kembali ke hotel. Kita optimalkan tempat itu buat pergerakan petugas,” kata Jaetul.

Pihaknya mengimbau petugas haji untuk sigap dalam bergerak pada saat Armina. Pada tanggal 7 Dzulhijjah pukul 19.00 waktu setempat, tim Armina sudah meluncur. Mereka mengecek kesiapan akhir akomodasi di Arafah.

Tim Daerah Kerja (Daker) Bandara yang biasa mobile akan lebih dulu tiba di Arafah. Sebagian petugas Daker Makkah juga dilibatkan di sana. Mereka akan menjemput jamaah.

Tim Katering juga sudah mulai berpindah ke sana menyiapkan dapur semipermanen dan produksi makanan untuk jamaah. Produksi makanan akan disesuaikan dengan waktu kedatangan jamaah yang mulai tiba di Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah pagi.

Jaetul menekankan pergerakan petugas yang harus cepat, sehingga pelayanan jamaah tidak terganggu. “Jangan sampai ada yang lamban apalagi berhenti. Prinsipnya mereka harus tiba lebih dulu dari jamaah,” ujarnya.

REPUBLIKA