Hukum Menggunakan Pengeras Suara Masjid untuk Pengumuman

Lumrah terjadi di desa-desa, masyarakat menggunakan pengeras suara masjid untuk pengumuman suatu pemberitahuan yang biasanya terkait dengan adanya orang yang meninggal, posyandu, atau untuk memanggil anggota majlis taklim atau manakiban. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama dan masih eksis hingga kini, sebab masih dinilai efektif untuk mengumpulkan orang banyak. Padahal kita tahu semua bahwa barang-barang yang ada dalam masjid merupakan barang-barang wakaf, bolehkah tindakan masyarakat tersebut? (Baca: Hukum Iqamah dengan Pengeras Suara)

Sebagaimana yang kita ketahui, masjid merupakan tempat yang diwakafkan untuk shalat dengan niat menjadikannya masjid. Oleh karena itu, segala inventaris, termasuk pengeras suara, yang ada dalam masjid juga menjadi barang wakaf. Dan bila pihak yang mewakafkan (wakif) mensyaratkan pengeras suara tersebut harus digunakan untuk keperluan masjid, maka tidak boleh digunakan untuk umum, sebagaimana disebutkan dalam kitab  Fathul Wahhab (2/442)

(وَلَوْ شَرَطَ) الوَاقِفُ (شَيْئًا) يُقْصَدُ كَشَرْطِ أَنْ لَا يُؤْجَرَ أَوْ أَنْ يُفَضَّلَ أَحَدٌ أَوْ يُسَوَّى أَوْ اخْتِصَاصِ نَحْوِ مَسْجِدٍ كَمَدْرَسَةٍ وَرِبَاطٍ بِطَائِفَةٍ كَشَافِعِيَّةٍ (اتُّبِعَ شَرْطُهُ) رِعَايَةً لِغَرْضِهِ وَعَمَلًا بِشَرْطِهِ

“Seandainya seorang wakif mensyaratkan sesuatu dengan tujuan tertentu seperti syarat tidak boleh disewakan, atau harus memprioritaskan seseorang, atau menyaratakannya, atau syarat mengkhususkan untuk masjid, madrasah, ribath (pondok) khusus golongan tertentu seperti untuk golongan mazhab Syafi’i, maka syarat tersebut harus diikuti, sebagai bentuk menjaga tujuan sang wakif, serta mengamalkan syaratnya”.

Namun, bila wakif tidak memberikan syarat tertentu tentang penggunaan pengeras suara, maka hukumnya boleh digunakan untuk kegiatan yang mengandung kemaslahatan kaum muslim. Batas penggunaannya disesuaikan dengan ‘urf (kebiasaan) yang berlaku di msyarakat, sebab ‘urf hukumnya sama dengan syarat dari wakif. Hal demikian dijelaskan dalam al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (3/88) serta Hasyiyah I’anat at-Thalibin (3/202):

وَأَنَّ الـمَسْجِدَ حُرٌّ يَمْلِكُ فَلَا يَجُوْزُ التَّصَرُّفُ فِيهِ إِلَّا بِمَا فِيْهِ مَصْلَحَةٌ تَعُوْدُ عَلَيْهِ أَوْ عَلَى عُمُوْمِ الـمُسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya masjid itu seperti orang merdeka yang bisa memiliki sesuatu, maka tidak boleh menggunakan harta masjid kecuali dengan hal yang di dalamnya terdapat maslahat yang kembali kepada masjid atau kepada kaum muslim secara umum”

حَيْثُ أَجْمَلَ الْوَاقِفُ شَرْطَهُ اتَّبَعَ فِيْهِ العُرْفَ الـمُطَرَّدَ فِيْ زَمَانِهِ لِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ شَرْطِهِ ثُمَّ مَا كَانَ أَقْرَبَ إِلَى مَقَاصِدِ الوَاقِفِيْنَ كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهِمْ كَلَامُهُمْ.

“Jika wakif tidak memperinci syaratnya, maka penggunaan harta wakaf mengikuti kebiasaan yang berlaku pada masa wakif tersebut. Kebiasaan yang berlaku itu hukumnya sama dengan syarat dari pewakaf. Lalu (jika tidak ada tidak ada kebiasaan yang berlaku), maka yang menjadi pertimbangan adalah apa yang paling mendekati tujuan wakif sebagaimana yang ditunjukkan oleh pernyataan ulama”

Terakhir, KH. Jakfar shadiq Pasuruan juga menjelaskan dalam kitabnya, Risalatul Amajid fi Ahkamil Masajid (29) tentang kebolehan menggunakan pengeras suara asalkan tidak dibawa di luar masjid, serta mendapatkan izin dari nazhir atau pengelola masjid:

أَقُوْلُ وَفُهِمَ مِمَّا ذُكِرَ أَنَّ نَقْلَ نَحْوِ الـمُكَبِّرِ لِلصَّوْتِ لِلْمَسْجِدِ وَاسْتِعْمَالَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ الـمَسْجِدِ غَيْرُ جَائِزٍ اهـ

وَاسْتَدْرَكَهُ الأُسْتَاذُ الـمُؤَلِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ بِقَوْلِهِ: وَمُرَادِيْ بِهِ أَنَّ الاِسْتِعْمَالَ لِغَيْرِ الـمَسْجِدِ كَأَنْ اسْتُعْمِلَ لِلْوَلِيْمَةِ فِيْ البُيُوْتِ أَوْ غَيْرِهَا خَارِجَ الـمَسْجِدِ غَيْرُ جَائِزٍ. أَمَّا الاِسْتِعْمَالُ فِيْ الـمَسْجِدِ فَجَائِزٌ مَا دَامَ الاِسْتِعْمَالُ مَأْذُوْنًا شَرْعًا لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الاِسْتِعْمَالِ لِلْمَسْجِدِ

“Saya berkata:’ bisa dipahami dari penjelasan yang telah disebutkan tadi, bahwa memindahkan pengeras suara milik masjid serta penggunaannya selain untuk kepentingan masjid itu hukumnya tidak boleh.’

Guru pengarang (semoga Allah memberikan pertolongan padanya) menyusul perkataan beliau tadi dengan dawuh: ‘Maksud saya dengan perkataan tadi adalah bahwa penggunaan selain untuk masjid, seperti digunakan untuk walimah di rumah atau tempat lainnya di luar masjid hukumnya tidak boleh. Sedangkan apabila digunakan di dalam masjid maka hukumnya boleh selama mendapatkan izin secara syariat karena hal itu termasuk penggunaan untuk masjid juga.”

Wallahu A’lam

BINCANG SYARIAH