Idul Fitri: Antara Pesimis dan Optimis

Berikut penjelasan terkait Idul Fitri, antara pesimis dan optimis. Inilah poin penting dalam memperingati Idul Fitri.

Khauf (pesimis) dan raja’ (optimis) adalah dua kualitas penempuh laku spiritual yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Imam al-Qusyairi menukil perumpamaan yang indah nan menjelaskan perlunya menyelaraskan antara pesimis dan optimis dari Abu Ali al-Rudzbari.

الخوف والرجاء هما كجناحي الطائر إِذَا استويا استوى الطير وتم طيرانه وإذا نقص أحدهما وقع فِيهِ النقص وإذا ذهبا صار الطائر فِي حد الْمَوْت.

“Optimis dan pesimis ibarat sepasang sayap burung. apabila keduanya selaras, maka burung pun akan bertengger dan dapat terbang dengan sempurna. Tapi apabila terdapat cacat pada salah satunya, terbangnya burung pun akan menjadi cacat.

Sedangkan apabila kedua sayapnya lenyap, itu artinya burung itu telah di ambang batas kematiannya.” (al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyah, 1/260)

Secara pengamalan, dalam Ihya ‘Ulum al-Din, al-Ghazali menyebut kombinasi khauf dan raja sebagai salah satu syarat batin dari puasa. Al-Ghazali mengatakan,

 السادس أن يكون قلبه بعد الإفطار معلقاً مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ إِذْ لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَوْ يُرَدُّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ وَلْيَكُنْ كَذَلِكَ فِي آخر كل عبادة يفرغ منها

“Syarat batin dari puasa yang keenam yaitu setelah berbuka hati orang yang berpuasa terpaut dengan rasa pesimis dan optimis. Sebab belum tentu puasanya diterima sehingga ia termasuk golongan orang-orang yang didekatkan dengan Allah.

Atau justru puasanya tak diterima lantas ia termasuk kalangan yang dibenci. Hendaklah bersikap demikian setiap kali selesai melakukan.” (al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, 1/235)

Dalam menghadapi momentum Idul Fitri pun rasa pesimis dan optimis mestinya juga tidak boleh dikesampingkan. Memang tidak salah menunjukkan rasa bahagia atas hadirnya hari yang mulia ini. Bahkan memang seharusnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari mengungkapkan,

أَنَّ إِظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ

“Sesungguhnya menampakkan rasa bahagia pada hari-hari Id merupakan syiar agama,” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 2/433).

Akan tetapi tanpa dibarengi dengan khauf, bahwa belum tentu amal kita selama Ramadan diterima, bukan mustahil Idul Fitri justru menjadi momentum berfoya-foya atau bahkan melampiaskan hawa nafsu yang diredam selama sebulan penuh.

Oleh sebab itu, tak heran bilamana sebagian generasi salaf justru merasa sedih ketika memasuki Idul Fitri. Alih-alih bergembira ria, sebagian mereka justru tampak murung karena akan berpisah dengan bulan Ramadan yang penuh keberkahan. Di samping itu mereka khawatir amal ibadah yang mereka lakukan tidak diterima dan dosa-dosa mereka tidak diampuni.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif misalnya, menukil riwayat yang mengisahkan Umar bin Abdul Aziz. Dikisahkan bahwa sang Khalifah keluar dari istana pada hari Idul Fitri. Sang Khalifah pun berkhutbah di hadapan masyarakatnya.

“Wahai manusia! Kalian telah berpuasa karena Allah sebulan penuh. Kalian juga telah menghidupkan malam Ramadan selama tiga puluh malam. Hari ini kalian keluar seraya berharap agar Allah menerima amal ibadah kalian semua.

Ketahuilah bahwa sebagian generasi salaf justru tampak bersedih ketika hari Idul Fitri. Lantas sebagian mereka itu ditanya, ‘Bukan ini hari berbahagia dan suka cita?’ Sebagian mereka pun menjawab, ‘Kalian benar ini adalah  hari berbahagia.

Namun aku hanya seorang hamba yang oleh Tuhanku diperintahkan untuk beramal untuk-Nya. Sementara aku tak tahu apakah amal diterima’ ” (Ibnu Rajab, Lathaif al-Ma’arif, 209).

Hampir serupa dengan kisah dalam riwayat di atas, Ibnu al-Jauzi dalam al-Tabshirah menukil kisah Shalih bin Abdul Jalil. Disebutkan bahwa ketika Idul Fitri tiba, Shalih bin Abdul Jalil mengumpulkan keluarganya. Ia pun duduk di tengah mereka sembari menangis. Saudara-saudaranya pun mengeherankan mengapa ia bersedih padalah ini adalah hari bergembira.

Shalih bin Abdul Jalil menjawab, “Kalian benar ini adalah  hari bergembira. Tetapi aku hanyaseorang hamba yang oleh Tuhanku diperintahkan beramal untuk-Nya. Aku pun beramal namun aku tak tahu apakah Tuhanku menerima atau menolak amalku. Maka bersedih lebih utama bagiku,” (Ibnu al-Jauzi, al-Tabshirah, 2/110).

Demikian renungan sufistik yang berhubungan dengan hari raya Idul Fitri. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

BINCANG SYARIAH