Khusyu dalam Sholat, ini Penjelasannya

Pakar Tafsir Alquran, M Quriash Shihab mengatakan, Alquran telah menyebut shalat sebagai sarana dan cara berzikir. Allah Swt berfirman,

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Artinya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dan Pencipta, serta Pengendali seluruh wujud) selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk berzikir mengingatk-Ku.” (QS. Thah [20]: 14).

Dalam bukunya yang berjudul “Wawasan Al-Quran tentang Zikir dan Doa” tertiban Lentera Hati, M Quraish menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan yang disebut di atas, maka siapa pun yang melaksanakan shalat, bukan saja dituntut untuk memahami substansi shalat.

Artinya, dalam hal ini tidak sekadar seperti yang didefinisikan oleh pakar-pakar hukum Islam atau ulama fikih, yakni dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Tetapi, memahami substansi yang ditegaskan Allah Swt dalam Alquran, yakni pengagungan kepada Allah Swt dan kesadaran tentang perlunya membantu siapa pun yang butuh.

Menurut M Quriash, seandainya substansi yang dimaksud hanya sekadar seperti rumusan ulama fikih, maka tentu Allah Swt tidak menegaskan bahwa shalat dapat mencegah manusia terjerumus dalam kemungkaran.

Lebih lanjut, dia menuturkan, substansi yang dikehendaki Allah bermula dari rasa khusyu’, yakni tunduk dan patuh dengan peruh hormat kepada Allah Swt. Karena, menurut dia, semua kegiatan shalat seharusnya menggambarkan ketundukan dan penghormatan yang tidak terbatas kepada-Nya semata.

Sebagian ulama menyatakan bahwa khusyu’ dalam shalat adalah “rasa takut” jangan sampai shalat yang dilakukan tertolak. Rasa takut itu bercampur dengan kesigapan dan kerendahan hati. Ibnu Katsir (w. 1373 M) menulis bahwa khusyu’ dalam shalat baru terlaksana bagi yang mengonsentrasikan jiwanya sambal mengabaikan segala sesuatu selain yang berkaitan dengan shalat.

Sementara, Imam ar-Razi menulis bahwa apabila seorang sedang melaksanakan shalat, maka terbukalah tabir antara dia dengan Tuhan. Tetapi, begitu dia menoleh, tabir itu pun tertutup. Betapapun khusyu’ itu bertingkat-tingkat, tetapi intinya adalah upaya sungguh-gungguh mengadirkan kebesaran Allah Swt dalam benak serta kepatuhan dan penghormatan kepada-Nya.

IHRAM