Hukum Lelaki Naik Ojek dengan Driver Perempuan

Bagaimana hukum lelaki naik ojek dengan driver perempuan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seringkali perempuan dituntut oleh keadaan untuk mencari nafkah di berbagai sektor pekerjaan.

Ada sektor pekerjaan yang dimaklumi oleh adat sebagai hal yang identik dengan perempuan semisal menjadi sekertaris di sebuah perusahaan, ada pula yang belum dimaklumi oleh adat semisal menjadi tukang ojek yang biasanya profesi ini dilakukan oleh lelaki.

Anggapan masyarakat semacam ini kerapkali menimbulkan rasa canggung dalam diri sebagian konsumen semisal jika seorang lelaki memesan jasa ojek online kemudian yang tampil drivernya adalah perempuan. Sebenarnya, bagaimanakah hukum lelaki menggunakan jasa ojek yang drivernya perempuan?

Ada dua persoalan yang mesti kita bahas dalam hal ini, yakni hukum naik kendaraan antara perempuan dan lelaki yang non mahram, dan karena yang dibahas adalah ojek, berarti kita perlu membicarakan persoalan perempuan yang mencari nafkah. Persoalan diluar dua hal tadi semisal berboncengannya untuk urusan bukan mencari nafkah, tidak kita bahas.

Terkait persoalan berboncengan antara perempuan dan lelaki, memang terdapat fatwa yang melarangnya karena alasan bisa menimbulkan potensi syahwat atau fitnah.

Dalam kitab Al-Mausu’ah Fikhiyah, juz 3, halaman 91 disebutkan,

وأما إرداف المرأة للرجل الأجنبي والرجل للمرأة الأجنبية فهو ممنوع سدا للذرائع واتقاء للشهوة المحرمة

Artinya: “Perempuan yang membonceng pada lelaki atau lelaki yang membonceng pada perempuan hukumnya dilarang dengan alasan sadd al-dzara’I (tindakan preventif) dan khawatir akan timbulnya syahwat yang diharamkan”.

Perlu dipahami bahwa terlarangnya hal tersebut ialah karena adanya potensi fitnah atau syahwat yang diharamkan, maka apabila fitnahnya disingkirkan maka hukumnya menjadi diperbolehkan. Ini berlaku baik ketika perempuannya memboncengkan atau diboncengkan sebagaimana disebutkan dalam teks kitab diatas.

Interaksi antara perempuan dan lelaki non-mahram dalam Islam diharamkan apabila bentuknya ialah khalwat; dalam arti berduaan yang berpotensi timbulnya syahwat. Sedangkan apabila interaksi tersebut bukan khalwat atau tidak berpotensi timbulnya fitnah, maka diperbolehkan.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Majmu’, j. IV, h. 350:

اخْتِلَاطَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ إذَا لَمْ يَكُنْ خَلْوَةً لَيْسَ بِحَرَامٍ

Artinya: “Percampuran antara wanita dan pria asalkan tidak terjadi khalwat tidak diharamkan”.

Berikutnya, untuk persoalan perempuan mencari nafkah, sejatinya perempuan tidaklah wajib mencari nafkah karena nafkahnya ditanggung oleh pihak lelaki. Bisa jadi lelaki tersebut adalah suaminya, ayahnya, kakeknya, saudara lelakinya, atau pamannya.

Namun apabila perempuan tersebut ingin bermuamalah atau mencari nafkah karena tidak ada yang menutupi kebutuhannya, maka hal tersebut diperbolehkan dengan catatan seperti diatas tadi, yakni selamat dari adanya fitnah.

Dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, j. I, h. 2433 disebutkan:

فالإسلام لا يمنع المرأة من العمل فلها أن تبيع وتشتري، وأن توكل غيرها، ويوكلها غيرها، وأن تتجار بمالها، وليس لأحد منعها من ذلك مادامت مراعية احكام الشرع وادابه

Artinya: ‘Maka Islam tidak melarang perempuan bermuamalah. Ia diperbolehkan melakukan transaksi jual beli, mewakilkan atau menjadi wakil, juga berniaga dengan hartanya. Tidak boleh sesiapapun melarang hal tersebut selama ia bisa menjaga hukum-hukum dan tatakrama syariat”.

Demikian hukum lelaki naik ojek dengan driver perempuan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

BINCANG SYARIAH

Ojek Online Bawa Penumpang Non Muslim Pergi Ke Gereja, Bolehkah?

Saban hari Sabtu dan Minggu, kaum Kristen biasanya melaksanakan kebaktian dan sembahyang ke gereja. Di antara jamaah, untuk sampai ke gereja memilih memakai jasa ojek online. Terkadang driver ojol yang dipesan tersebut beragama Islam. Nah, bagaimana hukum mengantarkan non-muslim ke gereja?

Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu  menerangkan boleh mengantarkan non muslim ke gereja untuk beribadah ataupun merayakan natal ke gereja. Perbuatan tersebut bukanlah sebagai dosa dan juga bukan perilaku maksiat yang diharamkan.

يجوز للشخص عند ابي حنيفة ان يؤجر نفسه او سيارته او دابته باجر لتعمير كنيسة او لحمل خمر ذمي لا لعصرها لانه لا معصية في الفعل عينه

Boleh bagi seseorang, menurut Abu Hanifah, menyewakan dirinya, atau mobilnya, atau kendaraannya dengan upah untuk merayakan gereja, atau untuk membawa minuman keras non-muslim, bukan memerasnya. Hal ini karena dalam perbuatan tersebut tidak maksiat di dalamnya.

Sementara itu, Ibnu Najim Al-Hanafi dalam kitab al Bahr ar Ra’iq Syarh Kanz ad Daqa’iq menjelaskan bahwa dalam mazhab Hanafi boleh hukumnya seorang muslim mengambil upah dari hasil bekerja dengan non muslim.Pun boleh hukumnya bekerja di sinagoge atau gereja. Simak penjelasan Ibn Najim berikut:

وَفِي التَّتَارْخَانِيَّة: وَلَوْ أَجَّرَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ لِذِمِّيٍّ لِيَعْمَلَ فِي الْكَنِيسَةِ فَلَا بَأْسَ بِهِ

Di dalam Al-Fatawa At-Tatarkhaniyah (Ensiklopedi fatwa fikih mazhab Hanafi karangan Syeikh Alim Ad-Dahlawi): Apabila seorang muslim menyewakan diri atau menjual jasa dirinya kepada seorang dzimmi untuk bekerja di sinagoge atau gereja, maka pekerjaan itu tidak apa-apa baginya.

Dengan demikian, bagi  driver ojek online, boleh hukumnya mengantarkan non-muslim kebaktian dan sembahyang ke gereja.  Di samping itu, seorang muslim Bekerja kepada non-muslim, baik dengan waktu tertentu atau hanya sebatas sewa jasa sementara, hukumnya diperbolehkan dalam Islam.

Pun seorang muslim yang bekerja sebagai satpam, tukan kebersihan, teknisi, atau pun lainnya boleh hukumnya. Hal itu tak ada persoalan.

BINCANG SYARIAH