Cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq Berjalan Kaki untuk Ibadah Haji Sampai Usia Senja

Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq selalu berjalan kaki untuk ibadah haji. Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny mengatakan, Qasim bin Muhammad bin Abu hidup sampai usia 72 tahun.

“Dia bertambah kuat pada harituanya. Dia masih mampu berjalan kaki menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dan dalam perjalanan itulah dia wafat,” tulis Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny dalam bukunya 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah.

Ketika dia merasa ajalnya telah dekat, dia berpesan kepada putranya, “Apabila aku mati, kafanilah aku dengan pakaian yang biasa kupakai untuk sholat. Gamisku, kainku, dan serbanku. Seperti itulah kafan kakekmu, Abu Bakar ash-Shidiq. Kemudian ratakanlah makamku dengan tanah dan segera kembalilah kepada keluargamu. Jangan engkau berdiri di atas kuburanku seraya berkata: Ayahku dahulu begini dan begitu. Karena aku bukanlah apa-apa.” katanya.

Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny mengatakan, ayah handanya adalah Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq ra ibunya adalah putri Yazdajir, Raja Persia yang terakhir.

“Sedangkan bibinya adalah Aisyah ra., Ummul Mukminin,” katanya.

Di atas kepalanya telah bertengger mahkota ketakwaan dan keilmuan. Namanya Qasim bin Muhammad rah, salah seorang dari tujuh fukaha Madinah pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya, dan paling bagus sifat waraknya.

Dia bertutur mengenai masa kecilnya: Setelah terbunuhnya ayah di Mesir, pamanku Abdurrahman datang untuk membawaku dan adik perempuanku ke Madinah. Setibanya di kota ini, bibiku Ummul Mukminin mengutus seseorang mengambil kami berdua untuk dibawa ke rumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya.

Ternyata belum pernah kujumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya daripada beliau. Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami.

Bila tersisa makanan dari kami barulah beliau memakannya. Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya. Beliau yang memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. 

Beliau senantiasa mendorong kami untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya. Beliau melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca kitabulah dan meriwayatkan hadits-hadits yang bisa kami pahami. 

Pada hari raya, bertambahlah kasih sayanv dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja pada hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikanku dan adik perempuanku. Pagi harinya, kami diberi baju baru, kemudian aku disuruh ke masjid untuk sholat Id. 

Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku, kemudian kami makan daging korban. Pada suatu hari, beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu, sedangkan adikku di pangkuannya yang lain. 

Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi Aisyah ra. mulai berbicara, memulai dengan pujian kepada Allah. Sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorang pun baik laki-laki maupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya daripada beliau.

Beliau berkata kepada paman,“Wahai, saudaraku, aku melihat sepertinya engkau menjauh dariku sejak aku mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah, aku melakukannya bukan karena aku lancang kepadamu, bukan karena aku berburuk sangka kepadanya dan bukan pula lantaran aku tidak percaya bahwa engkau dapat menuhi hak keduanya. 

Hanya saja engkau memiliki istri lebih dari satu, sedangkan kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri Maka aku khawatir bila keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga aku merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun, sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepadamu.”

Begitulah, akhirnya pamanku memboyong kami ke rumahnya. Hanya saja, hari cucu Abu Bakar ash-Shiddiq ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah ra. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuat.  Dia berkembang dan kenyang dalam kasih sayang pemilik rumah itu..

IHRAM