Langkah Keenam Setan Sesatkan Manusia

BAGAIMANA tahapan setan dalam menyesatkan manusia? Ada enam langkah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Badaiul Fawaid, 2:799-801.

Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal.

Jika ia sudah menjaga waktu dengan baik, setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal. Contoh, sibuk dengan ibadah, enggan mau menimba ilmu agama sehingga beribadah asal-asalan. Contoh lagi, sibuk dengan berdakwah di negeri yang jauh hingga lupa untuk menambah ilmu untuk dirinya sendiri.

Moga kita dimudahkan oleh Allah dari enam perkara yang menjadi incaran setan: Syirik dan kekafiran; Bidah, amalan yang tidak ada tuntunan; Dosa besar (al-kabair); Dosa kecil (ash-shaghair); Sibuk dengan perkara yang mubah, sehingga waktu habis sia-sia; Sibuk dengan hal yang kurang utama padahal ada hal yang lebih utama.

 

[Muhammad Abduh Tuasikal]

MOZAIK

Langkah Kelima Setan Sesatkan Manusia

BAGAIMANA tahapan setan dalam menyesatkan manusia? Ada enam langkah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Badaiul Fawaid, 2:799-801.

Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya)

Karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala, waktu yang berharga jadi terbuang sia-sia. Ada yang sibuk dengan main game, motor, hingga lupa akan yang wajib seperti shalat. Jika setan tidak mampu menggoda dalam tingkatan kelima ini, maka seorang hamba akan benar-benar tamak pada waktunya. Ia akan tahu bagaimanakah berharganya waktu. Ia pun tahu ada nikmat dan ada akibat jelek jika tidak menjaganya dengan baik.

Jika tidak mampu dalam langkah kelima, maka setan beralih pada langkah yang keenam.

 

[baca lanjutan: Langkah Keenam Setan Sesatkan Manusia]

MOZAIK

Langkah Keempat Setan Sesatkan Manusia

BAGAIMANA tahapan setan dalam menyesatkan manusia? Ada enam langkah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Badaiul Fawaid, 2:799-801.

Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair). Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan akan mengajak pada dosa kecil. Dosa kecil ini juga berbahaya.

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 5: 331, no. 22860. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Maksud hadits, jika dosa kecil terus menumpuk dan tidak terhapus, maka dosa kecil akan membinasakan dirinya. Di sini tidak disebutkan dosa besar karena jarang terjadi di masa silam dan dosa besar memang benar-benar dijaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Al-Munawi. Imam Al-Ghazali menyebutkan, dosa kecil lama-lama bisa menjadi besar karena: menganggap remeh dosa kecil tersebut, terus menerus dalam berbuat dosa. Karena ingatlah yang namanya dosa ketika seseorang menganggap itu begitu besar (berbahaya), menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, ketika dosa itu dianggap remeh, maka menjadi besar di sisi Allah. (Dinukil dari Faidh Al-Qadir, 3: 127)

[baca lanjutan: Langkah Kelima Setan Sesatkan Manusia]

 

MOZAIK

Langkah Ketiga Setan Sesatkan Manusia

BAGAIMANA tahapan setan dalam menyesatkan manusia? Ada enam langkah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Badaiul Fawaid, 2:799-801.

Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair)

Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar (seperti berjudi, mabuk, dan selingkuh), lebih-lebih jika ia adalah seorang alim (berilmu) dan diikuti orang banyak. Setan lebih semangat lagi menyesatkan alim semacam itu supaya membuat manusia menjauh darinya, maksiat semacam itu pun akan mudah tersebar, dan akan dirasa pula bahwa maksiat itu malah mendekatkan diri pada Allah.

Yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.

 

[baca lanjutan: Langkah Keempat Setan Sesatkan Manusia]

MOZAIK

Langkah Kedua Setan Sesatkan Manusia

BAGAIMANA tahapan setan dalam menyesatkan manusia? Ada enam langkah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Badaiul Fawaid, 2:799-801.

Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bidah. Jika langkah pertama tidak berhasil, manusia diajak pada perbuatan bidah.

Contohnya mengamalkan dzikir dengan bilangan seribu, mengamalkan bacaan Quran dengan menentukan waktu tertentu tanpa ada dalil hingga meyakini suatu akidah yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Banyak amal harus sesuai dengan tuntunan, tidak sekedar kita banyak beramal. Begitu pula dalam meyakini suatu akidah harus punya dasar. Ingat! Perbuatan bidah lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bidah itu:

(1) membahayakan agama seseorang,
(2) membahayakan orang lain, jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan,
(3) orang yang berbuat bidah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar,
(4) bidah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau.

Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini. [baca lanjutan: Langkah Ketiga Setan Sesatkan Manusia]

 

MOZAIK

Langkah Pertama Setan Sesatkan Manusia

BAGAIMANA tahapan setan dalam menyesatkan manusia? Ada enam langkah yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Badaiul Fawaid, 2:799-801.

Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya

Inilah langkah pertama yang ditempuh oleh setan, barulah ketika itu ia beristirahat dari rasa capeknya. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.

Coba lihat ada yang hidupnya penuh dengan kesyirikan. Ada yang masih melariskan sedekahan laut, memakai penglaris, memasang susuk untuk memikat pasangan, percaya hal-hal takhayul seperti adanya bulan dan hari sial (contoh: bulan Suro yang dianggap penuh musibah). Ini semua yang setan incar pertama kali yaitu agar akidah kaum muslimin rusak.

[baca lanjutan: Langkah Kedua Setan Sesatkan Manusia]

MOZAIK

6 Langkah Setan Sesatkan Manusia

INGATLAH setan itu musuh manusia dan akan terus menyesatkan manusia. “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Iblis diberi tangguhan hingga hari kiamat untuk terus menggoda manusia seperti yang disebut dalam ayat berikut,

“Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad: 77-83)

 

MOZAIK

Tolaklah Jerat Setan dengan Isti’adzah

AL-QUR’AN telah memberi bimbingan dan petunjuk kepada kita tentang cara menangkal atau menolak musuh bebuyutan Bani Adam dengan cara yang sangat mudah dan praktis, yakni dengan isti’adzah dan berpaling menjauhkan diri dari orang-orang bodoh terhadap kebenaran. Juga dengan cara menolak keburukan mereka dengan kebaikan.

Al-Qur’an telah memberitahukan kepada kita tentang besarnya bagian dan keberuntungan bagi orang-orang yang mengikuti bimbingan dan petunjuk di atas. Bagian dan keberuntungan tersebut adalah terhindar dari kejahatan yang memusuhi dan berbaliknya sikap sang musuh menjadi sahabat sejati, kemudian memperoleh cinta kasih, terkendalinya hawa nafsu, terbebasnya hati dari sifat dengki dan dendam, juga rasa aman orang lain bersamanya, bahkan terhadap orang yang memusuhinya sekalipun. Semua ini belum termasuk kemuliaan, pahala yang baik, dan ridha Allah untuknya. Ini adalah puncak keberuntungan, baik diraih di dunia maupun di akhirat. Hal ini tidak akan dapat diraih melainkan oleh orang sabar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Sifat-sifat baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang sabar.” (Fushilat: 35).

Sedangkan pemarah dan dungu, sungguh tidak mungkin akan dapat bersabar untuk menghadapi hal tersebut. Karena marah merupakan kendaraan bagi setan, dan terjalinlah kerja sama antara nafsu yang emosional dan setan dapat menaklukkan nafsu yang tenang (nafsu mutmainnah) yang selalu menyuruh hati agar menolak keburukan dengan kebaikan.

Padahal Allah menyuruh hati agar menjalin kerja sama dengan nafsu yang tenang dan tentram melalui isti’adzah kepada Allah dari setan. Dan isti’adzah merupakan penolong bagi nafsu yang tentram dan memerangi nafsu yang emosional. Berkat isti’adzah terwujudlah sifat sabar, iman, dan tawakal, sehingga kekuatan setan pun terkalahkan. Sebab, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (an-Nahl: 99)

Menurut pendapat Mujahid, Ikrimah, dan para mufassir, makna dari “tidak ada kekuasaannya” adalah “tidak mempunyai hujjah”. Sesungguhnya setan tidak memiliki cara (jalan) untuk menguasai orang-orang beriman dan bertawakal kepada Allah, baik dari segi hujjah maupun dari segi kemampuan (kapabilitas).

Kemampuan di sini meliputi apa yang disebut kekuasaan (sulthan). Akan tetapi, terkadang hujjah juga suka disebut sebagai kekuasaan karena oleh pemiliknya dijadikan sarana untuk berkuasa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa setan tidak memiliki kekuasaan untuk menguasai hamba-hamba-Nya yang berhati tulus dan bertawakal kepada-Nya. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah,

Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. ‘Allah berfirman, ‘Inilah jalan yang lurus; kewajiban Akulah (menjaganya). Sesungguhnya, hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 39-42)

Firman Allah tersebut meliputi dua hal: Pertama, peniadaan kekuasaan dan pembatalan kekuasaan setan atas orang-orang yang mengesakan Allah sebagai Tuhan mereka dengan tulus murni, dan kedua, pengakuan kekuasaan setan atas orang-orang musyrik dan orang-orang yang menjadikan setan sebagai wali mereka.

Ketika setan mengetahui bahwa Allah tidak akan membuat orang-orang yang mengesakan-Nya dengan tulus murni terjerat oleh perangkap yang dibuatnya, maka ia pun bersumpah, sebagaimana difirmankan oleh Allah,

Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shaad: 82-83)

Setan sebagai musuh Allah mengetahui bahwa orang-orang yang berlindung kepada Allah dan bersikap tulus murni mengesakan serta bertawakal kepada-Nya, membuat ia tidak ada kuasa untuk menyelewengkan dan menyesatkannya. Begitu juga setan mengetahui bahwa ia memiliki kekuasaan atas manusia untuk menyelewengkan dan bersikap syirik kepada Allah. Dengan demikian hanya orang-orang sesat sajalah sebagai bawahannya dan setan pulalah sebagai wali, pemimpin, dan ikutan mereka.

Firman Allah,

Dan sekali-kali Allah tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (an-Nisaa: 141).

 

 

*/Sudirman STAIL (sumber buku: Membersihkan Hati dari Gangguan Setan, penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

 

HIDAYATULLAH