Apakah Setan Tinggal di Langit?

Di mana setan berada? Apakah benar setan tinggal di langit? Menurut penjelasan pemimpin tertinggi Al-Azhar, Mesir, Grand Syekh Ahmad A-Thayyib, setan adalah diantara makhluk Allah.

Setan dahulu berasal dari surga lalu dikeluarkan dari sana akibat perilaku maksiatnya kepada Allah. Sekarang, setan tinggal di bumi bersama dengan manusia. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surah al-A’raf: 13 yang mengisahkan kalau setan dikeluarkan dari surga karena sifat sombongnya.

Kisah ini sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian kisah dikeluarkannya Iblis dari surga setelah enggan bersujud kepada Adam, atas perintah Allah Swt.,

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ

Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.”

Selanjutnya, penting untuk diketahui, kalau zat setan tidak seperti fisik manusia. Allah ciptakan setan dari api, namun manusia pada dasarnya tidak bisa melihatnya. Zat setan juga ringan dan dapat berpindah dengan cepat, sesuatu yang tidak dimiliki manusia.

Ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-A’raf yang memperingati jangan sampai manusia terperdaya kembali oleh godaan setan, seperti yang terjadi pada 2 moyang manusia, Adam dan Hawa. Ini disebutkan dalam surah Al-A’raf ayat 27

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَاۗ اِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Artinya; Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua. Sesungguhnya ia (setan) dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak (bisa) melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu (sebagai) penolong bagi orang-orang yang tidak beriman.

Karena setan hidup di bumi, tapi manusia tidak bisa melihat, maka setan dapat berada di mana saja. Di tanah, di air, bahkan di udara di sekitar kita. Tapi yang jelas, setan tidak berada di langit. Ini seperti disebutkan dalam surah As-Shaffat ayat 6-8

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (٦) وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ (٧) لا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلإِ الأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ (٨)

Artinya; Sesungguhnya kami hiasi langit dunia dengan keindahan bintang-bintang. Dan (langit) terjaga dari setiap setan yang terkutuk (7). Mereka mencoba untuk mencari dengar ke langit tertinggi, (tapi) mereka dilempari (dengan bintang-bintang) dari segala penjuru (8).


Maksud ayat terakhir adalah, ketika ada setan yang mencoba menuju langir, akan ada bintang jatuh yang mengikuti dan membakarnya.

Jawaban diatas adalah diantara jawab Syekh Ahmad At-Thayyib selaku Grand Syekh Al-Azhar yang menjawab sejumlah pertanyaan anak. Pertanyaan ini kemudian didokumentasikan dalam sebuah serial buku bergambar berjudul al-Aṭfāl Yas’alūna al-Imām (Anak-Anak Bertanya kepada Grand Syekh), yang dirancang oleh Dr. Nuha ‘Abbas. Buku ini ditertibkan oleh tim Majalah Nur al-Aṭfāl, sebuah lini majalah anak-anak yang dikembangkan oleh kelembagaan Al-Azhar Mesir.

Buku ini bermanfaat buat para ayah bunda yang mungkin, mengadapi pertanyaan yang sama dari anak atau teman sebaya mereka. Cek bagi yang ingin tahu lebih banyak bukunya, di tautan berikut ini (masukin link: https://shopee.co.id).

Demikian jawaban atas pertanyaan apakah setan tinggal di langit? Menurut Syekh Al-Azhar sekarang berada di bumi bersama manusia, setelah dikeluarkan dari surga oleh Allah. wallahu ‘alam.

BINCANG SYARIAH

10 Fakta tentang Setan yang Perlu Diketahui

Setan akan pernah berhenti menjerumuskan manusia pada kesesatan hingga hari kiamat. Berikut sepuluh fakta menarik tentang setan sebagaimana dilansir Al Masrawy. 

1.Dari golongan jin

Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa iblis itu dari golongan malaikat. Akan tetapi pendapat yang paling kuat mengatakan bahwa iblis itu adalah dari jin yang durhaka dan bukan dari golongan malaikat. Sebagaimana firman Allah SWT: 

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al Kahf ayat 50)

2. Menguasai manusia dengan membisikan dan mengelabui

Setan itu tidak punya kekuasaan atas anak adam kecuali dengan membisikan kejahatan dan mengelabui dengan keindahan, bukan dengan mengalahkan atau menaklukan secara fisik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ibrahim:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (Alquran surat Ibrahim ayat 22)

3. Diciptakan dari api

Asal penciptaan Iblis itu dari api dan itu diucapkan sendiri oleh Iblis. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran: 

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Alquran surat Al A’raf ayat 12).

4. Mempunyai pasukan dari golongan Jin

Iblis itu mempunyai pengikut atau pasukan yang mendukung dan membantunya dari golongan jin. Mereka mencoba menyebarkan fitnah kepada manusia. Dan Iblis itu punya singgasana atau kekuasaan atas air di tempat yang diketahui Allah. Dan iblis itu mengutus pasukannya untuk menipu manusia. Sebagaimana sabda nabi Muhammad ﷺ dalam sahih Muslim :

إن إبليس يضع عرشه على الماء، ثم يبعث سراياه، فأدناهم منه منزلة أعظمهم فتنة، يجيء أحدهم فيقول: فعلت كذا وكذا، فيقول: ما صنعت شيئا، قال ثم يجيء أحدهم فيقول: ما تركته حتى فرقت بينه وبين امرأته، قال: فيدنيه منه ويقول: نعم أنت “

“Sesungguhnya singgasana iblis berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini. Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa. Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah berpisah (talak) dengan istrinya. Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’” (HR. Muslim 2813).

5.Bertebaran ketika matahari terbenam 

Di antara tuntunan dalam Islam adalah agar orang tua menyeru pada anaknya agar tidak bermain atau keluyuran ketika matahari sedang terbenam dan setelah matahari terbenam. Sebab saat itu setan tengah menyebar. Sebagaimana diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

 إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا ،  وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

“Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian, karena sesungguhnya ketika itu setan sedang bertebaran. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam, maka lepaskan mereka. Tutuplah pintu dan berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 3280, Muslim, no. 2012).

6. Setan tak bisa menyentuh benda

Tak semestinya menghubungkan setiap sesuatu kepada setan, karena bukan setan yang mengambil hartamu yang hilang darimu. Dan bukan setan juga yang mengembalikannya. Karena setan itu tidak bisa membuka pintu yang tertutup dan tidak bisa juga mengangkat penutup. Sebagaimana dalam sahih Bukhari Muslim diriwayatkan dari Jabir, nabi bersabda:

وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا ، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

Tutuplah pintu dan berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 3280, Muslim, no. 2012). 

7.Tak kuasa dengan Muslim yang mengucap basmalah

Jika ada seorang Musim yang mengucapkan bismillah ketika hendak memasuki rumah, maka setan akan berkata saya tidak mempunyai kekuasaan untuk tidur di rumah ini. 

8.Awalnya menyembah Allah dan bagus rupa

Iblis itu penyembah Allah sebelum diciptakannya nabi Adam. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa iblis itu indah bentuk rupanya ketika melakukan taat (menyembah Allah). Dan iblis mendurhakai Allah, maka Allah membuatnya jelek atau buruk Maka dia menjadi percontohan untuk setiap yang jelek. Seperti pada firman Allah: 

طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan (Alquran surat Saffat ayat 65)

9.Setan itu bukan nama 

Kalimat setan itu bukanlah nama untuknya. Melainkan penyifatan,  karena kalimat itu diambil dari kata kerja Syatnun yang berarti jauh, karena ia berpaling dari taat kepada Allah maka allah menjauhkannya dari rahmatNya

10.Nama setan

Ada sebagian pendapat bahwa setan itu mempunyai nama sebelum bernama iblis. Diantaranya adalah Al Harits dan Azazil. Akan tetapi ini tidak dapat dipastikan.

IHRAM

Setan Ingin Menguasai Jiwamu

Allah Swt Berfirman :

ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَأَنسَىٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

“Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi.” (QS.Al-Mujadilah:19)

Ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang menjual dirinya kepada setan. Mereka menampilkan diri sebagai orang yang beriman dihadapan Rasul Saw namun dibelakang mereka bersekongkol dengan kaum yahudi untuk menyerang Islam.

ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ

“Setan telah menguasai mereka..”

Setan telah menguasai seluruh kehidupan mereka. Pikiran mereka telah dikuasai agar tidak condong pada kebenaran. Jiwa mereka telah dikuasai agar tidak mengikuti jalan yang lurus dan hidup mereka dikuasai untuk selalu melakukan kerusakan.

فَأَنسَاهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِۚ

“Lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.”

Mereka tenggelam dalam kebatilan secara total. Mulai dari ucapan, sikap hingga perbuatan. Mereka menganggap kebatilan itu adalah kebenaran sehingga mereka terus mengikutinya.

أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ

“Mereka itulah golongan setan.”

Kenapa disebut golongan setan ?

Karena mereka selalu mengikuti langkah setan, mendukung gerakannya, mengikuti seruannya. Diajak setan menuju neraka, mereka menyahuti namun ketika diajak oleh Allah menuju surga, mereka pun menolak dengan congkaknya.

أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

“Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi.”

Diri dan keluarga mereka semua sungguh merugi kelak di Hari Kiamat. Mereka kehilangan nikmat surga dan lebih memilih siksaan neraka.

Maka tentu kita harus mengambil pelajaran dari sifat orang-orang munafik ini, antara lain :

1. Jangan pernah mengikui kesesatan dan bisikan setan yang selalu ingin menguasai diri kita.

2. Berusahalah untuk selalu sadar karena kelalaian adalah pintu bagi setan untuk menguasai diri kita.

3. Selalu memohon pertolongan kepada Allah dengan banyak berdzikir dan beribadah.

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN

Setan Punya Sifat Khannas dan Waswas (Tafsir Surat An-Naas)

Setan punya dua sifat yaitu khannas dan waswas. Apa itu?

Allah Ta’ala berfirman,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)

WASWAS DAN KHANNAS

Asalnya waswas itu berarti gerakan atau suara yang samar sehingga kita menjaga diri darinya. Waswas adalah suatu godaan (gangguan) yang masuk dalam jiwa, bisa jadi dengan suara yang samar yang hanya didengar oleh orang yang digoda, bisa jadi pula tanpa suara seperti saat setan menggoda manusia. Waswas ini perbuatan yang terus terjadi berulang dan begitu dekat dengan yang menggoda. Misalnya, waswas itu terjadi karena begitu dekat dengan telinga manusia yang menggoda.

Sedangkan khannas adalah sifat dari setan yang sering bersembunyi ketika kita mengingat Allah (berdzikir kepada-Nya). Khannas dengan makna bersembunyi (ikhtifaa’) seperti dalam ayat,

فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ

Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang.” (QS. At-Takwir: 15). Al-khunnas adalah bintang. Bintang disebut dengan khunnas (artinya: bersembunyi) karena bintang itu tampak setelah bersembunyi (tidak terlihat).

Pendapat lainnya menyatakan bahwa al-khannas dan al-waswas sama-sama termasuk nama Iblis.

Lihat penjelasan Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 771-773.

Dalam Al-Kalim Ath-Thayyib, Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk berdzikir. Fungsi dzikir adalah seperti seseorang yang mengusir musuhnya dengan cepat. Sampai-sampai jika musuh itu datang pada benteng, ia akan terlindungi. Demikianlah fungsi dzikir bagi diri. Diri seseorang akan semakin terlindungi dari setan hanyalah dengan dzikir pada Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika keutamaan dzikir hanyalah ini, tentu seorang hamba akan terus membasahi lisannya dengan dzikir pada Allah Ta’aladan terus teguh dengan dzikir tersebut. Karena yang dapat melindunginya dari musuh (yaitu setan, pen.) hanyalah dengan dzikir. Musuhnya pun baru bisa menyerang ketika ia lalai dari dzikir. Musuh tersebut baru akan menangkap dan memburunya ketika ia lalai dari dzikir. Namun, jika dirinya disibukkan dengan dzikir pada Allah, musuh tersebut akan bersembunyi, menjadi kerdil dan hina. Sampai-sampai ia seperti burung pipit atau seperti lalat (binatang kecil yang tak lagi menakutkan, pen.). Karenanya setan memiliki sifat waswasil khannas. Maksudnya, menggoda hati manusia ketika manusia itu lalai. Namun, ketika manusia mengingat Allah, setan mengerut (mengecil).” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 83)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

الشَّيْطَانُ جَاثَمَ عَلَى قَلْبِ اِبْنِ آدَمَ فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذَا ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى خَنَّسَ

Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai, setan menggodanya. Jika ia mengingat Allah, setan akan bersembunyi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 13:469-470, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtar 10: 367 dengan sanad yang sahih).

Referensi:

  1. At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah.
  2. Al-Wabil Ash-Shayyib wa Rafi’ Al-Kalim Ath-Thayyib. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Dar ‘Alam Al-Fawaid.

Disusun di Darush Sholihin, Senin siang, 27 Dzulhijjah 1441 H (17 Agustus 2020)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumasyho.Com

Jalan Masuk Setan ke Dalam Diri Manusia

SETAN adalah musuh yang nyata.
Maka perangilah setan itu.

Bagaimana cara memerangi setan?
Dengan cara memahami dan mengetahui jalan-jalan setan masuk ke dalam diri.

Apa jalan-jalan setan itu?
Ialah mazmumah atau sifat-sifat buruk dalam diri.

Sebagai contoh ialah sifat hasad atau dengki.
Ketika seseorang dengki pada orang lain, ia akan buruk sangka.
Buruk sangka bisa mendatangkan dosa ghibah (menggunjing) bahkan namimah (adu domba).

Lebih jauhnya lagi adalah membuat tuduhan palsu atau memfitnah.
Lebih jauhnya lagi dosa lahir menyakiti, mencelakakan bahkan menghabisi nyawa orang lain.

Bakhil juga termasuk mazmumah dalam diri.
Bagaimana cara mendidik diri dari sifat bakhil?
Hendaklah memberi di saat susah dan senang. Di waklu lapang dan sempit.
Di waktu miskin dan kaya. Di saat berlebih dan kekurangan.

Jika memberi di saat berlimpah rezki itu cari fadhilat atau pahala.
Tapi memberi di saat rasa diri sedang kekurangan dan juga memerlukan, maka di dalamnya ada didikan.
Didikan untuk nafsu, nafsu memang tidak suka kesusahan.
Namun itulah cara mendidiknya

 

INILAH MOZAIK

Ketika Setan Mengajari Abu Hurairah Ayat Kursi

Abu Hurairah RA bercerita : Suatu hari Rasulullah SAW menugaskanku untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki melihat-lihat makanan dan langsung mengambilnya.

Aku lalu menegurnya, “Jangan dulu mengambil, sebelum kusampaikan tentangmu kepada Rasulullah”.

Laki-laki itu menjawab, “Aku sudah berkeluarga dan saat ini betul-betul membutuhkan makanan untuk mereka”. Mendengar itu aku akhirnya mengizinkan dia mengambil makanan itu.

Ketika pagi tiba, Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang kau lakukan kemarin?”

Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki mengadukan kesusahan keluarganya dan dia memohon harta zakat pada saat itu juga, lalu aku persilahkan dia mengambilnya”.

Rasulullah SAW bersabda kembali, “Dia telah mengelabuimu, wahai Abu Hurairah, dan besok akan kembali lagi”.

Karena tahu dia akan kembali lagi, keesokan harinya aku mengawasi secara teliti dan ternyata betul apa yang disampikan Rasulullah, dia telah berada di ruang harta zakat sambil memilih-milih harta zakat yang terkumpul lalu ia mengambilnya.

Melihat itu, aku berkata kembali, “Jangan kau ambil dulu harta itu sampai ada izin dari Rasulullah SAW”.

Laki-laki itu menjawab, “Aku betul-betul sangat membutuhkan makanan itu sekarang, keluargaku kini sedang menunggu menahan lapar. Aku berjanji tidak akan kembali lagi esok hari.” Mendengar itu, aku merasa kasihan dan akhirnya aku persilahkan kembali dia mengambil harta zakat.

Keesokan harinya Rasulullah bertanya kembali, “Apa yang kau lakukan kemarin, wahai Abu Hurairah?”

Aku menjawab, “Orang kemarin datang lagi dan meminta harta zakat. Karena keluarganya sudah lama menunggu kelaparan, akhirnya aku kembali mengizinkan dia mengambil harta zakat tersebut.”

Mendengar itu, Rasul bersabda kembali, “Dia telah membohongimu dan besok akan kembali untuk yang ke tiga kalinya.”

Besoknya ternyata laki-laki itu kembali lagi. Seperti biasanya, dia mengambil harta zakat yang telah terkumpul di dalam gudang. Melihat itu, kembali aku menegur, “Jangan mengambil dahulu, aku akan memohon izin kepada Rasulullah SAW terlebih dahulu. Bukankah kau berjanji tidak akan kembali lagi, tapi kenapa kini kembali juga?”

Laki-laki itu menjawab, “Izinkanlah untuk terakhir kalinya aku mengambil harta zakat ini dan sebagai imbalan aku akan ajarkan kepadamu sebuah kalimat yang apabila kamu membacanya, Allah akan selalu menjagamu dan kau tidak akan disentuh dan didekati oleh setan sehingga pagi hari”.

Aku tertarik dengan ucapannya. Aku pun menanyakan kalmat apa itu. Dia menjawab, “Apabila kau hendak tidur, jangan lupa membaca Ayat Kursi terlebih dahulu karena dengannya Allah akan menjagamu dan kau tidak akan didekati setan hingga pagi tiba.” Kali inipun aku mengizinkannya mengambil harta zakat.

Keesokan harinya Rasulullah kembali menanyakan apa yang telah kulakukan kemarin dan kukatakan, “Ya Rasulullah, aku terpaksa membolehkannya kembali mengambil harta zakat setelah dia mengajarkanku kalimat yang sangat bermanfaat dan berfaedah.”

Rasul bertanya, “kalimat apa yang diajarkannya?”

Aku menjawab bahwa dia mengajarkan ayat Kursi dari awal sampai akhir dan dia katakan bahwa kalau aku membacanya Allah akan menjagaku sampai pagi hari.

Rasulullah SAW lalu bersabda,”Kini apa yang dia sampaikan memang betul namun tetap saja dia sudah berhasil mengelabuimu dengan mengambil harta zakat. Tahukah kau siapa laki yang mendatangimu tiga kali itu?”

Aku menjawab, “Tidak, aku tidak tahu”

Rasulullah SAW kembali bersabda, “Ketahuilah, dia itu setan.” (HR. Bukhari).

 

INILAH MOZAIK

Setan Makhluk Lemah, Kenapa Takut?

SAYA yakin semua dari kita pernah mengucapkan taawaudz, yaitu ungkapan, “A’dzubillhiminasysyaithnirrojm.” Dan saya yakin semuanya sudah hafal dan kalau ditanya tentang artinya sekilas mungkin banyak yang sudah tahu.

A’dzubillhiminasysyaithnirrojm, Aku memohon perlindungan kepada Allh dari godaan atau setan yang terkutuk.

Tapi:

  • Sudahkah kita mendalami makna dari kalimat yang mulia ini?
  • Sudahkan kita mengetahui kenapa kita diperintahkan oleh Allh Subhnahu wa Ta’la untuk memohon perlindungan kepadanya?
  • Apakah setan adalah makhluk yang kuat sehingga kita perlu bantuan Allh Subhnahu wa Ta’la?
  • Kalau memang setan makhluk yang lemah, kenapa kita perlu meminta bantuan Allh Subhnahu wa Ta’la?

Pertanyaan pertama tentunya adalah kenapa kita minta perlindungan kepada Allh, apakah setan adalah sosok makhluk yang begitu kuat sehingga kita perlu untuk meminta perlindungan kepada Allh, kalau memang setan itu makhluk yang lemah terus kenapa kita tidak mengandalkan kekuatan diri kita saja.

Anda misalnya dirampok oleh sepuluh perampok, yang mana sepuluh perampok itu adalah orang yang kuat-kuat, saya yakin saat itu anda perlu bantuan, anda perlu meminta pertolongan kepada orang lain untuk menghadapi sepuluh perampok yang kuat-kuat tersebut.

Namun sekarang kalau misalnya ada perampok datang kepada anda dia orangnya kurus, lemah bahkan mungkin anak kecil katakanlah, dia anak kecil akan merampok anda dan anda tidak perlu bantuan kepada orang lain karena anda merasa bisa menangani perampok itu sendiri.

Setan adalah makhluk yang lemah, silahkan anda dalam AlQuran surat An Nisa ayat 76 disitu Allah subhanahu watala berfirman, “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah”

Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah, jadi sejatinya setan adalah makhluk yang lemah, setan adalah makhluk yang lemah, terus kenapa kita perlu bantuan dari Allah subhanahu wataala untuk menghadapi makhluk yang lemah tersebut?

Apakah kita tidak cukup dengan kekuatan yang kita miliki sendiri, mengapa kita perlu butuh bantuan Allah subhanahu wataala?

Jawabannya adalah karena kita sebagai manusia juga makhluk yang lemah, makannya dalam AlQuran surat An Nisa juga, dan ini menarik, surat An Nisa juga di ayat berbeda yaitu ayat ke 28 Allah subhanahu wataala menegaskan, “Manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah”

Berarti setan lemah dan manusia juga lemah, berarti sekarang lemah versus lemah, ah kalau lemah ketemu sama lemah siapa yang menang, yang jadi pertanyaan siapa yang menang?

Yang menang adalah yang minta pertolongan kepada yang maha kuat yaitu Allh Subhnahu wa Ta’la, dari sinilah kemudian Allh Subhnahu wa Ta’la berfirman di dalam surat yang lainnya yaitu dalam Alquran surat Al Araf ayat 200, Allh Subhnahu wa Ta’la berfirman:

“Seandainya kalian sedang diganggu oleh setan maka mintalah perlindungan kepada Allh Subhnahu wa Ta’la. Sesungguhnya Allh Subhnahu wa Ta’la Maha Mendengar dan Maha Melihat”

Jadi dalam ayat ini Allh Subhnahu wa Ta’la memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada Allh jala wa ala karena Allh Subhnahu wa Ta’la punya kemampuan supaya kita menang melawan setan kita harus minta perlindungan dan pertolongan serta bantuan dari Dzat yang Maha Kuat yaitu Allh Subhnahu wa Ta’la.

Dari sinilah kita diperintahkan untuk beristiadzah, maka jangan sampai diantara kita terlalu mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, mentang-mentang saya udah salat lima waktu dengan rajin, saya sudah berdzikir, saya sudah berpuasa, saya sudah berhaji tidak mungkin setan akan menang melawan saya, ini semuanya adalah penyakit yang sangat berbahaya. Baca juga: Haram Menggantungkan Diri pada 3 Hal ini.

[catatan kajian/Ustadz Abdullah Zaen, MA]

INILAH MOZAIK

Bisikan Setan

“KATAKANLAH: ‘Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Nas (114]: 1-6)

Dalam surah ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk berlindung kepada Allah dari waswas setan. Meski perintah ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw tetapi juga mencakup perintah kepada kita semua, umat manusia. Kita diperintahkan untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah Swt dari segala bentuk kejahatan berupa bujuk rayu serta bisikan (waswas) setan.

Di dalam Alquran, kata waswasa dengan beragam bentuknya disebut sebanyak lima kali, yaitu terdapat pada QS. Al-A’raf [7]: 20, QS. Thaha [20]: 120, QS. Qaf [50]: 16, QS. An-Nas [114]: 4 dan 5.

Kata waswasa menurut para ulama tafsir dapat diartikan dengan ucapan yang tersembunyi (al-kalam al-khafi) atau bisikan halus. Adapun pengertian waswasa dalam rangakaian ayat pada surah An-nas di atas adalah bisikan, bujuk rayu, serta tipu daya setan agar manusia ragu kepada Allah, serta melakukan tindak kejahatan berupa maksiat kepada-Nya.

Kata Waswasa ini kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi waswas, yang berarti ragu-ragu, cemas, tidak tenang dan gelisah. Kata ini biasanya digunakan untuk menunjukkan kondisi ketidakmampuan hati untuk melakukan sesuatu, atau keraguan akan sesuatu.

Dalam rangkaian ayat di atas, sosok yang menebarkan benih-benih keraguan melalui bisikan-bisikan halus dalam dada manusia adalah al-Khannas.

Menurut Ath-Thabari dalam tafsirnya, al-Khannas adalah setan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Dia datang di saat seseorang sedih dan senang. Ketika sedih, setan datang dengan bisikan keraguan akan kekuasaan Allah. Dia membisikkan ke dalam dada manusia agar tidak meyakini takdir Allah. Sedangkan di saat senang setan datang dengan bisikan agar manusia bangga dan sombong atas apa yang didapatnya, sehingga dia melupakan Allah.

Bisikan setan yang demikian halus itu sering kali membuai manusia. Sehingga mereka tidak menyadari bahwa di dalam hatinya telah dipenuhi oleh bisikan dan bujuk rayu setan la’natullah.

Sepasang remaja yang tengah dimabuk asmara, misalnya, maka bisikan halus setan sering kali membuai mereka. Mereka dijanjikan keindahan dan kesenangan. Mereka pun terbuai, hingga akhirnya melakukan tindakan perzinaan. Mereka kelak menyesal setelah menyadari apa yang mereka lakukan.

Seorang pedagang juga tidak luput dari bisikan setan. Setan merayunya untuk melakukan tindak kecurangan dalam proses jual-belinya. Dia janjikan keuntungan yang berlipat-lipat kepad si pedagang asal dia tidak berlaku jujur.

Bahkan, bisikan setan juga menghampiri para ulama. Dia bisikan kepada mereka bahwa ilmu agama yang mereka miliki adalah yang terbaik, sehingga mereka merasa seolah-olah mereka adalah orang yang paling mulia dan paling layak dihormati. Mereka menganggap remeh orang lain yang menurut mereka ilmunya lebih rendah.

Inilah bisikan-bisikan setan yang akan selalu mengintai kita dalam segala kondisi. Maka, marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Swt agar dijaga dari bisikan-bisikan setan yang terkutuk. [Didi Junaedi]

 

INILAH MOZAIK