Tiga Fakta tentang Sya’ban yang Perlu Anda Ketahui

Alhamdulillah, kita sekarang berada di bulan Sya’ban 1438 H. Dalam hitungan kurang lebih tiga pekan ke depan, umat Islam akan menyambut bulan suci, Ramadhan. 

Nah, bulan Sya’ban ini menjadi titik tolak yang cukup penting dalam memaksimalkan ibadah sepanjang Ramadhan.

Ada banyak hal yang barangkali belum banyak kita ketahui seputar Sya’ban. Republika.co.id mencoba merangkum beberapa hal yang perlu kita ketahui seputar bulan ini. Berikut ini penjabarannya. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan Anda.

Kakek Moyang Rasulullah Berjasa Menamakan Bulan ini

Pertama kali yang menamakan bulan ini dengan sebutan Sya’ban adalah Qushayyi bin Kilab, kakek moyang Rasulullah SAW kelima. Penyebutan tersebut diperkirakan berlangsung pada 412 Masehi.

Ada banyak versi mengapa bulan ini dimanakan Sya’ban. Menurut Ahmad bin Yahya Tsa’lab, Sya’ban dalam bahasa Arab bermakna cabang.

Disebut demikian, karena bulan ini seakan-akan muncul layaknya cabang di antara dua bulan yang agung, yaitu Rajab dan Ramadhan.

Menurut Ibnu Hajar, penamaan bulan ini juga tak terlepas dari tradisi bangsa Arab pada masa jahiliyah. Konon, selama bulan ini, mereka saling berpencar, dan mencari kongsi untuk saling berperang setelah mereka rehat sejenak sepanjang Rajab.

Bulan yang Keutamaannya Kerap Dilupakan

Keutamaan bulan ini juga tak bisa dipandang sebelah mata. Namun sayangnya, justru tak sedikit orang yang melupakan keistimewaan bulan ini dan menyia-nyiakan begitu saja. Rasulullah pernah menyatakan demikian, bahwa Sya’ban termasuk bulan yang keistimewaannya kerap dilalaikan.

Untuk itulah, Aisyah RA seperti riwayat Bukhari dan Muslim, menjelaskan aktivitas Baginda Rasul pada Sya’ban. Di luar Ramadhan, Rasul sering berpuasa pada bulan ini bahkan hingga menyambung berpuasa Ramadhan. Riwayat lain bahkan menyebut, selain Ramadhan, bulan yang paling disukai Rasul untuk berpuasa.

Rasulullah mengungkapkan mengapa beliau meningkatkan intensitas dan frekuensi puasa sunah pada Sya’ban, yaitu lantaran pada bulan ini catataan amal kita diangkat ke langit. “Aku ingin amalanku (Rasulullah) diangkat ke langit dalam kondisi berpuasa,” sabda Rasulullah.

Atas peringatan tersebutlah maka, para generasi salaf berlomba-lomba memaksimakan ibadah pada bulan ini. Seorang tabiin, yakni Salmah bin Suhail al-Hadhrami al-Kufi mengatakan, para tabiin pada jika sudah memasuki Rajab, mereka bergegas dan berlomba-lomba membaca Alquran.

Bahkan bulan ini akrab dengan sebutan Bulan Pembaca Alquran (Syahr al-Qurra’)”. Amar bin Qais, dikisahkan sering menutup tokonya sepanjang Sya’ban khusus untuk beribadah dan membaca Alquran.

Meninggalnya Ulama Besar dan Berlangsungnya Peristiwa Agung

Pada bulan ini, sejarah mencatat meninggalnya para ulama besar. Di antaranya adalah pakar tafsir, Ibnu Katsir, yang meninggal pada 26 Sya’ban 774 Hijriyah.

Demikian pula pendiri mazhab Zhahiri, yaitu Ibnu Hazm azh-Zhahiri yang wafat 28 Sya’ban 456 Hijriyah.

Bulan Sya’ban juga menjadi momentum berlangsungnya peristiwa agung, di antaranya adalah pengalihan kiblat umat Islam yang semula berada di Masjid al-Aqsha, Palestina beralih ke Masjid al-Haram, Makkah. Pada bulan ini pula, perintah wajib berpuasa Ramadhan mulai diberlakukan pada tahun kedua Hijriyah.

 

REPUBLIKA ONLINE