Andre Willey, Menjemput Hidayah di Balik Jeruji

Kisahmuallaf.com – Di masa lalu, pemuda berandalan itu kerap terlibat aksi kekerasan antargeng. Tuhan rupanya memberikan kesempatan kedua baginya, setelah ia ditangkap alam satu bentrokan berdarah antar geng yang menewaskan satu orang dan lainnya luka-luka.

Di penjara tahun 1989, Andre akhirnya bebas setelah menjalani masa hukuman selama 23 tahun. Usianya kini 42 tahun. Namun, ada yang berbeda dengan perangainya saat ini.
Sikapnya begitu santun dan hangat. Mimik wajahnya menampakan wajah simpatik. Ya, dia telah memeluk Islam selama menjalani masa hukuman.

Tren memeluk Islam tengah menjangkiti penjara California, Amerika Serikat (AS). Andre merupakan satu dari sekian tahanan California, sebagian besar Afrika-Amerika, yang memeluk Islam.

Yang membanggakan, Andre — kini bernama Yusuf Willey — menjadi contoh dari keberhasilan dakwah Islam di penjara California.

Tidak lagi mejadi rahasia publik bahwa penjara California merupakan penjara di AS yang memiliki catatan buruk dalam rehabilitasi para tahanan. Sekitar 65 persen dari mantan tahanan California kembali ke hotel prodeo dalam waktu tiga tahun.

Tapi Andre menjadi pengecualian. Selama satu dekade terakhir, Andre merupakan tokoh kunci dari dakwah Islam di Penjara California.

“Saya memiliki motivasi yang luas, mengikuti terapi, konseling dan diskusi antar tahanan yang tidak pernah dijalankan dengan baik oleh negara. Para tahananlah yang menjalankan dan membuat terapi,” kata dia.

Dua pekan setelah bebas, Andre, tak berhenti untuk melanjutkan apa yang ia lakukan di penjara. Ia dalami Alquran, dan memberikan pengajara kepada muslim di masjid Bay Area.

Pemimpin Yayasan Tayba, kelompok pendidikan agama Islam di Bay Area, Syaikh Rami Nsour mengatakan Andre memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Islam begitu baik. Ia sudah layak untuk memimpin jamaah.

Perubahan drastis Andre, dimulai setelah bertengkar dengan sesama penghuni penjara pada tahun 1993. Saat itulah, ia ditempatkan dalam sebuah sel khusus, dengan tingkat pengamanan yang lebih ketat. Ia sendirian di sana. Di sel itulah, ia menemukan sebuah buku tentang Islam.

“Aku berkenalan dengan Islam di sel itu,” kenang dia.

Dalam buku itu, Andre menemukan ilmu Ihsan yang berarti kebajikan, niat atau melakukan hal yang baik. “Ini tentang bagaimana anda mengenal hati anda yang sakit oleh virus iri hati, arogansi, dan kebencian. Ilmu ihsan menuntun saya untuk membersihkan diri dari viru-virus tersebut,” katanya.

Andre pun mulai berkomitmen untuk melakukan perubahan besar. Sebuah komitmen yang terucap saat bibir dan hatinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tak perlu lama bagi Andre untuk menjaga komitmen yang ia buat. Ia shalat lima kali sehari, puasa ketika hari libur tertentu dan tradisi lain dalam Islam.

Saat ia mulai mempelajari Islam, ia dengarkan ceramah yang direkan dari Syekh Hamza Yusuf, pendiri Zaytuna Institue, perguruan tinggi agama Islam di Berkeley. Ia pun menulis surat kepada Syekh tentang apa yang dialaminya, namun tidak mendapat respon. Bertahun-tahun kemudian, ia menulis surat tentang bagaimana aturan fikih, kode moral dan etika beribadah dalam kehidupan penjara.

Andre Willey

“Itu menarik perhatiannya,” kata Andre. “Saat itulah, mereka mulai mengirimkan saya buklet kecil.”

Tak hanya dari Syekh, pendidikan Islam juga diperoleh Andre dalam komunikasi bersama Nsour lewat surat dan telepon. “Saya melihat dia sangat, sangat termotivasi,” kata Nsour.

“Apa pun teks-teks saya dikirim kepadanya, ia akan mengajukan pertanyaan spesifik. Saya pun berkewajiban untuk menjelaskannya,” kenang Nsour.

Serasa memiliki pemahaman yang baik tentang Islam, giliran Andre menyebarkannya kepada sesama tahanan. “Setiap orang mungkin tidak percaya bahwa ada niatan tulus dari para tahanan untuk berubah. Mereka melihat harapan. Dan saya mencoba menghidupan harapan itu,” kata Andre.

Bebas setelah dua dasawarsa mendekam di penjara, membuat Andre begitu bahagia. Kebahagian itu seolah menjadi magnet bagi para tahanan yang berada di dekatnya. Mereka yang mengenal Andre, merasakan kenyamanan yang begitu langka dalam kehidupan dalam penjara.

“Pertobatan adalah pemimpin perubahan,” kata Andre. “Saya harus bertobat dan istighfar. Setiap orang yang pernah saya sakiti dan khianati, saya kunjungi, dan saya meminta maaf kepada mereka,” kata dia.

Andre sendiri telah meminta maaf kepada keluarga korban, dan mengatakan ia tidak menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Amira Ibrahim, Hidayah Allah SWT Menerangi Kalbuku

KisahMuallaf.com – Mosman merupakan sebuah kota kecil di pinggiran utara Sidney, di negara bagian New South Wales, Australia. Populasi Muslim di kota itu terbilang tak terlalu banyak. Mayoritas penduduk kota itu adalah penganut Yahudi dan Kristen.

Pada 2005 lalu, sempat umat Islam di Kota Mosman berniat membeli gedung bekas gereja untuk dijadikan masjid, seperti diberitakan laman ABC Newsonline. Namun, rencana itu sempat ditentang anggota dewan Kota Mosman bernama Dominic Lopez.

”Mosman adalah wilayah Yahudi-Kristen dan tak akan mengizinkan orang-orang dengan keyakinan lain tinggal di sini,” ujar Lopez seperti dikutip ABC Newsonline. Namun, Wali Kota Mosman, Denise Wilton, tak sependapat dengan pemikiran Lopez.

Wali Kota Wilton menilai pendapat yang dilontarkan Lopez sangat mengerikan. Menurutnya, sangat tak berdasar jika seseorang didiskriminasi hanya karena alasan agama. ”Dalam demokrasi, Anda bisa berbeda pendapat. Saya sangat tak setuju dengan pendapatnya,” papar Wilton.

Masih banyaknya kesalahpahaman tentang Islam di Kota Mosman, tidak menyurutkan niat Amirah Ibrahim untuk menegakkan ajaran agama yang paling benar, yakni Islam. Sejatinya, Amirah merupakan warga asli Mosman. Ia terlahir dan dibesarkan di kota itu.

Keluarganya adalah pemeluk Kristen. Amirah Ibrahim bukanlah nama pemberian dari orang tuanya. Nama itu disandangnya setelah ia resmi memeluk Islam pada Agustus 2003 silam. Sejatinya, kedua orang tuanya memberi nama Lucie Thomson.

Amirah mulai mengenal dan mempelajari Islam pada 2001. Hidayah Allah SWT menerangi kalbu wanita yang awalnya bernama Lucie Thomson itu. Ia mengaku mulai tertarik untuk mengenal Islam. Keputusannya untuk mempelajari Islam diakuinya sebagai sebuah pilihan yang sangat bertentangan dengan orang-orang di sekelilingnya.

Hingga akhirnya, pada 2003, Lucie Thomson mengucap dua kalimat syahadat. Ia resmi memilih Islam sebagai keyakinan barunya. Setelah memeluk Islam, Amirah mengaku tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan secara langsung perihal keyakinan barunya itu kepada kedua orang tuanya.

”Ketika itu, saya tidak berani untuk bertatap muka dengan mereka dan mengatakan langsung bahwa saya telah menjadi seorang Muslim. Yang bisa saya lakukan saat itu adalah menyampaikan kabar tersebut melalui surat,” ungkap Amirah seperti dilansir harian Sidney Morning Herald.

Kepada surat kabar Australia itu, Amirah mengisahkan pengalamannya dalam menemukan hidayah. Sebelum memeluk Islam, Amirah tergolong umat Kristiani yang taat. Dia tidak pernah meninggalkan acara keagamaan yang diselenggarakan oleh Gereja Anglikan di sekitar tempat tinggalnya. Ia adalah jemaat yang rajin.

”Saya selalu percaya, Tuhan itu ada, tetapi tidak pernah yakin mana iman agama yang tepat untuk saya, ujar Amirah. Terdorong oleh keinginan kuat untuk mencari keyakinan yang dirasakan sesuai dengan hatinya, Amirah pun memutuskan mempelajari kitab suci umat Islam, Alquran.

Keinginan untuk mempelajari Alquran juga dikarenakan pacarnya pada waktu itu mengikuti ajaran Druze, sebuah keyakinan agama yang banyak dianut oleh sejumlah kalangan di beberapa negara di Timur Tengah.

Para pengikut ajaran ini kebanyakan tinggal di Lebanon meskipun ada pula komunitas mereka dalam jumlah yang kecil di Israel, Suriah, dan Yordania.

Menurut laman Wikipedia, kelompok itu muncul dari Islam dan mendapat pengaruh dari agama-agama dan filsafat-filsafat lain, termasuk filsafat Yunani. Kaum Druze menganggap dirinya sebagai sebuah sekte di dalam Islam meskipun mereka tidak dianggap Muslim oleh kebanyakan Muslim di wilayah tersebut.

Seperti halnya pemeluk Islam, kaum Druze ini juga menggunakan Alquran sebagai sumber ajaran mereka. Bahkan, mereka juga berbicara dalam bahasa Arab, papar Amirah berkisah. Di tengah perjalanan membina hubungan, Amirah dan sang pacar memutuskan untuk berpisah.

Namun, berakhirnya hubungan asmara tersebut tidak membuat keinginan perempuan kelahiran 27 tahun silam itu untuk mempelajari Alquran dan Islam surut.

Berkat bantuan dari salah seorang kenalan Muslimnya, ia kemudian dipertemukan dengan seorang guru agama Islam. Dari guru tersebut, Amirah kemudian banyak mempelajari tentang Islam.

”Setelah banyak berdiskusi dengan orang ini, saya merasa ini (Islam–Red) adalah keimanan yang selama ini diinginkannya. Apa yang diajarkan di dalamnya rasanya benar. Saya pikir, saya tidak dapat menyangkalnya (lagi),” tutur Amirah.

Dengan bantuan seorang kenalannya di Asosiasi Muslim Australia (Australian New Muslims Association) cabang Lakemba, Amirah kemudian mengucapkan syahadat. Saat itu usianya masih terbilang remaja, 18 tahun. Setelahnya, kehidupanku menjadi lebih baik, ungkapnya.

Amirah yang dulu dikenal sangat pemarah dan kurang agresif ini kini mengaku memiliki tujuan hidup setelah menjadi seorang Muslimah. Saya ingin menjadi Muslimah yang lebih baik yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjadi pelayan-Nya.

Keputusan Amirah menjadi seorang Muslimah begitu kokoh dan bulat. Pencariannya telah menemukan sebuah jawaban Islam adalah agama yang paling benar. Ia mencoba menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya, salah satunya mengenakan jilbab.

”Mungkin aku satu-satunya perempuan di Mosman yang mengenakan jilbab pada saat itu. Sebab, aku sendiri belum pernah melihat satu orang perempuan pun di Mosman yang mengenakannya,” ujar Amirah berkisah.

Tak hanya mengenakan jilbab. Amirah juga mengubah cara berpakaiannya dari yang sebelumnya serbaterbuka dan menampilkan lekuk tubuh berganti dengan mengenakan gamis longgar dan panjang. Penampilan barunya tersebut, menurutnya, sempat membuat adik laki-lakinya merasa malu di hadapan teman-temannya.

”Sementara sahabatku, pada awalnya sulit menerima kenyataan bahwa aku mengenakan penutup kepala,” paparnya. Namun, tantangan itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap menutup aurat. Tak mudah memang menjalankan syariat di tengah masyarakat non-Muslim.

Amirah mengaku merasakan orang-orang di sekitarnya melihatnya dengan tatapan aneh dengan gaya berbusananya. ”Orang-orang banyak yang mengangguk dan tersenyum saat saya lewat di hadapan mereka. Bahkan, tak jarang anak-anak kecil tertawa ke arahku,” ungkap Amirah.

Kendati mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang-orang di sekelilingnya, namun diakui Amirah, dirinya tidak pernah memiliki keinginan untuk membalas semua tindakan buruk tersebut. Ia menyadari betul bahwa sulit untuk hidup sebagai seorang muslim di tengah-tengah masyarakat yang sudah memberikan cap buruk terhadap Islam dan umat Islam.

Komunitas Muslim memang kerap menjadi korban dan mendapat perlakuan tidak adil. ”Tapi, perlakuan buruk mereka kepada kami tentunya akan dinilai oleh Allah, dan hanya Allah yang pantas memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka,” ucapnya.

Banyak Jalan Menuju Kabah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, pengamat haji

Sekelompok orang yang mendiami sebuah hotel di tepi Laut Merah, Jeddah, terlihat gelisah. Saat itu adalah dua hari menjelang wukuf di Arafah pada musim haji 2013 M (1434 H). Mereka hilir mudik dan sibuk berbincang di ruangan tengah hotel. Wajah mereka terlihat tegang. Apalagi setelah menyimak berbagai selebaran yang ada di lobby hotel dan membaca langsung banyak plakat yang ditempel di jalanan dan pusat keramaian kota Jeddah.

”Wah bagaimana ini?” rungut Bambang Tri, salah seorang warga Indonesia yang ada dalam rombongan tersebut. Dia membaca dengan jelas isi selebaran bahwa pemerintah kerajaan Arab Saudi melarang keras siapa pun orangnya yang tak punya ‘tasreh’ (visa haji) untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah. Sanksinya serius, mereka yang nekad masuk ke Makkah tanpa tasreh akan ditangkap dan ditahan sebagai pendatang ilegal. Setelah itu dideportasi ke tanah air.

”Ya juga bagaimana ini?,” tukas anggota rombongan yang lain. Semua telah paham akan risikonya bila menjalani ibadah haji tanpi ‘tasreh’ itu. Istilahnya ‘apa kata dunia’ bila ternyata tak bisa masuk Makkah dan tak bisa mengerjakan wukuf. Bila ini sampai terjadi maka hajinya akan gagal. Dan kalau nanti tak bisa ikut wukuf di Arafah, maka meski sempat mengerjakan tawaf dan sai di Masjidil Haram, posisi nilai ibadahnya hanyalah sebatas melakukan umrah saja.

Dan setelah di musyawarahkan dengan anggota rombongan yang lain, akhirya mereka memutuskan apa pun jadinya mereka harus bisa ke Makkah untuk menunaikan rangkaian ibadah haji. Maka mereka pun segera menghubungi sebuah perusahaan biro haji Arab Saudi yang beberapa hari terakhir sudah mendatangi penginapan untuk menawarkan jasa ‘membimbing’ mereka berhaji.

”Kami sengaja pilih paket travel haji yang termahal. Kami tak bisa main-main. Bayangkan lalu gagal berhaji, padahal ketika berangkat kemarin semua sudah pakai selamatan dan membikin walimatul safar dengan mengundang banyak orang. Malu lah kalau sampai nggak bisa wukuf,” kata Bambang lagi.

Setelah itu Bambang bersama sekitar lima puluhan rekan ‘profesional’ lainnya merogoh kocek hingga 3.500 Real. Tawaran bisa pergi haji dari travel lain yang lebih murah ditolaknya mentah-mentah. Alasan penolakan karena travel itu punya pengalaman dan tak berani menjamin mereka bisa menjalankan ibadah haji dengan aman dan nyaman.

*****
Nah, setelah uang biaya haji dibayar, para calon haji yang datang ke Arab Saudi atas undangan perusahaan BUMN penerbangan ini segera bersiap. Selepas shalat Ashar mereka segera melakukan ‘prosesi’ mengenakan ihram seperti mandi besar maupun berniat dan melaksanakan shalat dua rakaat. Karena mereka sudah berada di Jeddah, maka memutsukan langsung mengambil ‘miqat’ di tempat itu dengan mendatangi sebuah masjid yang letaknya tak jauh dari hotel.

”Ternyata yang berangkat bersama kami jumlahnya puluhan orang. Sekitar pukul 17.00 Waktu Arab Saudi (WAS) kami berangkat dengan menumpang dua buah bus. Tujuannya adalah masuk ke Makkah dengan langsung menuju Arafah,” ujar Bambang lagi.

Sesampainay bus di jalan besar, ternyata jalanan kota Jeddah sudah dipenuhi orang yang berpakaian ihram. Semua juga ingin ke Makkah. Sopir bus pun segera mengarahkan perjalannya ke sana. Bus berjalan dengan beringsut karena jalanan sudah begitu penuh. Meski berjalan kayak kura-kura dan beberapakali harus menempuh jalan melingkar, bus terus berjalan dan mengarahkan tujuannya ke Makkah!

Setelah berjalan beberapa lama,sekitar pukul 22.30 WIB rombongan berada tak jauh dari ‘chek point’ (pintu pemeriksaan) masuk Makkah yang pertama. Saat hendak diperiksa pemimpin rombongan yang sebelumnya sudah meminta agar rekan-rekannya bisa tertib atau berulah macam-macam, melakukan negosiasi kecil-kecilan. Upaya ini berhasil, rombongan tak diperiksa serius. Ini mungkin karena berkah doa yang semenjak awal keberangkatkan diserukan untuk dibaca oleh seluruh anggota rombongan.

”Saya terkejut ketika diminta agar membaca doa yang dibagikan melalui selebaran sebelum sampai di pos pemeriksaan pertama pintu masuk Makkah. Sebab, isinya ternyata bukan doa ‘safar'(bepergian) atau doa manasik ketika tawaf, lempar jumrah, sa’i. Doa yan bagikan itu ternyata doa agar rombongan tak terlihat sebagai haji tanpa tasreh. Di situ doanya meminta agar para penjaga itu terbuka hatinya sehingga kami pun selamat masuk ke Makkah,” kataYoghi Ardi, anggota rombongan yang lain.

Alhasil, doa itu ternyata makbul. Pemeriksaan di chek point pertama bisa lolos. Mereka yang ada dalam mobil sangat lega ketika bus bisa melewati pos permiksaan tersebut. Sopir bus pun semakin mantap menjalankan busnya ke Makkah. Suasana di luar yang sudah beranjak semakin malam menjadi tak terasa suram, malah semakin ceria penuh cahaya kegembiraan.

Situasi yang sama terjadi pada proses pemeriksaan bagi jamaah haji di pintu chek point  kedua yang hendak ke Makkah. Memang, setelah bus berhenti, beberapa petugas keamanan kemudian naik ke atas bus untuk melakukan pengecekan. Namun, kali ini mereka hanya memeriksa secara sekilas dan tak menanyakan soal ‘tasreh’ haji. Alhasil,rombongan dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Semuanya merasa lega dan serentak bersahutan mengucapkan alhamdulillah,takbir,dan talbiyah.

Setelah itu bus berjalan lagi. Kini kondisi jalanan sudah semakin sesak. Beberapa orang malah terlihat berjalan kaki. Rupanya kini rombongan tak lama lagi akan memasuki pos pemeriksaan terakhir. Dari jauh, kerlip lampu menara Masjidil Haram sudah terlihat jelas. Bayangnya menyembul diantara perbukitan yang ada disekitar Makkah.

Entah mengapa, tiba-tiba ketika sampai di sebuah ruas jalan yang sedikit gelap, bus kemudian berhenti dan minggir. Tak cukup dengan itu, para pembimbing haji yang ada dalam rombongan itu, meminta jamaah untuk segera turun dari bus dan berjalan kaki beriringan mengikutinya. Setelah ditanya, rupanya mereka tak yakin kali ini bisa lolos dalam pemeriksaan ketiga. Dan dari pada nanti disuruh balik dan kemudian dideportasi karena tak punya ‘tasreh’ rombongan diajak jalan kaki agar bis ‘menyelundup’ masuk ke Makkah tanpa melalui gerbang terakhir pemeriksaan.

******
Alhasil, tanpa sempat protes rombongan semuanya turun dari bus untuk berjalan kaki. Mereka segera ke luar dari jalanan aspal dan berpindah dengan berjalan kaki menyusuri jalanan biasa. Mereka kini harus melintasi kawasan padang pasir di pinggir kota Makkah di tengah malam gelap yang hanya diterangi bulan yang masih agak menyabit.

Tapi mungkin karena semuanya tak ingin gagal berhaji, mereka hanya bisa pasrah. Bahkan, semuanya tampak berjalan kaki dengan bersemangat. Kini semuanya malah antusias menyusuri kawasan padang pasir di tengah gelapnya malam. Sesekali mereka menemukan peternakan onta. Uniknya ketika sampai di kawasan itu,para penjaga peternakan malah membagi-bagikan makanan dan minuman. Mereka menyambut kedatangan jamaah haji ‘gelap’ ini dengan antusias. ”Fisabilillah, (orang yang sedang berjihad di jalan Allah), fisabilillah, fisabilillah…!” begitu teriakan mereka ketika menyambut kedatangan rombongan.

Tak cukup dengan itu ketika membagikan makanan dan minuman mereka berkelakar dengan cara unik, yakni dengan menghitung dengan cara orang Sunda: ‘‘Hiji, dua, tilu, opat, lima, genep!” Rupanya mereka mengaku pernah punya teman orang Indonesia yang berasal dari Garut. Jadi pertemuan ‘gelap-gelapan’ kawasan padang pasir malam itu berlangsung dengan akrab dan hangat. Ini makin menarik karena rupanya baik yang datang menyambut maupun rombongan ternyata baru ketahuan berasal dari banyak negara: Indonesia, Malaysia, Yordania, Pakistan, hingga negara di kawasan utara Afrika.

Dan tak hanya disuguhi makanan pengganjal perut dan air pengusir rasa haus, para penjaga peternakan onta juga antusias menunjukan arah jalan ke Makkah yang aman dari sergapan petugas keamanan. Mereka menyarankan agar tetap mengarahkan ke arah sinar lampu menara Masjidil Haram. Selain itu mereka juga meminta agar berhati-hati terhadap anjing liar, serigala, tumbuhan duri, ular gurun, hingga kawat berduri. Kata mereka bila sudah sampai ke pagar berkawat duri, maka itu menjadi pertanda bahwa perjalanan sudah hampir sampai di Makkah alias sudah melewati pos pemeriksaan jamaah haji terakhir.

Benar saja, setelah beberapa saat berjalan akhirnya mereka menemukan pagar kawat berduri. Setelah menerobos melewatinya, kini jalanan besar terhampar  di depan mata. Di sana sopir bus yang tadi mengantarkannya sudah menunggu. Rombongan pun kemudian naik ke bus kembali. Jalanan Makkah yang sibuk kini mereka nikmati. Raungan anjing dan serigala gurun yang tadi mereka dengarkan sepanjang jalan, kini berganti dengan bunyi mesin mobil dan klakson para pengguna jalan. Ketegangan menyusuri kawasan padang pasir yang mereka lakuan selama hampir empat jam itu telah berhasil dilewati.

Bus pun berlari menembus kerumunan orang dan langsung menuju ke kawasan Arafah. Menjelang subuh sampailah mereka. Karena tak punya ‘tasreh’ mereka menempati kawasan ‘tak bertuan’ yang tersisa di pinggiran padang Arafah. Setelah tenda didirikan rombongan kemudian shalat Subuh berjamaah. Dan, setelah shalat Subuh ditunaikan tiba-tiba saja semua  anggota rombongan orang dicekam keharuan. Mereka tersadar kini sudah berada di Arafah dan bersiap menjalankan rukun haji, yakni wukuf di Arafah.

”Ketika saya wukuf, saya menangis lama sekali. Bersyukur luar bisa diberi kesempatan berhaji. Seluruh doa saya bacakan. Juga seluruh pesanan titipan doa dari handai taulan dan sahabat tak ada yang terlewat ikut dibacakan. Wukuf di Arafah adalah hadiah terindah sepanjang hidup,” kata Bambang ketika menceritakan suasana hati saat dia wukuf. Dia mengaku semakin terharu ketika mengenang sang isteri yang baru meninggal 20 hari sebelum dia sampai di Arafah.

”Ya, benar-benar tak terbayangkan. Kami tak mudah sampai ke sini (Arafah). Tapi kami sangat puas sekali. Apalagi dibenak kami semput muncul kekhawatiran mengingat ada rekan kami yang bercerita bahwa dia baru sampaike Makkah setelah Magrib tiba. Kalau sampai ini terjadi,maka saya jelas tak berhaji atau hanya umrah saja. Dan dahaga batin saya semakin terpuaskan ketika kemudian bisa melihat Ka’bah,” ujarnya.

Ya itulah, ternyata memang banyak jalan menuju Makkah yang di sana ada padang Arafah dan Ka’bah!

Begini cara MenAg memperpendek antrian haji

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  — Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menerapkan dua cara untuk memperpendek antrean ibadah haji yang dinilainya tidak sebanding antara animo masyarakat dengan kuota yang tersedia.

“Haji diprioritaskan bagi mereka yang belum pernah melaksanakan ibadah haji dan dimungkinkan berulang setelah 10 tahun,” kata Lukman Hakim Saifuddin di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (27/5).

Lukman mengatakan masa tunggu pelaksanaan ibadah haji semakin panjang karena animo masyarakat semakin besar tidak sebanding dengan kuota haji Indonesia. Karena itu, dua cara itu ditempuhnya untuk memperpendek antrean pelaksanaan ibadan haji.

“Jadi ke depan hanya yang belum pernah berhaji yang diprioritaskan dan dimungkinkan berulang setelah 10 tahun,” kata Lukman. Pihaknya memiliki sistem komputerisasi dan data base online yang memungkinkan pengecekan seseorang pernah melakukan ibadah haji atau belum.

Dengan begitu, siapapun yang mencoba mendaftar haji tapi sudah pernah menunaikannya dalam waktu dekat akan secara otomatis muncul.

Lukman menambahkan tahun ini biaya penyelenggaraan ibadah haji telah berhasil diturunkan hingga 502 dolar AS dari 3.219 dolar AS menjadi 2.717 dolar AS. Namun efisiensi itu bukan berarti penurunan kualitas layanan justru sebaliknya.

Akomodasi di Madinah Gunakan Sistem Sewa Setengah Musim

Jakarta (Sinhat)–Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ahda Barori mengatakan bahwa pada musim haji tahun ini, Kemenag berupaya memberikan pelayanan akomodasi dalam bentuk sistem sewa setengah musim. Kebijakan ini berbeda dari yang lalu di mana sewa pemondokan di Madinah menggunakan sistem kontrak layanan melalui Majmuah.

Hal ini dikatakan Ahda saat memberikan materi kebijakan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1436H/2015M pada acara Sosialisasi Keamanan, Transportasi Udara, Kesehatan dan Perlindungan Jamaah Haji Indonesia Tahun 1436H/2015M, Jakarta, Selasa (26/5) malam. Acara ini akan berlangsung sampai 28 Mei mendatang, diikuti oleh para Kepala Seksi Haji Kanwil Kemenag provinsi.

Ahda juga berharap perubahan kebijakan dalam penyelanggaraan ibadah haji tahun 1436H/2015M akan memberikan dampak positif bagi jemaah karena pelayanan yang diberikan bisa lebih baik. “Mudah-mudahan pelaksanaan haji tahun ini semakin baik dari sebelumnya,” harap Ahda disambut tepuk tangan peserta sosialisasi.

Sejalan dengan adanya kebijakan pemulangan jamaah haji gelombang kedua langsung dari Madinah, Ahda Barori mengatakan bahwa hal ini akan berimplikasi pada tidak adanya lagi hotel transito di Jeddah.

Adapun terkait akomodasi di Makkah, Ahda memastikan bahwa pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, akomodasi di Makkah hanya akan dibagi dalam 6 cluster, yaitu: Raudhah, Jarwal, Mahbas Jin, Misfalah, Azizah dan Syisyah. Pada tahun-tahun sebelumnya, akomodasi jamaah haji di Makkah tersebar hingga lebih dari 10 cluster. Dengan demikian, diharapkan jamaah haji Indonesia pada tahun ini akan lebih terkonsentrasi pada 6 titik saja sehingga akan memudahkan proses fasilitasi dalam mobilisasi mereka selama menjalankan ibadah haji di Makkah.

Di hadapan semua peserta sosialisasi, Ahda Barori juga menyampaikan bahwa rasionalisasi jumlah shelter bus shalawat di Makkah dari semula 12 shalter menjadi 6 shalter, mengikuti cluster lokasi akomodasi jamaah haji Indonesia di Mekkah. (ar/ar)

Perpres BPIH 2015 Sudah Ditandatangani Presiden

Jakarta (Pinmas) —- Peraturan Presiden tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 1436H/2015M telah ditandatangani Presiden Jokowi pada Kamis (21/05) lalu. Perpres dengan nomor 64 tahun 2015 ini diundangkan sejak Senin (25/05) kemarin.

Perpres ini mengatur bahwa BPIH Tahun 1436H/2015m meliputi biaya penerbangan haji, biaya pemondokan di Makkah, dan biaya hidup. Sebelumnya, Kementerian Agama bersama DPR RI telah menyepakati bahwa rata-rata besaran BPIH tahun ini adalah USD2.717, atau turun sebesar  USD502 jika dibandingkan dengan BPIH tahun lalu yang mencapai USD3.219.

Adapun besaran BPIH 1436H/2015M per embarkasi sebagaimaan diatur dalam Perpres 64 Tahun 2015 ini adalah sebagai berikut: Embarkasi Aceh USD2.401; Embarkasi Medan USD2.404; Embarkasi Batam USD2.556; Embarkasi Padang USD2.561; Embarkasi Palembang USD2.623; Embarkasi Jakarta USD2.626; Embarkasi Solo USD2.769; Embarkasi Surabaya USD2.801; Embarkasi Banjarmasin USD2.924; Embarkasi Balikpapan USD2.926; Embarkasi Makassar USD3.055; dan Embarkasi Lombok USD2.962.

Setelah Perpres BPIH ini ditandatangani Presiden, maka tahapan persiapan pelaksanaan ibadah haji selanjutnya adalah pelunasan BPIH Reguler yang waktunya akan segera diumumkan oleh Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU).  Pembayaran BPIH ini dilakukan dengan mata uang dolar Amerika atau mata uang rupiah sesuai dengan kurs jual transaksi Bank Indonesia yang berlaku pada hari dan tanggal pembayaran.

BPIH disetorkan kepada rekening Menteri Agama melalui Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH. Ditjen PHU sudah merilis daftar nama jamaah haji reguler yang berhak melunasi BPIH Reguler 1436H/2015. Untuk mengetahuinya, silakan lihat disini Daftar Jamaah Berhak Lunasi BPIH Reguler 1436H/2015M

Jamaah haji akan menerima pengembalian BPIH jika meninggal dunia sebelum berangkat menunaikan ibadah haji atau batal keberangkatannya karena alasan kesehatan atau alasan lain yang sah. (mkd/mkd)

Haji Dalam Angka: Jumlah Jemaah Haji Indonesia Dalam Seabad Lebih

Oleh: Tim Informasi Haji Ditjen PHU/Affan Rangkuti

Kembali Tim Informasi Direktorat Jenderal Peyelenggaraan Haji dan Umrah merilis rekam jejak perjalanan ibadah haji di Indonesia. Kali dihadirkan jumlah jemaah haji Indonesia dari tahun 1888 sd 2014 yang dihimpun dari berbagai sumber buku terbitan Departeman Agama saat itu dan database Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat). Berikut jumlah jemaah haji Indonesia selama 127 tahun:

Tahun
1888 – 6044 orang
1889 – 6841 orang
1890 – 8092 orang
1891 – 6874 orang
1892 – 7128 orang
1893 – 11788 orang
1894 – 7075 orang
1895 – 7895 orang
1896 – 7694 orang
1897 – 7568 orang
1898 – 7421 orang
1899 – 6092 orang
1900 – 5669 orang
1901 – 9481 orang
1902 – 4964 orang
1903 – 6863 orang
1904 – 8694 orang
1905 – 9219 orang
1906 – 10300 orang
1907 – 10944 orang
1908 – 14234 orang
1909 – 24425 orang
1910 – 18353 orang
191 1 – 26321 orang
1912 – 28427 orang
1913 –
1914 –
1915 – 72 orang
1916 – 48 orang
1917 – 1163 orang
1918 – 14805 orang
1919 – 28795 orang
1920 – 22212 orang
1921 – 22022 orang
1922 – 39000 orang
1923 – 74 orang
1924 – 3474 orang
1925 – 52412 orang
1926 – 43082 orang
1927 – 31405 orang
1928 – 33000 orang
1929 – 6917 orang
1930 – 4385 orang
1931 – 226 orang
1932 – 2854 orang
1933 – 3693 orang
1934 – 4015 orang
1935 – 5432 orang
1936 – 14976 orang
1937 – 0 orang
1938 – 0 orang
1939 – 0 orang
1940 – 0 orang
1941 – 0 orang
1942 – 0 orang
1943 – 0 orang
1944 – 0 orang
1945 – 0 orang
1946 – 0 orang
1947 – 0 orang
1948 – 0 orang

Pada Tahun 1937 sd 1948 terjadi kekosongan jemaah haji disebabkan oleh 3 hal. Pertama; kondisi perekonomian bangsa dan rakyat Indonesia dalam keadaan tidak berdaya sama sekali, Kedua; sebagaimana suatu bangsa yang baru merdeka negara dalam penataan, dan Ketiga; bangsa Indonesia dihadapkan kepada perang kemerdekaan (agresi militer) dan keluarnya fatwa ulama yang mengharamkan meninggalkan tanah air dan tidak wajib pergi haji dalam keadaan perang melawan penjajah.

1949 – 9892 orang
1950 – 11843 orang
1951 – 9502 orang
1952 – 14324 orang
1953 – 10318 orang
1954 – 10676 orang
1955 – 12621 orang
1956 – 13424 orang
1957 – 16842 orang
1958 – 10314 orang
1959 – 10318 orang
1960 – 11613 orang
1961 – 7820 orang
1962 – 10003 orang
1963 – 15039 orang
1964 – 15004 orang
1965 – 15000 orang
1966 – 15983 orang
1967 – 16949 orang
1968 – 16506 orang
1969 – 9292 orang
1970 – 26897 orang
1971 – 22288 orang
1972 – 22344 orang
1973 – 39954 orang
1974 – 68543 orang
1975 – 54859 orang
1976 – 25477 orang
1977 – 34063 orang
1978 – 72416 orang
1979 – 43723 orang
1980 – 74741 orang
1981 – 67074 orang
1982 – 55157 orang
1983 – 49651 orang
1984 – 38093 orang
1985 – 39796 orang
1986 – 57171 orang
1987 – 56420 orang
1988 – 54406 orang
1989 – 57904 orang
1990 – 71242 orang
1991 – 79347 orang
1992 – 106722 orang
1993 – 122869 orang
1994 – 158533 orang
1995 – 196548 orang
1996 – 193364 orang
1997 – 197463 orang
1998 – 201910 orang
1999 – 70927 orang
2000 – 180558 orang
2001 – 203130 orang
2002 – 196813 orang
2003 – 201319 orang
2004 – 192690 orang
2005 – 189842 orang
2006 – 189087 orang
2007 – 188569 orang
2008 – 189699 orang
2009 – 189358 orang
2010 – 196206 orang
2011 – 199848 orang
2012 – 192290 orang
2013 – 154547 orang
2014 – 154467 orang

Tahun 2013-2014 renovasi dan pengembangan Masjidil Haram oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dan saat ini masih berjalan, mengakibatkan berkurangnya kapasitas daya tampung tempat tawaf, yang sebelumnya 48.000 jemaah per jam menjadi 22.000 jemaah per jam. Dengan demikian, untuk menjamin keselamatan, kenyamanan, dan keamanan para jamaah haji di dunia, otoritas setempat memberlakukan kebijakan pengurangan kuota haji dunia sebesar 20%.

Loon, Penyanyi Rap Terkenal AS yang Masuk Islam

kisahmuallaf.com – Grup music rap Bad Boy amatlah kesohor di Amerika. Loon adalah penyanyi yang terkenal bersama grup tersebut yang memiliki nama asli Chauncey L. Hawkins. Setelah masuk Islam, Loon merubah namanya menjadi Amir Junaid Muhaddith. Bukan hanya Loon yang masuk Islam, isteri dan anak-anaknya juga ikut langkah baik pemimpin keluarga mereka.

Tidak berapa lama setelah masuk Islam, Amir berangkat ke tanah suci Makkah, bertemu dengan para Imam Masjidil Haram.

Di depan Ka’bah itulah Amir menemukan jati dirinya sebagai seorang hamba Allah yang memiliki misi ibadah kepada-Nya. Amir masuk Islam setelah kumpulan lagu terakhirnya terjual 7 juta copy. Coba bayangkan, kalau per copy saja keuntungannya $ 1.00, maka maka sekitar $ 7 juta masuk kekantong Loon, atau sekitar 70 miliyar rupiah.Sungguh uang yang sangat banyak bukan ?

Uang yang melimpah yang ia hasilkan dari musik itu ternyata tidak membuat Amir semakin menikmati hidup ini. Bukan uang yang melimpah dan ketenaran sejagat yang membuat Amir menikmati kebahagiaan hidup. Soal uang, ketenaran dan berbagai penghormatan manusia sudah ia dapatkan, baik di Amerika sendiri maupun dari kawasan dunia lainnya. Lalu, lah yang ia pilih untuk menggapai kebahagiaan hakiki itu. Ternyata semua bentuk kesuksesan dunia yang ia dapatkan, tak menghalanginya untuk masuk Islam dan memilih Islam sebagai the way of life-nya.

Tak heran jika setiap Muslim yang melihat atau mendengar kisah Loon ini, spontan terucap di lidah mereka :

Alhamdulillah, selamat datang saudaraku seiman. Salut luar biasa. Harta yang melimpah dan ketenaran sejagat ditinggalkan demi hidup sebagai seorang Muslim yang taat. Sementara di negeri kami yang terkenal sebagai negeri Muslim, malah orang berlomba-lomba mengejar fatamorgana dunia dan ketenaran itu.

Sungguh besar pengorbananmu. Uang, harta dan ketenaran itu mungkin tidak akan Anda dapatkan lagi seperti saat sebelum memilih agama yang benar ini sebagai jalan hidup. Pasti Amir sudah memperkirakan itu semua dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang mendalam. Itulah resiko menjadi Muslim taat, khususnya di Amerika yang terkenal pemerintahnya anti Muslim taat seperti Amir.

Amir menemukan cahaya Islam belum genap satu tahun, atau sekitar 10 bulan lalu. Musim Haji yang lalu, ia datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan berkunjung ke Madinah, kota Rasul Saw. Amir juga berkunjung ke Riyadh, ibu kota Kerajaan Arab Saudi dan bahkan ke beberapa kota di negara-negara Arab teluk, seperti United Arab Emirates. Dalam kunjungannya itu, Amir mendapatkan sambutan yang luar biasa. Beberapa media pun antri untuk mewawancarainya, termasuk Aljazeera, stasiun tv terkemuka di Qatar yang mampu melawan kebohongan dan hegemoni CNN milik raja media Yahudi bernama Murdoch.

Amir yang saat ini berusia 34 tahun menceritakan isi hatinya yang paling dalam tentang keislamannya sambil berkata : Saya meraih ketenaran yang luar biasa di kalangan masyarakat Amerika karena musik. Saya sukses luar biasa dalam dunia musik sehingga saya menjadi 10 penyanyi top Amerika berdasarkan rating media Amerika sendiri. Ketenaran saya meningkat tajam saat berduet bersama penyanyi kelas dunia Bop Diddy sehingga penjualan kaset rekaman lagunya lebih dari 7 juta copy. Saya telah menulis 52 lagu.

Amir menambahkan; Anda boleh percaya atau tidak. Kendati memiliki harta yang melimpah dan ketenaran, saya tidak pernah merasakan kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Sampai ketika saya berkunjung ke Abu Dhabi 7 bulan yang lalu, saya terkaget-kaget dengan budaya kaum Muslimin Arab. Saat itu saya mendengar lantunan suara azan dan saya melihat orang-orang bergerak menuju Masjid-Masjid yang terdekat untuk menunaikan shalat. Mereka terlihat berakhlak mulia dan berinteraksi dengan baik dengan siapa saja. Saat itu timbul pertanyaan dalam benak saya tentang hakikat agama mereka (Islam). Apakah Islam itu hanya khusus untuk bangsa Arab, atau untuk semua manusia? Sampai akhirnya saya mendapat jawaban yang konprehensif bahwa Islam itu adalah agama untuk semua manusia, tanpa membedakan keturunan, suku dan bangsa.

Setelah berfikir mendalam, saya putuskan masuk Islam dan saya shalat pertama kali saat kembali ke tempat tinggal saya di New York. Sejak itulah saya berubah total. Saya tinggalkan musik secara total. Saya keluar total dari komunitas di mana saya habiskan hidup saya sebelumnya selama 17 tahun. Sekarang saya merasakan ketenangan batin yang sejak lama saya rindukan. Saya merasa bertambah tenang lagi setelah isteri dan anak saya juga masuk Islam.

Semangat saya untuk belajar dan mengenal Islam semakin bertambah, karena tertanam niat dan tekad untuk mengajak orang lain kembali kepada Islam. Saya juga telah bergabung dengan lembaga dakwah Islam Kanada, bidang penyebaran Islam. Saya memiliki program khusus terkait masalah tersebut, yakni mengajak para penyanyi dan seniman top dunia untuk mengenal Islam dan prinsip-prinsipnya.

Terakhir Amir menyampaikan nasehatnya kepada generasi muda Muslim di mana saja berada : Ini adalah ucapan saya yang keluar dari lubuk hati yang dalam. Kepada setiap pemuda dan generasi Muda Muslim. Jangan sekali-kali terpengaruh oleh peradaban Barat, demikian juga dengan tradisi mereka.

Jangan sekali-kali meniru lagu-lagu Barat dan prilaku mereka serta apa saja yang dilakukan oleh penyanyi Amerika atau Barat lainnya. Berbanggalah dengan Islam dan agama ini yang sekarang sedang dicari-cari oleh orang-orang kaya dan orang-orang terkenal di dunia. Setelah mereka mengenal Islam, mereka akan tahu bahwa apa yang mereka kerjakan bertahun-tahun sebelumnya tidaklah bermutu dan berguna.

Banggalah Anda sebagai Muslim. Kenalilah Allah sebagai Tuhan Pencipta dan kenalilah Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul yang membawa misi keselamatan. Shadaqta ya Amir. Anda benar saudaraku.

Mukjizat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Mencengangkan Para Ilmuwan Barat

KisahMuallaf.com – Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah) dengan sebuah alat canggih yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik!!!

Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengng tidak tahu harus berkomentar apa.

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”

Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.

Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)

Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafazh jalalah (nama Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagaimana tampak dalam layar.

Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara.

Subhanallah, Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1.400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada sang profesor.

Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Al-Qur’an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”

Seorang profesor ini telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin yang sedang terperangah.

Allahu akbar! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya, dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah Islam!

Lady Evelyn bangsawan inggris yang pertama kali naik haji

Pada musim haji tahun 1933 silam, menyimpan cerita tersendiri bagi masyarakat Kota Suffolk, Inggris, khususnya umat Islam. Sebab, pada tahun itu, salah seorang penduduknya pergi ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Hebatnya lagi, ia adalah seorang perempuan. Namanya adalah Lady Evelyn Zainab Murray Cobbold. Konon, dialah Muslimah pertama aslaI Inggris yang menunaikan ibadah haji. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk kepercayaan Anglikan, berita kepergian Evelyn Cobbold ke Makkah itu membuat kaget masyarakat Inggris, terutama penduduk Kota Suffolk.

Mengingat Evelyn Cobbold berasal dari keluarga bangsawan Suffolk yang paling berpengaruh. Karuan saja, kabar tersebut menghiasi pemberitaan media-media di Inggris saat itu. Sejumlah media bahkan menempatkannya sebagai headline di halaman depan.

Laman Wikipedia menyebutkan bahwa Lady Evelyn merupakan putri tertua dari pasangan Charles Adolphus Murray-Earl of Dunmore ketujuh-dan Lady Gertrude Coke-yang merupakan putri dari Earl of Leicester kedua. Perempuan yang lahir di Edinburgh pada 1867 ini, disebut-sebut masih keturunan dari Pangeran William I Inggris, yang juga dikenal sebagai William Sang Penakluk dan William dari Normandia.

Dalam tulisannya yang bertajuk “From Suffolk to Saudi”, editor berita BBC Suffolk, Lis Henderson, mengungkapkan bahwa Lady Evelyn memutuskan untuk memeluk Islam pada akhir 1800-an atau menjelang abad ke-19. Di usia kanak-kanak, ia sudah mempelajari berbagai macam keyakinan. Sewaktu kecil, ia kerap menghabiskan liburan musim dinginnya dengan mengunjungi wilayah Afrika Utara. Di benua hitam inilah Evelyn tertarik dengan Islam.

Lady Evelyn menikah dengan salah seorang anggota keluarga Cobbold, John Dupius Cobbold, pada 1891. Di negeri Inggris, keluarga Cobbold dikenal luas sebagai pendiri Cobbold Brewery, industri pembuatan bir. Namun, pernikahannya dengan John Cobbold hanya bertahan selama tiga dasawarsa. Pada 1922, pasangan ini memutuskan untuk berpisah.

Obat pelipur lara

Kandasnya bahtera rumah tangga yang telah dibinanya selama 31 tahun membuat Lady Evelyn mengalami kesedihan yang teramat dalam. Berbagai usaha telah ditempuhnya untuk menghapus kesedihan tersebut, tetapi tidak juga berhasil. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi ke Afrika. Di benua hitam ini, ia menemukan obat pelipur laranya tersebut, yaitu agama Islam.

Dalam buku Islam Our Choice, bangsawan asal Suffolk ini mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui secara pasti kapan dia mendapatkan hidayah tersebut. “Saya merasa kalau saya selamanya sebagai seorang Muslim. Ini tidaklah aneh, bila mengingat Islam adalah agama fitrah, di mana seorang anak dibiarkan tumbuh menurut fitrahnya,” ujarnya. “Karena itu, saya sependapat dengan perkataan seorang sarjana Barat bahwa Islam adalah agama rasional dan sesuai dengan akal sehat manusia.”

Ia mengakui, makin banyak mempelajari dan membaca literatur tentang agama Islam, semakin bertambah pula keyakinannya akan keistimewaan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini dibandingkan agama lainnya. Menurutnya, Islam adalah agama yang paling sesuai dengan kehidupan dan segala problematikanya. Ia juga menegaskan, Islam adalah agama yang paling mampu menyelesaikan segala kesulitan dan kepincangan di dunia ini, serta yang dapat membawa manusia pada perdamaian dan kebahagiaan.

“Saya sudah tidak ragu bahwa Allah adalah tunggal. Dan Musa, Isa, Muhammad, serta banyak nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum mereka adalah nabi dan rasul yang mendapatkan wahyu dari Allah, Tuhan mereka. Setiap umat diutus Allah kepadanya seorang rasul. Kita terlahir ke dunia ini tidak membawa dosa asal, karenanya kita tidak membutuhkan orang lain untuk menanggung atau menebus dosa kita,” paparnya.

Lady Evelyn menambahkan, Islam identik dengan kedamaian. Muslim adalah seorang yang harmonis dalam melaksanakan ajaran Pemilik dan Pencipta Alam ini. Di samping itu, seorang Muslim adalah orang yang hidup damai dengan Allah dan hidup damai pula dengan makhluk ciptaan Allah.

Wanita Inggris Pertama Menjadi Hajah

Pada April 1933, ia berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Ia menjadi wanita Inggris pertama yang melakukan perjalanan ibadah haji. Saat menunaikan haji, usianya terbilang lanjut, 65 tahun. Lady Evelyn mengakui, ibadah haji memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupannya. Ia pun merasa takjub dengan ritual ibadah rukun Islam ini.

“Bayangkan! Seseorang menceburkan diri ke dalam kelompok manusia yang begitu besar dengan jumlahnya mencapai jutaan orang, dan datang dari segenap penjuru dunia untuk melakukan ibadah suci di tempat yang suci. Mereka meleburkan diri ke dalam kelompok manusia, lalu dengan segala kerendahan hati, khusyuk, dan tunduk bersama-sama memuji, membesarkan, dan menyucikan Allah,” ujarnya.

Mengunjungi negeri tempat awal munculnya agama Islam dan menyaksikan tempat-tempat bersejarah dalam perjuangan Rasulullah SAW, menjadi pengalaman yang hebat sepanjang hidupnya. “Dari pengalaman ini, saya terdorong untuk mencontoh kehidupan Rasulullah,” paparnya.

Ia juga melihat ibadah haji sebagai sarana untuk memperkokoh rasa persaudaraan di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Perbedaan warna kulit dan jarak antara satu dan yang lain tidak menjadi penghalang. Segala perbedaan kesukuan dan mazhab dikesampingkan pada saat itu. “Kesatuan akidah umat Islam telah menjadi persaudaraan yang kokoh kuat, persaudaraan yang telah memberikan inspirasi kepada mereka untuk dapat mewarisi kebesaran nenek moyang mereka,” tukasnya.

Pengalamannya selama menunaikan haji ini, kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Pilgrimage to Mecca. Buku ini dirilis pertama kali pada 1934. Seiring perjalanan waktu dan usia yang cukup lanjut, perempuan bangsawan kerajaan Inggris ini akhirnya wafat pada Januari 1963. [republika.co.id]