Siang Malam Dua Makkah dan Madinah Terus Diguyur Hujan

Saat ini cuaca di dua Kota Suci Makkah dan Madinah terus-terusan diguyur hujan. Durasi hujan bisa terjadi mulai dari pagi sampai malam hari yang menyebabkan beberapa titi digenangi air bahakan banjir.

“Di Madinah malah kemarin dua hari hujan dari dini hari sampai malam hari hujan terus,” kata pemilik travel Umrah Firadaus Mulia Abadi, Tri Winarto saat dihubungi Republika, Selasa (3/1/2023).

Jadi kata Tri, Cuaca di Madinah dan Makkah sedang tidak bersahabat karena sering turun hujan dengan durasi panjang. Hujan, angin disertai petir yang terjadi di Makkah harus diwaspadai seluruh penduduk kota termasuk jamaah.

“Cuaca saat ini di Makah maupun di Madinah banyak sekali turun hujan sesekali angin kencang petir yang keras,” katanya

Tri mengatakan, saat ini sedang berada di Madinah. Pernah hujan turun hampir 25 jam lamanya, sehingga beberapa aktivitas jamaa di Masjid Nabawi terhenti.

“Jadi karpet-karpet di Masjid Nabawi sudah dilipat semua, karena memang hujan deras air banyak sekali di halaman,” katanya.

Hujan, angin dan kilatan petir menyabar rata terjadi di seluruh kota-kota di Arab Saudi. Terutama di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebagai tujuan utama berangkat ke Tanah Suci. 

“Demikian halnya juga di Kota Makkah ada informasi dari teman-teman yang ada di Makkah juga hujan terus, angin besar,” katanya.

Tri memastikan, meski cuaca buruk, tidak membuat kegiatan jamaah terhenti. Jamaah umroh yang dia bawa dipastikan sehat dan siap menjalankan rangkaian ibadahnya.

“Tetapi tidak ada gangguan yang berarti perjalanan saya dari Madinah kemarin menuju ke Badar juga dari perjalanan selama 150 kilo juga diguyur hujan tiada henti,” katanya.

IHRAM

Harga Hotel di Makkah dan Madinah Naik 300 Persen, Ini Saran Amphuri

Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah (Amphuri) mengeluarkan surat edaran nomor 1777/DPP- Amphuri/XII/2022. Surat untuk menyikapi kondisi terkini di Arab Saudi, khususnya tiket penginapan atau hotel mengalami kenaikan sampai 300 persen.

“Jika sebelumnya timbul masalah

langkanya vaksin, kemudian disusul melambungnya tarif tiket, kini harga hotel ikut meroket sampai 300 persen,” begitu isi surat yang dikirim Ketua Amphuri Firman M Nur, kepada Republika, kemarin.

Amphuri berharap masyarakat memaklumi kondisi saat ini yang begitu berat bagi

penyelenggara perjalanan ibadah umrah untuk tetap dapat memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah sebagaimana di komitmen awal. Untuk itu, Amphuri menyarankan para pelaku usaha perjalanan ibadah umrah dan jamaah agar melakukan beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, menyampaikan kondisi yang terjadi dengan bermusyawarah untuk mufakat dengan calon jamaah umrah sehingga bisa memahami kondisi yang terjadi.

Kedua, jika memang harus melakukan penambahan biaya, maka penambahan biaya tersebut harus sesuai dengan keadaan sesungguhnya.

Ketiga, jika memang harus melakukan perubahan hotel baik setaraf maupun di bawahnya(downgrade) pelayanan dikarenakan hotel yang dipilih telah full booked, sebaiknya disosialisasikan kepada jamaah terlebih dulu.

Empat, jika memang harus melakukan perubahan program/jadwal keberangkatan yang semestinya ke Mekkah, namun bisa terlebih dulu ke Madinah atau sebaliknya. Bisa juga sebelum ke Madinah ke Thaif dulu.

“Namun semua itu harus disosialisasikan

kepada jamaah, sehingga jamaah tetap merasa aman, nyaman dan menyenangkan,” katanya.

Kelima terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada jamaah/masyarakat terkait perubahan situasi yang terjadi di Saudi.

Keenam, jika ada perubahan program dan harga, penyelenggara bisa menawarkan program.tersebut dengan komitmen baru yang disetujui jamaah. Demikian hal ini kami sampaikan untuk diketahui, dipahami dan demi kemashlahatan serta keselamatan bersama.

Semoga para penyelenggara perjalanan ibadah umrah dan jamaah senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam melaksakan ibadah umrah

sebagaimana yang sudah direncanakan.

“Atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami mengucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Dewan Pengurus,” begitu isi pesan terakhir dalam surat yang ditandatangani Firman M Nur sebagai Ketua DPP Amphuri dan Sekjen Amphuri Farid Aljawi. 

IHRAM

Hukum Bermain Game Slot

Fenomena Slot Game saat ini memang sedang berada dipuncaknya, dari yang tua sampai yang muda semuanya memainkan permainan ini. Lantas, bagaimakah hukum bermain game slot?

Dalam literatur kitab fikih, dijumpai beberapa keterangan yang menyatakan mengenai kebolehan melakukan segala macam bentuk permainan selama masih belum ada unsur yang dilarang.

Hal ini sebagaimana dalam keterangan Imam Asy Syaukani dalam kitab Fathul Qadir, juz 1, halaman 64 berikut;

أن الأصل في الأشياء المخلوقة الإباحة حتى يقوم دليل يدل على النقل عن هذا الأصل

Artinya : “Sesungguhnya hukum asal dari segala  ciptaan adalah mubah, sampai tegaknya dalil yang menunjukkan berubahnya hukum asal ini.”

Akan tetapi, apabila dalam permainan tersebut mengandung unsur yang diharamkan, seperti terdapat unsur perjudian, maka memainkannya juga dihukumi haram. Sebagaimana dalam kitab Is’adur Rofiq, juz 2, halaman 102 berikut,

وَكُلُّ مَا فِيْهِ الْقِمَارُ) وَصُوْرَتُهُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهَا أَنْ يُخْرِجَ الْعِوَضَ مِنَ الْجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ الْمُرَادُ مِنْ الْمَيْسِرِ في الآية ووَجْهُ حُرْمَتِهِ إنْ كانَ كُلُّ وَاحِدٍ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أنْ يَغْلِبَ صَاحِبَهُ فَيَغْرَمُ أوْ يَغْلِبَهُ فَيُغْرَمُ فَإِنْ عَدَلَا ذٰلِكَ إِلَى حُكْمِ السَّبْقِ والرَّمْيِ بِأَنْ يَنْفَرِدَ أحَدُ اللَّاعِبَيْنِ بِإخْراجِ الْعِوَضِ لِيَأْخُذَ مِنْهُ إنْ كانَ مَغْلُوْبًا وعَكْسُه إنْ كانَ غَالِبًا وَالْأصَحُّ حُرْمَتُهُ أيضا اهـ

Artinya : ” Segala sesuatu yang mengandung unsur perjudian, maka diharamkan. Bentuk perjudian yang telah disepakati para ulama’ adalah masing-masing dari dua belah pihak mengeluarkan barang secara berimbang dan inilah yang dimaksud perjudian dalam ayat. Aspek keharamannya adalah jika salah satu menang maka pihak yang kalah harus membayar demikian sebaliknya.

Melihat dari game slot yang merupakan jenis permainan judi slot dan hanya akan bekerja setelah pemain memasukkan koin atau setelah deposit kepada bandar situs judi slot online, maka praktek semacam itu termasuk dalam praktek perjudian yang diharamkan.

Sebagaimana dalam keterangan kitab Fatawa Doktor Ramadhan Al-Buaithi, halaman 49 berikut,

الْقَاعِدَةُ الَّتِيْ تُحَدِّدُ مَعْنَى الْمَيْسِرِ تَتَخَلَّصُ فِيْ أنَّ كُلَّ مَالٍ يَدْفَعُه الْإنْسانُ مُقَابِلَ مَنْفَعَةٍ يَحْتَمِلُ أنْ يَحْصُلَ عَلَيْهَا وَيَحْتَمِلُ أَلَّا يَحْصُلَ عَلَيْهَا فَهُوَ دَاخِلٌ في مَعْنَى الْمَيْسِرِ ، وَالْمَيْسِرُ مُحَرَّمٌ بِنَصِّ الْقُرْأَنِ

Artinya : “Konsep yang dapat mendefinisikan praktek perjudian kesimpulannya adalah : bahwa setiap orang yang menyerahkan hartanya sebagai perbandingan suatu kemanfaatan yang akan ia terima namun kemanfaatan tersebut bisa jadi berhasil dan bisa jadi gagal didapatkan maka praktek semacam itu termasuk dalam praktek perjudian.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa game slot merupakan jenis permainan yang diharamkan, karena didalamnya terdapat judi slot yang menggunakan mesin dan meminta para pemain untuk memasukkan koin atau deposit kepada bandar situs judi slot online.

Demikian penjelasan mengenai hukum bermain game slot. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

BINCANG SYARIAH

Buah Manis Dakwah Prioritas

Dakwah atau panggilan untuk meyakini dan mengamalkan akidah dan syariat Islam adalah bagian terpenting dari kewajiban setiap muslim. Dakwah Islamiyah merupakan praktik penyebaran agama Islam dan syahadat yang dilakukan dengan cara yang baik.[1]

Allah Ta’ala berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Perintah untuk berdakwah dalam ayat tersebut merupakan kewajiban yang menjadi tanggung jawab setiap muslim sesuai dengan kapasitasnya. Adapun cara dalam menyampaikan dakwah hendaklah dilakukan dengan kelembutan dan penuh dengan nasihat yang baik, sembari menunjukkan sikap terbaik manakala terjadi penentangan terhadap dakwah tersebut.

Kewajiban berdakwah

Sebagai umat terbaik, bentuk dakwah yang diwajibkan kepada muslimin adalah dengan amar makruf nahi munkar sebagaimana firman Allah Ta’ala,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Ya, dakwah atau seruan untuk mengerjakan hal yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Suatu tugas mulia sebagai manifestasi dari ketakwaan di mana takwa merupakan amalan ketaatan kepada Allah di atas cahaya Allah (petunjuk dari Allah -pen.) dengan niat mengharapkan rida Allah, serta meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya Allah (petunjuk dari Allah -pen.) dengan niat takut akan azab Allah.[2]

Kita tahu bahwa sejak zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam, bentuk kemaksiatan yang paling dimurkai oleh Allah dimulai, yaitu mempersekutukan Allah –wal ‘iyadzubillah-. Maka, dari zaman ke zaman, tugas utama dari setiap rasul yang diutus oleh Allah adalah dalam rangka menyeru manusia untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu mempersembahkan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala.

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah: 5)

Tantangan dakwah

Berada di zaman yang penuh dengan fitnah ini, tugas kita dalam melaksanakan dakwah tentu saja menghadapi berbagai halangan dan rintangan. Sebagaimana yang saat ini kita hadapi, berada di saat toleransi beragama disalahartikan dengan memaksakan diri untuk menyesuaikan dengan keadaan. Padahal, akidah yang dipertaruhkan. Ambil contoh ‘toleransi’ yang menjadikan sebagian umat Islam terpedaya tatkala berada di tanggal hari raya selain Islam.

Mereka justru lebih mengedepankan ‘toleransi’ itu daripada mempertahankan akidah dengan menganggap ucapan (tahniah) atas hari raya selain Islam merupakan hal yang wajar sebagai bentuk ‘toleransi’ kepada sesama umat manusia ataupun sesama warga negara. Alasan tersebut dikedepankan dengan tanpa ilmu. Sementara dalam syariat kita dilarang untuk melakukannya karena dapat merusak dan membatalkan keislaman kita.

Ini salah satu contoh kecil dari banyak penyimpangan yang terus-menerus terjadi dalam perjalanan kehidupan beragama kita. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah maksud kewajiban berdakwah sebagaimana diterangkan dalam ayat-ayat di atas adalah kewajiban untuk menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk kembali ke jalan yang benar? Jika ya, seperti apa jalan yang semestinya kita tempuh?

Prioritas dakwah tauhid

Saudaraku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita tentang skala prioritas dalam berdakwah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke negeri Yaman, beliau bersabda,

إِنَّكَ تَقْدُمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ. فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ تَعَالَى

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari Ahli Kitab. Maka, jadikanlah dakwah pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mengesakan Allah.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)

Jelas sekali bahwa dakwah tauhid merupakan hal yang pokok dan fundamental yang menjadi prioritas dalam dakwah Islamiyah ini. Berupaya semaksimal mungkin dalam menyampaikan dakwah untuk mengesakan Allah adalah yang utama untuk kita lakukan. Tetapi jangan lupa, selain menetapkan inti dakwah prioritas (tauhid), kita pun diajarkan untuk menetapkan prioritas para mad’uw (orang yang didakwahi) yang notabene menjadi kewajiban kita yang paling utama karena tanggung jawab atas dakwah ini akan dipertanyakan di hari kiamat kelak.

Prioritas mad’uw

Lalu, siapakah orang yang paling utama untuk kita dakwahi?

Allah Taa’la berfirman,

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Pada kalimat  قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ terdapat mashdar al-wiqayah yang secara bahasa adalah penjagaan dari rasa sakit.[3] Sebagaimana terjemahan dari ayat ini, kita diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari rasa sakit panasnya api neraka.

Maka, dakwah terhadap diri sendiri dan keluarga adalah prioritas mad’uw yang harus kita ketahui. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya mengatakan,

“Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim: 6). Yakni amalkanlah ketaatan kepada Allah dan hindarilah perbuatan-perbuatan durhaka kepada Allah, serta perintahkanlah kepada keluargamu untuk berzikir, niscaya Allah akan menyelamatkan kamu dari api neraka.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Yaitu bertakwalah kamu kepada Allah dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah.”

Bentuk dakwah

Intisari dari penjelasan Tafsir Ibnu Katsir di atas adalah bentuk wiqayah yang harus kita lakukan bagi diri dan keluarga dari siksa api neraka. Wiqayah tersebut dilakukan dengan mengajak mereka untuk senantiasa melakukan zikir. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah zikir dalam makna yang luas, berupa salat, doa, dan zikir dengan mengingat Allah setiap waktu. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

“Maka, apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah fardu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 102)

Selain itu, mengingatkan diri sendiri dan keluarga untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala juga menjadi bagian dari wiqayah tersebut sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

اتَّقِ اللهَ حيثُما كنتَ ، وأتبِعِ السَّيِّئةَ الحسَنةَ تَمْحُهَا ، وخالِقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسنٍ

”Bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di mana pun engkau berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (kejelekan). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.” (HR. Tirmidzi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)

Buah manis

Inilah dakwah prioritas yang paling efektif, yaitu dakwah tauhid kepada diri dan keluarga. Karena, bayangkan jika saja semua muslim memahami dakwah prioritas ini, insyaAllah misi dakwah tauhid (yang menjadi pokok agama mulia ini) akan lebih mudah terlaksana yang kemudian akan melahirkan generasi terbaik umat ini sehingga cita-cita untuk menikmati negeri yang diberkahi oleh Allah Ta’ala dapat kita peroleh, insyaAllah.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Negeri ini akan diberkahi tentu saja karena dipimpin oleh orang-orang saleh yang lahir dari hasil pendidikan dan dakwah islamiyah yang prioritas dan fundamental, yaitu tauhid yang darinya keimanan dan ketakwaan dapat tumbuh subur sebagaimana Allah Ta’ala menjanjikan hal ini dalam firman-Nya,

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)

Wallahu Ta’ala a’lam

***

Penulis: Fauzan Hidayat

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/81778-buah-manis-dakwah-prioritas.html

22 Faedah Sedekah

ADA banyak faedah sedekah. Apa saja?

Sebagaimana firman Allah, “… Wahai Tuhanku, alangkah baiknya Engkau lambatkan kedatangan ajalku sedikit waktu lagi, supaya aku dapat bersedekah,” (Surah al Munafiqun : 10). Sedangkan dia tidak berkata, “Supaya aku dapat mengerjakan umrah” atau “Supaya aku dapat shalat ” atau “supaya aku dapat berpuasa”?

Seorang ulama berkata, “Tidaklah seseorang yang telah mati itu menyebut untuk bersedekah melainkan karena kehebatan pahala yang telah dilihatnya selepas kematiannya.”

Maka hendaklah kamu perbanyak sedekah karena sesungguhnya seorang mu’min akan berada di bawah teduh pahala sedekahnya pada hari kiamat nanti.

Bersedekahlah untuk saudaramu yang telah meninggal dunia karena sesungguhnya mereka amat berharap untuk kembali ke dunia untuk bersedekah dan melakukan amalan soleh.

Oleh karena itu realisasikanlah harapan mereka. Dan latihlah anak-anak kita supaya membiasakan diri dengan bersedekah.

Bersedekahlah. Sesungguhnya Allah memberi ganjaran kepada orang yang bersedekah.

Adakah Anda pernah membaca tentang faedah sedekah?

1. Faedah Sedekah: Amalan sedekah itu adalah salah satu pintu dari pintu-pintu syurga.

2. Sedekah adalah sebaik-baik amalan soleh dan sebaik-baik sedekah ialah memberi makan.

3. Pahala sedekah akan menaungi pemiliknya pada hari kiamat dan melepaskannya dari azab neraka.

4. Faedah Sedekah:  Sedekah dapat memadamkan kemurkaan Allah dan panasnya kubur.

5. Sedekah adalah sebaik-baik hadiah buat si mati, yang paling bermanfaat untuknya di kuburan dan yang ditambah oleh Allah akan rezeki (karena bersedekah).

6. Sedekah adalah satu penyucian harta dan jiwa dapat menggandakan kebaikan.

7. Sedekah adalah puncak kegembiraan si pemberi dan puncak wajahnya bercahaya di hari kiamat.

8. Faedah Sedekah: Sedekah menjadi pengaman dari ketakutan pada hari huru hara besar dan hari yang tiada kesedihan karena hilangnya sesuatu darinya (hari kiamat).

9. Sedekah menjadi puncak keampunan terhadap dosa dan penghapusan dari kejahatan.

10. Sebagai pembawa berita gembira tentang akhir yang baik dan puncak doa malaikat buatnya.

11. Orang yang bersedekah adalah orang yang terbaik di kalangan manusia.

12. Faedah Sedekah: Pahala sedekah juga adalah untuk semua yang berkongsi tentang sedekah itu (bukan hanya untuk si pemberi).

13. Pemberi sedekah dijanjikan kebaikan yang banyak dan pahala yang besar.

14. Orang yang suka berinfaq adalah salah satu sifat orang yang bertaqwa.

15. Dan sedekah menjadi puncak lahirnya kasih sayang hamba Allah kepada si pemberi.

16. Faedah Sedekah: Sedekah tanda dermawan dan salah satu tanda kemuliaan dan kemurahan hati.

17. Bersedekah memustajabkan doa dan memecahkan segala kesulitan.

18. Bersedekah menolak bala dan menutup 70 kejahatan di dunia.

19. Sedekah memanjangkan umur, menambah rezeki, menjadi puncak rezeki dan kemenangan.

20. Faedah Sedekah:  Sedekah menjadi obat, penawar dan penyembuh.

21. Sedekah menghalang kebakaran, tenggelam akibat banjir dan kecurian.

22. Pahala sedekah adalah tetap (tidak berbeda-beda) walaupun diberikan kepada hewan ternak atau burung-burung. []

Sumber: Kitab Ziarah ke Alam Barzakh (Al Imam Jalaluddin As-Suyuti)
Artikel ini beredar viral di media sosial dan blog. Kami kesulitan menyertakan sumber pertama.

ISLAMPOS

Tidur Tengkurap, Cara Berbaring yang Dibenci Allah SWT

SEBELUM tidur kita pasti akan mencari posisi yang nyaman dengan kondisi kita. Tapi, tahukah Anda bahwa tidak semua posisi tidur itu baik? Salah satunya adalah tidur tengkurap. Bahkan posisi tidur ini dibenci oleh Allah.

Dari Ya’isy bin Thokhfah Al Ghifariy, dari bapaknya, ia berkata,

“Ketika itu aku sedang berbaring tengkurap di masjid karena begadang dan itu terjadi di waktu sahur. Lalu tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Ia pun berkata, “Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci oleh Allah.” Kemudian aku pandang orang tersebut, ternyata ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” (HR. Abu Daud no. 5040 dan Ibnu Majah no. 3723. Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Tidur Tengkurap,

Juga hadits lainnya, Dari Ibnu Tikhfah Al Ghifari, dari Abu Dzarr, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kaki beliau. Beliau pun bersabda, “Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka,” (HR. Ibnu Majah no. 3724. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam kitab Nuzhatul Muttaqin (hal. 339), Syaikh Musthofa Al Bugho, dkk berkata bahwa tidur sambil tengkurap itu terlarang.

Tidur Tengkurap,

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak pantas seseorang tidur tengkurap lebih-lebih lagi dilakukan di tempat yang terbuka. Karena jika orang banyak melihat tidur semacam itu, mereka tidak suka. Namun jika seseorang dalam keadaan sakit perut, dengan tidur seperti itu membuat teredam sakitnya, maka seperti itu tidaklah mengapa karena dilakukan dalam keadaan butuh,” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 343).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ditanya, “Ada yang mengatakan bahwa tidur tengkurap itu diharamkan, apakah benar? Jika benar, apa yang mesti kulakukan karena aku tidak bisa tidur pulas melainkan dengan cara tidur sambil tengkurap. Tidur seperti itu lebih menyenangkan bagiku.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa beliau melihat sebagian sahabatnya tidur tengkurap lantas beliau menggerak-gerakkan dengan kakinya, lantas beliau bersabda, “Ini adalah seperti berbaring yang Allah murkai.”

Tidur Tengkurap,

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “Tidur seperti itu adalah berbaringnya penduduk neraka.” Berbaring seperti itu jelas terlarang sehingga sepantasnya ditinggalkan kecuali dalam keadaan darurat seperti karena sakit perut.

Adapun jika bukan darurat, maka baiknya ditinggalkan. Minimal tidur seperti itu dihukumi terlarang (makruh) karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa tidur tersebut dimurkai oleh Allah. Namun kalau kita lihat secara tekstual hadits, tidur dalam keadaan tengkurap diharamkan.

Oleh karenanya, mukmin laki-laki maupun perempuan hendaklah meninggalkan bentuk tidur semacam itu kecuali dalam keadaan darurat yang sulit dihindari,”(Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz). []

SUMBER: RUMAYSHO / ISLAMPOS

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 261-265: Berinfak di Jalan Allah

Pada Perang Tabuk, Sahabat Ustman menginfakkan hartanya untuk keperluan kaum muslimin, lalu turunlah Surat al-Baqarah 258-260 tentang berinfak di jalan Allah atau Fi Sabilillah

KITA sering mendengar ajakan para khatib tentang berinfak di jalan Allah atau Fi Sabilillah. Apa maksud istilah ini?

Dalam Surat Al-Baqarah 261 masalah ini diulas secara khusus. Begini teksnya;

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS: Al-Baqarah [2]: 261)

Sebab turunnya ayat

Ayat ini turun berkaitan dengan diri Ustman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhuma, maka suatu ketika Abdurrahman bin Auf  datang kepada Rasulullah ﷺ sambil membawa uang sebanyak empat ribu dirham untuk ia sedekahkan. Ia berkata, “Saya memiliki uang sebanyak delapan ribu dirham, empat ribu dirham saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan saya dan keluarga sedangkan yang empat ribu dirham lagi saya sedekahkan karena Allah Subhnahu wa Ta’ala.” Lalu Rasulullah berkata, “ Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala  memberkahi untukmu uang yang kamu pergunaan sendiri dan uang yang kamu sedekahkan.”

Adapun kisah Ustman bin Affan Radhiyallahu Anhu adalah bahwa pada perang Tabuk  ia berkata, “Saya yang menanggung segala keperluan dan bekal bagi orang orang yang tidak memiliki bekal pada perang tabuk.” Lalu ia mempersiapkan seribu unta lengkap dengan tempat menaruh barang dan alas pelana. Ia juga menyedekahkan sumur rumah yang menjadi miliknya untuk keperluan seluruh kaum muslimin lalu turunlah ayat ini yang berkaitan dengan Abdurrahman bin Auf dan Ustman bin Affan Radhiyallahu anhuma .

Makna Sabilillah

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”  (Qs. al-Baqarah [ 2 ] : 261)

1). Dalam ayat ini Allah memberikan permisalan orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, ada setiap tangkai terdapat seratus biji. Permisalan ini penting untuk mendekatkan pemahaman masyarakat. Banyak hal yang  tidak mudah tergambar kecuali melalui permisalan , salah satunya yaitu pahala bagi orang yang  menginfakkan hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2). Pada ayat ini bersifat umum, yaitu berinfak pada amal amal yang di ridhai Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi  Muhammad ﷺ. Seperti berinfak untuk jihad fii sabilillah melawan orang orang kafir, membangun masjid, pesantren, jembatan, membantu fakir miskin, anak yatim, memberikan beasiswa bagi para pelajar, membantu kerabat, tetangga dan lain lain.

Imam Mal-hul mengartikan, “Fii Sabilllah artinya dalam rangka menta’ati Allah.”

700 kali lipat

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki….”

Berkata Ibnu Katsir, “perumapamaan ini lebih menyentuh jiwa daripada penyebutan bidangan 700 kali lipat, karena perumpamaan tersebut mengandung isyarat bahwa pahala amal shaleh itu dikembangkan oleh Allah bagi para pelakunya, senagaimana tumbuh-tumbuhan yang tumbuh subur bagi orang yang menanamkan di tanah yang subur.”

2). Di dalam hadist Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة بعشر أمثالها الى سبعمائة ضعف قال الله

“Setiap amal perbuatan anak Adam akan dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus lipat atau bahkan lebih sesuai kehendak Allah.”  (HR: Muslim )

3) وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

“yaitu sesuai dengan keikhlasan seseorang dalam beramal.”

Al-Manna wal Adza

Pada ayat ini (QS. al-Baqarah [2]: 262), Allah menjelaskan bahwa orang yang berinfak dan mendapatkan pahala hingga 700 kali lipat adalah untuk mereka yang  tidak melakukan manna (menyebut-nyebutnya) dan tidak pula  adza (menyakiti perasaan penerima) karena keduanya bisa menghapu pahala infak.

Berinfak seharusnya diniatkan karena Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya,

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”(QS: al-Insan [76] : 9)

Artinya seseorang yang menyebut-nyebut kebaikannya kepada orang  yang diberikan sedekah kepadanya dan menampakkan bahwa ia lebih tinggi darinya. Di dalam al-Quran disebutkan,

عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللّٰهِ يُفَجِّرُوْنَهَا تَفْجِيْرًا

“(yaitu) mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya.”  (QS: al-Mudatsir [74] : 6).

Di dalam hadist lain disebutkan,

ثلاثة لا ينظر الله اليهم يوم القيا مة : العاق لوالديه ومدمن الخمر والمنا بما أعطى

“Ada tiga orang yang pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka, orang yang durhaka kepada kedua orang tua, pecandu khamr dan orang yang suka menyebut nyebut apa yang sudah di berikan.” (HR: Nasai)

Perkataan yang baik

قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.” (Qs. al-Baqarah [2] : 263).

 (قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ) artinya perkataan yang baik ini mencakup ucapan yang baik dan penolakkan yang halus serta doa dan harapan kepada Allah untuk orang yang meminta. Ini lebih baik daripada bersedekah tetapi diikuti kata-kata kasar yang menyakitkan penerima sedekah.

Di dalam hadist disebutkan,

(عن أبي ذرّ قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسمِ-: لا تحتقرنّ من المعروف شيئاً ولو أن تلقى أخاك بوجه طليق) أخرجه مسلم والترمذي

“Kata-kata yang hak adalah sedekah dan salah satu bentuk kebaikan adalah engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Di dalam beberapa riwayat hadist disebutkan bahwa malaikat kadang menyamar menjadi orang yang buta, atau orang yang lumpuh atau orang yang botak datang meminta minta untuk menguji orang yang diberikan Allah kepadanya rezeki. Oleh karena itu bersikap lembutlah kepada mereka dengan kata kata yang baik.

(وَّمَغْفِرَةٌ) artinya memafkan orang yang meminta-minta jika ada sikapnya yang kurang sopan atau terkesan memaksakan kehendak.

Pembatal sedekah

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”  (QS:al-Baqarah [2] : 264 )

Ayat di atas menunjukkan bahwa sedekah yang diikuti dengan tindakan menyebut nyebut kebaikannya kepada orang yang diberikan kepadanya sedekah (al-Mannu) dan ucapan yang menyakitinya (al-Adza) akan menyebabkan tidak diterima oleh Allah alias batal.

Jika ada tiga sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang, yang dua di niatkan ikhlas karena Allah tanpa diikuti al-Manna dan al-Adza dan satu sedekah diikuti dengan al-manna dan al-adza, maka yang diterima Allah adalah dua sedekah, sedangkan yang ditolak oleh Allah adalah satu sedekah yang di dalamnya terdapat al-manna dan al-adza.

Para ahli hikmah berkata,

من من بمعروفه سقط شكره ومن اعجب بعمله حبط أجره

“Barang siapa yang menyebut-nyebut kebaikannya hilanglah syukurnya. Brang siapa yang ujub  (bangga) dengan amalnya, maka hilanglah pahalanya.”

Berdasarkan ayat di atas, Imam Malik tidak menganjurkan seseorang memberikan zakatnya atau sedekah wajibnya kepada kerabatnya sendiri. hal itu untuk menghindari munculnya dalam dirinya sikap (al-mannu) dan (al-adza) mengungkit –ngungkit kebaikannya kepada mereka.

Dan juga meghindari agar dia tidak mengaharap pujian dan sanjungan dari mereka.  Selain itu di khawatirkan jika ini terjadi, maka zakat atau sedekah wajibnya tidak diterima oleh Allah seakan akan ia tidak melakukan kewajibannya.

Dianjurkan juga dalam membagi zakat atau sedekah wajibnya melalui lembaga zakat atau orng lain untuk menghindari adanya al-mannu dan al-adza dari dirinya.

Permisalan orang yang berinfak disertai al-mannu dan al-adza seperti orang yang berinfak dengan tujuan agar dilihat orang  (riya’) dan orang yang berinfak tapi ia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Semunya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk lebih jelasnya lagi, Allah memberikan permisalan bagi 3 golongan dalam berinfak, yaitu, orang yang berinfak di barengi al-mannu dan al-adza, orang yang berinfak karena riya, dan orang yang berinfak padahal ia kafir. Infak golongan di atas bagaikan batu besar yang licin (sofwan) di atasnya terdapat debu kemudin diguyur hujan lebat (wabil), maka debu itu hilang seketika dan tidak ada belasnya sama sekali. Batu tersebut menjadi licin tidak ada sesuatu apapun di atasnya (shalda).

Adapun maksud dari permisalan di atas bahwa infak dari 3 golongan yang disebut di atas, tidaklah membawa manfaat apa-apa di akhirat. Apa yang mereka lakukan itu tidak mampu mereka petik pahalanya di akhirat kelak.*/Dr Ahmad Zain an-Najah, Pusat Kajian Fiqih Indonesia (PUSKAFI)

HIDAYATULLAH

Doa Masuk Pasar dan Artinya

Islam agama yang syamil mutakamil. Ajarannya sempurna dan menyeluruh meliputi segala bidang. Maka, setiap aktivitas ada tuntunan adab dan doanya. Termasuk saat bermuamalah di pasar. Nah, tulisan ini menyajikan doa masuk pasar dan artinya.

Manusia adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan manusia lain untuk mencukupi kebutuhannya. Juga untuk berinteraksi sehingga lebih bahagia dalam hidup ini. Pasar merupakan tempat manusia melakukan transaksi jual beli. Ada pedagang yang menyediakan produk, dan ada pembeli yang membutuhkan produk-produk tersebut.

Pasar di sini tidak terbatas hanya pasar tradisional. Termasuk juga pasar swalayan, minimarket, dan supermarket. Agar berkah dan terhindar dari fitnah, baca doa masuk pasar ketika memasukinya. Berikut ini doanya, lengkap dengan tulisan Arab, tulisan Latin, dan arti.

Doa Masuk Pasar

Berikut ini tulisan Arab dan tulisan latin doa masuk pasar:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكُ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

(Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah. Lahul mulku walahul hamdu. Yuhyii wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuut. Biyadihil khoir wahuwa ‘alaa kulli syai-in qodiir)

Artinya:
Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang mempunyai kerajaan dan segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup yang tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Keterangan:
Doa ini bersumber dari hadits hasan lighairihi riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah.

Keutamaan Doa Masuk Pasar

Dalam hadits yang lengkap, terdapat keutamaan doa tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكُ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

Barang siapa masuk pasar lalu membaca doa (yang artinya) “Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang mempunyai kerajaan dan segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup yang tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” niscaya  ditulis untuknya beribu-ribu kebaikan, dihapuskan darinya beribu-ribu keburukan, dan diangkat baginya beribu-ribu derajat.

Jadi, keutamaan doa ini sangat luar biasa. Yakni orang yang membacanya akan mendapat beribu kebaikan, terhapus darinya beribu keburukan, dan derajatnya naik beribu derajat.

Kumpulan Doa Lainnya

Doa masuk pasar ini menjadi bukti bahwa Islam itu syamil mutakamil. Jika dalam perkara ringan seperti masuk pasar saja ada tuntunannya, apalagi hal-hal yang lebih strategis dan krusial. Semua ada panduannya.

Semoga kita bisa mengamalkannya. Untuk doa-doa lainnya, silakan baca di Kumpulan Doa. [Nuruddin Faqih/BersamaDakwah]

Pengaruh Makanan Haram pada Doa

ADA banyak pengaruh makanan haram pada doa yang kita panjatkan pada Allah SWT.

Sebagai seorang makhluk, tentu kita membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Dia juga yang memberikan kita kehidupan kepada kita. Maka, ketika kita membutuhkan sesuatu, berdoa kepada-Nya adalah solusi terbaik.

Hanya saja, setiap doa yang dipanjatkan terkadang tak pernah dipenuhi. Mengapa bisa terjadi? Ada berbagai macam faktor yang bisa menghambat doa itu dikabulkan. Salah satunya dari makanan. Memang ada apa dengan makanan?

Pengaruh Makanan Haram pada Doa, Disebutkan dalam Hadist

Cobalah periksa makanan yang Anda konsumsi. Apakah makanan itu halal ataukah haram, diperoleh dari hasil yang halal ataukah haram? Sebab, makanan yang haram akan mempengaruhi doa.

Hal ini tertuang dalam hadis Rasulullah ﷺ. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’

Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu’.”

Pengaruh Makanan Haram pada Doa, Kisah dari Nabi

Kemudian Nabi ﷺ menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu.

Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim [1686]).

Pengaruh Makanan Haram pada Doa, Periksa Dahulu

Oleh karena itu, apabila kita hendak mengonsumsi sesuatu makanan atau minuman hendaknya terlebih dahulu mengetahui dari mana kedua hal tersebut berasal.

Jangan sampai kita memakan makanan yang haram. Sebab dapat berpengaruh terhadap terkabulnya doa yang kita panjatkan kepada Allah. []

ISLAMPOS

Meningkatkan Kualitas Diri

Untuk meningkatkan kualitas diri, sabda Rasulullah SAW berikut patut disimak. ”Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, celaka. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, rugi. Jika hari ini lebih baik dari kemarin, beruntung.”

Orang beriman hendaklah terus meningkatkan kualitas dan kapasitas dirinya. Peningkatan harus berjalan hari demi hari. Kondisi hari ini tidak boleh sama, apalagi lebih buruk dari kemarin. Setiap hari ada penambahan nilai dan tidak boleh diam, apalagi mundur.

Anggap saja kita menambah nilai satu poin setiap harinya. Artinya, kita akan mempunyai nilai peningkatan sejumlah 360 setiap tahunnya. Jika kita memiliki waktu 30 tahun, berarti kita dapat mengumpulkan 10.800 poin peningkatan.

Itu kalau peningkatannya satu poin per hari. Bagaimana jika dua poin per hari, maka akan terkumpul 21.600 poin. Bagaimana jika tiga poin, empat poin, 10 poin per hari? Luar biasa.

Itulah Islam, mengajarkan manusia agar tidak berhenti meningkatkan kualitas dirinya. Ada beberapa peningkatan utama yang harus dicapai oleh setiap Muslim.

Yang pertama adalah peningkatan keimanan. Setiap hari iman harus bertambah baik, kuat, dan makin sempurna. Hingga Muslim dapat menikmati manisnya iman, bukan karena kondisi dan keterpaksaan.

Kedua, peningkatan kualitas ibadah. Hari demi hari harus makin sesuai dengan sunah Nabi dan makin bermakna, tambah khusyuk hingga berbuah ketakwaan.

Ketiga, peningkatan akhlak. Setiap saat harus lebih baik dan sempurna. ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Imam Malik).

Keempat, peningkatan ilmu. Seiring perjalanan waktu, ilmu yang dikuasai bertambah banyak, luas, dan harus bermanfaat bagi sesama serta bermuara pada sikap arif dan bijak.

Kelima, peningkatan kesehatan. Keenam, peningkatan kekayaan. Khusus mengenai karunia kekayaan, rumus yang berlaku adalah firman Allah SWT, ”Laa in syakartum la azidannakum.”

Artinya akan ada tambahan karunia jika seseorang bersyukur, dan salah satu bentuk karunia adalah harta. Jika karunia tidak bertambah, jangan-jangan karena kita kurang bersyukur.

Ketujuh, peningkatan pengaruh. Tentang peningkatan pengaruh dan kekuasaan, rumusnya sesuai firman Allah SWT, ”Allahlayastakhlifannakum.” Jika beriman dan bertakwa, Allah SWT akan menguasakan bumi ini kepada kalian (kaum Muslim). Jika tidak ada pelimpahan kekuasaan dari Allah SWT, berarti ada yang perlu dikoreksi, salah satunya iman dan takwa kita.

Oleh: Muchsinin Fauzi