Menyegerakan Amal

Kebanyakan manusia memang cukup longgar dalam menggunakan waktu

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menukil ungkapan Al-Mandzir, “Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya, ‘Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu. Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu.’ Sehingga, ia mengulangi yang demikian itu sampai 60 kali yang aku dengarnya dan ia tidak melihatku.”

Tindakan Malik bin Dinar tentu didorong oleh pemahaman yang kuat terhadap perintah Allah Ta’ala agar bersegera dalam beramal (QS Ali Imran: 133-134 dan QS al-Hadid: 21). Kata “segera” berarti tidak bisa dipisahkan dari waktu.

Ibn Al-Jauzi dalam bukunya Shaid Al-Khatir mengatakan, “Seorang manusia mesti mengetahui nilai dan kedudukan waktu agar ia tak menyia-nyiakan sesaat pun darinya untuk sesuatu yang tak bisa mendekatkan diri kepada Allah.”

Pemahaman mendalam terhadap nilai dan kedudukan waktu menjadikan ulama terdahulu amat selektif dalam memanfaatkan nikmat yang menurut Rasulullah kebanyakan manusia tertipu, yakni waktu. Fudhail bin Iyadh berkata, “Aku kenal orang yang menghitung perkataannya dari minggu ke minggu.”

Kemudian ada Dawud al-Tha’i, meski sedang membuat adonan roti, lisannya tak pernah kering dari ayat-ayat Alquran. “Antara membuat adonan dan makan roti aku telah berhasil membaca 50 ayat.”

Suatu hari seseorang berkata kepada Amir bin Abd Qais (55 H), murid dari Abu Musa al-Asy’ari, “Berhentilah, aku ingin berbicara kepada Anda!” Amir bin Abd Qais pun menjawab, “Coba hentikan matahari.”

Sikap Amir bin Abd Qais itu menunjukkan bahwa dirinya telah menetapkan beragam amal di setiap pergantian waktu sehingga menjadi tidak mungkin dirinya meluangkan waktu kepada orang yang secara tiba-tiba memintanya untuk berhenti tanpa niat dan tujuan yang jelas.

Kebanyakan manusia memang cukup longgar dalam menggunakan waktu, terutama pada malam hari. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan mengobrol yang kurang, bahkan tidak berguna sehingga tidur sangat larut yang menjadikan sebagian waktu siang habis untuk tidur atau berfoya-foya di keramaian. Dirinya seakan lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja.

Seorang pemuda yang gagah dan memiliki warisan harta melimpah tetapi tidak pernah bersegera dalam amal saleh justru tenggelam dalam beragam jenis kemaksiatan dan terus asyik menunda-nunda tobat. Sangat mungkin mengalami kebinasaan bersebab ajal yang datang tiba-tiba.

Oleh karena itu, Islam mengutuk kebiasaan menunda-nunda suatu pekerjaan ataupun menghafal, mempelajari, memahami dan menguasai ilmu. Sebab, waktu akan habis bila ditunda-tunda dan tidak ada lagi cita-cita, kecuali tinggal cerita. Benarlah pepatah Arab yang mengatakan, “Waktu itu bagaikan pedang, jika kau tak memanfaatkannya, ia akan menebasmu.”

Lantas, jenis amal yang mana yang mesti disegerakan? Mengacu pada ayat 134 surah Ali Imran, amalan tersebut meliputi: menafkahkan harta baik dalam kondisi lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang.

Dalam soal menafkahkan harta di jalan Allah, Sayyidah Aisyah RA sangat patut kita teladani. Suatu waktu Ibn Zubari memberikan uang sebesar 100 ribu dirham. Aisyah menerima uang itu dan langsung membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Sampai-sampai, Ummu Dzarrah berkata, “Wahai Ummul Mukminin, tidak bisakah engkau membelikan kami sepotong daging satu dirham saja?”

Aisyah menjawab, “Jangan keras-keras kepadaku. Andai engkau mengingatkan aku, niscaya aku akan membelinya.” Aisyah RA benar-benar tidak mau ketinggalan momentum sehingga jika ada kesempatan bersedekah, hal itu akan dilakukan tidak saja dengan bersegera, tetapi juga seluruhnya disedekahkan.

Karena itu, terhadap amal saleh bersegeralah. Pesan Nabi, “Ambillah kesempatan lima sebelum lima, yaitu mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, kekosonganmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu” (HR Ibn Abi al-Dunya). Insya Allah surga seluas langit dan bumi sedang berhias menanti penuh cinta kehadiran kita. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Imam Nawawi

Kakek Renta Miskin yang Sembunyikan Sedekahnya

ADA seorang kakek tua yang dikenal sangat miskin. Ia tinggal di kota Yaman di dalam gubuk tua yang telah reyot. Meski demikian, ia tidak pernah terlihat kelaparan dan selalu segar. Ia pun tidak pernah meminta-minta dan bahkan menolak jika ada seseorang yang ingin memberinya sedekah. Alasannya karena ia masih sanggup bekerja dan memperoleh upah dari pekerjaannya.

Pemimpin kota Yaman dibuat penasaran setelah mendengar berita tentang kakek tersebut. Ia berencana mengintai rumah sang kakek dan mencari tahu kebenaran bahwa kakek tersebut benar-benar tidak kelaparan. Sang pemimpin merasa cemas barangkali sebenarnya si kakek menyembunyikan laparnya karena malu. Untuk melancarkan rencananya ia memutuskan untuk melakukan penyamaran dan mendatangi rumah sang kakek. Ia berubah menjadi pengemis dan akan meminta-minta kepada kakek yang dikenal miskin tersebut.

“Aku sedang kelaparan, karena sudah tiga hari tidak makan. Tolong aku,” ujarnya di hadapan sang kakek saat membukakan pintu.

Wajah kakek tersebut tampak iba dan menuntun si pengemis masuk ke dalam rumah.

“Aku memiliki sekerat roti dan segelas susu untukmu,” kata sang kakek kepada si pengemis.

Pengemis yang tentu saja sebenarnya adalah pemimpin kota mengamati seisi rumah sang kakek. Di sana ia menemukan banyak sekali kerajinan indah. “Untuk apa kerajinan-kerajinan ini?”

“Itu adalah kerajinan buatanku. Aku menjualnya saat siang hari,” ujar sang kakek.

“Apakah hasil penjualannya cukup untuk menghidupi dirimu sendiri?”

“Alhamdulillah, sejauh ini cukup.”

“Tapi mengapa kau tinggal di gubuk reyot seperti ini? Kau pun hanya memiliki sekerat roti dan segelas susu.”

“Bagiku gubuk ini sudah cukup untuk aku tinggal sendiri, nyaman dalam beribadah, dan kebutuhan perutku tidak perlu berlebihan.” Sang kakek tersenyum.

“Lalu, ke mana sisa uangmu?”

“Kukira kau tidak perlu mengetahuinya,” jawab kakek kembali tersenyum.

Akhirnya pemimpin Yaman tersebut tahu bahwa ternyata sang kakek adalah pengrajin yang berbakat. Namun, ia selalu menutupi wajahnya ketika menjual kerajinan-kerajinan miliknya, sehingga orang-orang tidak mengenalinya. Tanpa sepengetahuan ia pun selalu membelanjakan pendapatannya untuk kaum miskin. Bagi sang kakek, mengenyangkan perut dengan sekerat roti dan segelas susu sudahlah cukup.

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memerikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]: 271) [An Nisaa Gettar]

 

 

Renungkan dan Buktikan! Inilah Manfaat Bersedekah

SUNGGUH manfaat bersedekah akan dirasakan langsung bagi siapapun yang telah melakuan ikhlas dan mempercayaikan amalan ini. Ada banyak kisah sedekah di sekitar kita yang dapat diambil sebagai pelajaran. Seperti dua kisah sedekah dalam al-Targhib wa al-Tarhib oleh Imam al-Mundziri berikut ini:

1. Diriwayatkan dari Baihaqi dari Ali ibn Syaqiq dari Ibn al-Mubarak bahwa ia ditanya seorang laki-laki, “Wahai Abu Abdurrahman, ada nanah yang selalu keluar dari luka pada lututku sejak tujuh tahun yang silam. Aku telah berusaha mengobatinya dengan berbagai macam obat. Aku telah bertanya kepada para dokter, tetapi aku belum mendapatkan terapi atau obat yang dapat menyembuhkannya.”

Ibn al-Mubarak berkata, “Pergilah dan carilah sebuah tempat yang penduduknya benar-benar membutuhkan air. Kemudian galilah sumur di sana. Aku berdoa mudah-mudahan di sana kau mendapatkan mata air. Kemudian, basuhlah lukamu yang bernanah itu dengan air dari sumur yang kau gali.”

Kemudian, laki-laki itu mengerjakan nasihat Ibn al-Mubarak dan diceritakan bahwa luka di kakinya sembuh dan tidak ada lagi nanah yang keluar. Kesembuhannya itu merupakan berkah dan balasan kebaikan untuk orang itu karena telah memberikan sedekah berupa sumur air yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

2. Diriwayatkan pula dari al-Baihaqi sebuah kisah tentang seorang tua bernama al-Hakim ibn Abdillah. Diwajahnya ada luka yang membusuk dan ia telah mencoba mengobatinya dengan berbagai macam obat. Tetapi, lukanya itu tak kunjung sembuh hingga akhirnya ia menemui Imam Abu Utsman al-Shabuni dan memintanya mendoakan kesembuhannya kepada Allah di majelisnya pada hari Jumat. Abu Utsman memenuhi permintaan itu. Ia berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dan jemaah Jumat yang hadir saat itu mengamini permohonannya.

Pada Jumat berikutnya, seorang perempuan yang biasa menghadiri majelis itu mendapat ilham agar ia pulang ke rumah dan mendoakan kesembuhan bagi al-Hakim pada malam itu. Setelah berdoa, ia tidur dan dalam tidurnya mimpi bertemu Rasulullah saw yang berkata padanya, “Katakanlah kepada Abu Abdillah agar menyediakan air untuk kaum muslim.”

Keesokan paginya, wanita itu menemui al-Hakim dan menceritakan mimpinya. Maka, al-Hakim memerintahkan orangnya untuk membangun sumur yang le bih luas di dekat rumahnya demi kepentingan umat.

Usai membangun sumur itu, ia meminta orang-orang untuk mengalirkan airnya seraya melemparkan sebongkah es kedalamnya. Orang-orang pun mulai memanfaatkan sumur itu untuk keperluan mereka.

Selang seminggu, luka di wajah al-Hakim mulai membaik hingga akhirnya luka bernanah itu sepenuhnya sembuh dan wajahnya kembali sediakala, bahkan lebih baik lagi. Ia masih hidup beberapa tahun setelah peristiwa itu. [Chairunnisa Dhiee]

INILAH MOZAIK

Raih Harta Berkah dan Melimpah dengan Bersedekah

Mungkin masih ada di antara kita yang ragu atau enggan bersedekah lantaran takut hartanya berkurang dan menipis. Kita lebih memilih menabung dan berinvestasi emas, tanah, dan lain sebagainya, dengan harapan hartanya akan aman, bertambah, kekal, dan menjamin masa depannya.

Kita lupa bahwasanya di dalam harta kekayaan kita itu ada andil orang lain. Di balik untung besar pabrik sepatu milik kita, ada buruh-buruh yang banting tulang pagi, siang, malam. Perusahaan kontruksi milik kita bisa berhasil membangun jembatan layang dengan tempo cepat karena berkat otot kuli-kuli. Nasi dan ikan yang laris manis dijual di restoran kita adalah buah keringat dari para petani dan nelayan.

Jadi sangat wajar jika Allah subhanahu wata ‘ala menetapkan sebagian hasil yang kita peroleh untuk diberikan kepada orang lain. Wajar pula bila muncul kecemburuan sosial apabila kita tidak bersedekah kepada mereka. Lebih-lebih, uluran tangan yang tak datang itu dibarengi dengan unjuk kemewahan di depan mata mereka.

Agaknya kita perlu sadari kembali bahwa harta kekayaan yang kita miliki pada hakikatnya hanya titipan dari-Nya. Kikir dan menyombongkan sebuah titipan tentu merupakan laku yang amat tidak pantas lagi tercela. Kisah Qarun mengandung pelajaran yang sangat berharga untuk kita. Ia kaya raya, tapi sombong dan pelitnya minta ampun. Hidup pada zaman Nabi Musa, ia menyangka hartanya akan mengekalkannya dalam kesenangan. Harta kekayaannya ia gunakan dalam kesombongan, kesesatan, dan kezhaliman. Hingga akhirnya berujung pada kehinaan. Allah membenamkannya beserta harta dan rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada satu golongan pun yang dapat menolongnya dari adzab Allah. Na’udzubillah.

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya (menjadikannya kikir dan enggan menginfakkan harta di jalan Allah). Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS 104:1-3).

Sejatinya, bersedekah kepada kaum dhuafa itu membentang kebaikan dan memperbanyak sumber rezeki kita. Bila mereka dibiarkan dalam kemiskinan, terlantar dan tidak diberdayakan, maka kita telah menyumbat mata air rezeki. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kamu tidak ditolong dan tidak mendapat rezeki kecuali lantaran (perjuangan) golongan lemah di antara kamu.” (HR.Bukhari). “Pertolonganmu terhadap orang lemah adalah sedekah yang paling afdhal.” (HR. Ibnu Abid Dunya).

Bersedekah tak akan membuat kita “buntung”. Allah berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada serratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS 2:261). Demikian berkahnya sedekah. Setiap hari ada ratusan malaikat yang turun ke bumi mendoakan orang yang bersedekah. Bagi orang yang setiap hari berniat untuk berinfak, akan didoakan para malaikat yang ada di depan rumahnya dengan do’a, “Ya Allah berikanlah pengganti pada orang yang suka berinfak ini.” Sebaliknya, bagi orang yang tidak ada niat, bahkan cenderung kikir, ada pula malaikat yang mendoakan, “Ya Allah berikan pada orang yang tidak mau berinfak ini kehancuran pada hartanya.”

Karena itu di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita rajin-rajin bersedekah. Agar harta kita kian melimpah dan berkah.  Untuk menjadikan sedekah lebih berkembang dan diterima oleh kaum dhuafa, kita bisa menyalurkannya melalui lembaga terpercaya dan transparan dalam mengelola sedekah. Dompet Dhuafa adalah salah satu lembaga yang mengelola dana sedekah masyarakat dan menjadikannya program-program produktif dalam bidang Kesehatan, Pendidikan, Dakwah, Ekonomi, Sosial dan Kemanusiaan. Bersedekah tanpa rasa ragu dan insya Allah mengalir pahala kebaikan untuk kita semua.

HIDAYATULLH

Menjaga Niat dalam Beramal

ORANG yang ikhlas akan tetap bersungguh-sungguh dalam beramal, tidak terpengaruh apakah ia sedang sendirian ataukah sedang berada di keramaian.

Tetapi jikalau amal yang dilakukan secara terang-terangan itu dilandasi niat supaya orang lain mendapatkan hikmah, maka in syaa Allah akan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.

Sahabat yang baik, marilah kita terus melatih diri kita untuk peka membaca perubahan isi hati ketika beramal. Sehingga kita semakin terlatih untuk menjaga keikhlasan kita.

Setiap amal bergantung kepada niatnya. Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah SWT yang senantiasa ikhlas. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [*].

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Bersedekah tak Mengurangi Harta

PERNAH dikisahkan bahwa ada seorang yang kaya raya dan juga dermawan tinggal di kota Baghdad bernama Ayub. Karena sifatnya yang senang memberi, banyak pengemis mendatangi rumahnya setiap hari untuk meminta sedekah. Namun, suatu hari istrinya, Zainab, berpikir bahwa apa yang telah dilakukan suaminya telah memanjakan para pengemis tersebut.

“Zainab istriku, bersedekah tidak akan mengurangi harta kita.”

“Namun jika sedekah membuat mereka malas dan keenakan, bukankah tidak ada manfaatnya?”

Ayub pun memikirkan ucapan istrinya. Namun, ia masih memberikan sedekah kepada pengemis yang datang ke rumahnya. “Belilah makanan. Semoga perutmu kenyang.”

“Terima kasih, tuan. Semoga Allah membalas kebaikanmu,” ucap salah seorang pengemis.

Ayub masih melakukan sedekah di hari-hari berikutnya. Sampai kemudian ia pulang dari pasar dengan membawa begitu banyak barang dagangan. Saat matahari mulai bergerak kearah barat, para pengemis mulai berdatangan ke rumahnya. Kali ini, bukan sedekah seperti biasa yang ia berikan, melainkan sekotak barang dagangan.

“Kau bisa menjual barang dagangan ini, sehingga kau tidak lagi terus mengemis. Belajarlah berdagang dan tidak menggantungkan hidupmu dan keluargamu dari sedekah.” Ayub menjelaskan ketika seorang pengemis terheran dengan pemberian Ayub.

Pengemis itu pun terharu dan bersyukur. Sejak itu mereka berhenti mendatangi rumah Ayub, karena mereka telah memiliki sumber rezeki yang jauh lebih baik.

Fenomena pengemis yang suka meminta-minta masih dapat dengan mudah kita jumpai. Sesungguhnya kisah ini mengingatkan kita bahwa memberi sedekah berupa uang ibarat memberikan ikan kepada seseorang yang dapat membuatnya malas. Alih-alih membuat mereka tidak berusaha, berikan saja kail yang bisa membantu mereka mau berusaha untuk memperoleh sumber rezeki dengan jalan yang lebih mulia. [An Nisaa Gettar]

 

 

Menunda Amal Baik Penyakit Hati Sangat Tercela

TASWIF adalah menangguhkan amal baik sampai waktu yang diinginkan, padahal saat itu seseorang sudah mampu dan tidak ada halangan untuk melakukannya.

Sikap ini termasuk penyakit hati yang sangat tercela, apalagi jika yang ditangguhkannya itu amal-amal akhirat, seperti menangguhkan tobat sampai puas berbuat dosa, menangguhkan infak sampai kaya terlebih dahulu, menangguhkan salat sampai betul-betul tidak sibuk, menangguhkan menutup aurat sampai menjadi tua.

Sikap taswif mengakibatkan hal-hal berikut:
1. Meninggalkan amal ibadah. Karena, apa yang tersirat dalam hati itu sebenarnya tipuan setan untuk melemahkan kemauan seseorang, menghabiskan waktu, dan membuatnya lelah dengan kesibukan lain sehingga kekuatan untuk melaksanakan ibadah menjadi terkuras.

2. Tidak sungguh-sungguh dalam beribadah. Ibadah dianggapnya belum perlu dilakukan.
3. Pesimis dalam setiap pekerjaan.
4. Tertinggal oleh orang yang sudah berlomba dan bersegera meraih kesuksesan.

Allah dan Rasul-Nya membenci sikap ini. Artinya, kita mesti bersegera menjalankan kebaikan. Allah berfirman, “Bersegeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga.” (QS. Ali Imran, 133).

Rasulullah Saw bersabda, “Kamu harus mengambil keuntungan dari yang lima sebelum datang yang lima, yaitu (1) ambil keuntungan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) ambil keuntungan waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, (3) ambil keuntungan masa kayamu sebelum datang masa fakirmu, (4) ambil keuntungan waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan (5) ambil keuntungan dari hidupmu sebelum datang masa kematianmu.” (H.R.Hakim) [Uwes Al-Qorni, 60 Penyakit Hati]

Niscaya akan Bertambah

Sering kali kita terbelenggu oleh kerangka berpikir matematis ketika memaknai sesuatu. Seakan segala pekerjaan bisa diukur dengan rumus tambah, kurang, dan bagi.

Jika menerima sesuatu maka akan bertambah dan jika memberi maka akan berkurang, atau akan habis jika dibagikan. Padahal, pola pikir semacam ini tidak tepat dan akan memengaruhi sikap dan tindakan kita dalam berinteraksi dengan orang lain.

Dalam Kitab Riyadhush-Shalihin karya Imam Nawawi (631-676 H), menukil sebuah riwayat dari Abu Kafsyah Umar bin Sa’ad Al-Anmari RA yang pernah mendengar Nabi SAW bersabda, “Tiga perkara yang aku bersumpah atasnya dan aku sampaikan kepada kalian agar menjaganya dengan baik.Pertama, tidak akan berkurang harta karena sedekah.Kedua, seseorang yang dianiaya dan ia sabar, Allah akan membalasnya dengan kemuliaan. Ketiga, seseorang yang meminta- minta maka Allah akan membuka baginya pintu kemiskinan. ” (HR Turmudzi).

Hadis di atas memiliki pesan yang sangat tinggi nilainya bagi kita karena dikuatkan dengan sumpah. Pertama, bagi orang yang mengira bahwa sedekah akan mengurangi hartanya hingga ia enggan melakukan, justru akan bertambah-tambah.Alquran mengumpamakan harta yang diinfakkan seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai dan setiap tangkai berbuah seratus biji, bahkan berlipat ganda tak terkira (QS 2:216).

Ketika dalam kesempitan pun, kita masih tetap dianjurkan sedekah seadanya sebagai pembuka pintu rezeki (QS 65:7).Sungguh, tak perlu menunggu kaya baru sedekah, tetapi bersedekahlah niscaya akan tambah kaya.Seorang tak akan jatuh miskin atau bangkrut karena sedekahnya karena ia telah menebar kebaikan dan energi positif kepada banyak orang. Pada kemudian hari, kebaikannya pun akan berbalas kebaikan berlimpah (QS 55:60).

Kedua, bagi orang yang mengira bahwa kehormatannya akan hilang ketika dihina atau dizalimi, justru kemuliaannya akan bertambah.Orang bertakwa itu mudah memberi maaf, bahkan berbuat baik kepada orang yang bersalah (QS 3:134).Allah pun akan menambah kemuliaan kepada seseorang yang suka memaafkan (HR Muslim).Tak perlu menunggu permintaan maaf, tetapi maafkan sebelum ia datang memintanya.Apa yang akan terjadi ketika Nabi SAW membalas setiap penghinaan yang dialaminya? Nyatanya, beliau telah memberikan teladan yang baik bagi umatnya agar bersikap baik kepada orang yang berlaku buruk, hingga Allah pun memujinya (QS 33:21, 68:4).

Ketiga, bagi orang yang mengira bahwa meminta-minta akan menjadikannya kaya, justru sebaliknya akan menambah miskin dan susah. Sebab, ia telah mengingkari karunia Ilahi dan tidak menggunakannya untuk berusaha dengan baik.Islam mendorong umatnya agar kerja keras mencari nafkah yang halal, walau harus dengan mencari kayu bakar (HR Ahmad).

Allah SWT pun mewajibkan orang kaya menolong orang miskin yang tidak meminta-minta karena menjaga kehormatannya (QS 51: 19).Saat ini, selain pengemis berkeliaran, juga makin banyak orang yang pura-pura miskin atau orang kaya bermental pengemis hingga tega mengambil hak orang lain.

Dua karakter pertama merupakan akhlak terpuji yang harus ditanamkan kepada anak-anak kita agar tumbuh menjadi pribadi dermawan dan mudah memaafkan.Jangan sampai mereka berkarakter yang ketiga, yakni pribadi yang lemah dan hidup dalam belas kasihan orang lain (QS 4:9, 9:54).Nabi SAW berpesan agar kita menjadi orang yang bertangan di atas, bukan di bawah (HR Muslim). Allahu a’lam bish- shawab.

OLEH DR HASAN BASRI TANJUNG

REPUBLIKA

Inilah Keutamaan Berderma Pada Bulan Ramadhan (Bagian 3)

Lanjutan dari Inilah Keutamaan Berderma Pada Bulan Ramadhan (Bagian 2)

 

Dalam riwayat lain disebutkan, “Ada seseorang meminta kambing antara dua gunung kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau memberikannya, lalu orang itu mendatangi kaumnya dan berkata, “Wahai kaum, masuk Islamlah kalian karena Muhammad itu memberi dengan pemberian yang banyak tanpa khawatir melarat.

Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu mengatakan, “Jika seseorang bersedia masuk Islam tanpa menginginkan selain dunia, maka tidaklah masuk waktu sore, kecuali Islam lebih ia cintai daripada dunia dan apa yang ada lebih besar daripadanya.” (HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Shafwan bin Umaiyah Radhiyallahu Anhu, ia mengatakan,

وَاللهِ لَقَدْ أَعْطَانِى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَعْطَانِيْ وَإِنَّهُ لأَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيَّ فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إِنَّهُ لأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ

Demi Allah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberiku apa saja yang beliau berikan, dan sungguh beliau adalah orang yang paling aku benci, tetapi beliau terus-menerus memberi aku hingga beliau menjadi orang yang paling aku cintai.(HR. Muslim)

Ibnu Syihab Az-Zuhri mengatakan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallammemberikan seratus ekor unta kepada Shafwan bin Umaiyah ketika perang Hunain, kemudian diberi seratus ekor lagi, lalu seratus ekor lagi.”

Dalam kitab Al-Maghazi karya Al-Waqidi disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kepada Shafwan bin Umaiyah pada hari itu, unta dan ternak yang memenuhi satu lembah, maka Shafwan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada yang bisa melakukan ini dengan suka hati selain seorang Nabi.”

Setelah membaca banyak hadits di atas, sudah sepantasnya bagi kita yang sedang berada di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini untuk memperbanyak sedekah dalam makna umum maupun khusus.

Apabila seseorang telah terbiasa berderma di bulan Ramadhan ini dengan niat ikhlas karena Allah, maka Insya Allah pada bulan-bulan berikutnya dia akan mudah untuk berderma.

Sebagian tulisan ini dikutip dari kitab Latha’if Al-Ma’arif Fima Lil Mawasim Min Wazha`ifkarya Ibnu Rajab. Semoga bermanfaat. Aamiin.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]